My Movements Trip.

Selasa, 05 Februari 2013

Lamunan, Big Match & Teh Hangat.


di tulis, Malam-3Februari2013

Lamunan

Aku kembali mulai berfikir dan berangan, seandainya aku menjadi seorang pemain bola, atau kini sedang menekuni dunia artistic, atau sedang menjadi seorang atlit tae kwon do yang sedang berlatih di penghujung malam, mempersiapkan fisik dan mental demi merengkuh medali tingkat provinsi ataupun nasional.

Kembali, angan-angan itu kembali menghampiriku, mengalihkan semua jadwal harian yang sudah kusiapkan untuk segera kuselesaikan. 

Big Match

Akhirnya, malam ini aku memutuskan untuk menonton pertandingan Barcelona lawan Valencia; salah satu big match di liga BBVA-nya Spanyol, walau tidak semenarik El-Clasico yang baru berlangsung empat hari yang lalu, namun pertandingan ini sedikit menarik perhatianku yang sedang berangan dan berandai tentang masa lalu. 

sedikit mengganti kebiasaan, aku memilih sebuah Kafe yang lain dari biasanya, sedikit masuk ke daerah Babul Futuh dan meninggalkan Kafe favorit di daerah Kawakib. Setelah memesan  pesanan teh hangat, aku kembali mulai berangan; menghayal tentang kemungkinan-kemungkinan masa depan yang bisa saja ku pilih ketika aku masih duduk di bangku ‘aliyah.

Sesekali lamunanku buyar lalu terfokus ke arah layar televisi, “Messi sudah di depan gawang!” batinku sambil menunggu sontekan keras yang akan mengoyak jala lawan, posisiku sudah siap berdiri demi merayakan goal Messi dari kafe itu, namun sayang, bola yang ditendang menghantam barisan pertahanan lawan lalu terpental ke tengah lapangan dan bola kembali dipermainkan, aku kembali tenang, dan fikiranku kembali terbang.

Kakiku yang mulai merasakan kedinginan terus ku gerak-gerakkan. Sebenarnya malam ini masih bagian dari musim dingin yang menyelimuti Kota Kairo dan sekitarnya, dan kini sudah terhitung tiga bulan aku merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang jika tubuh ini terkena cipratan air, atau hembusan angin di daerah terbuka. dan sungguh tak normal jika malam-malam begini kau berjalan keluar rumah hanya dengan beralaskan sandal tanpa dilapisi kaos kaki tebal, namun aku melakukan hal gila itu dengan terpaksa, ya terpaksa, karena kaos kakiku hilang tatkala mempersiapkan dekor tempat acara untuk pernikahan Faqih dan Salsabila, seniorku di jami’ah Al-Azhar Al-Qahiroh.

Teh hangat

Terlepas dari kemalanganku dan tingginya tensi pertandingan yang sedang aku tonton, aku memilih menikmati seruputan teh hangat yang sudah kupesan sejak awal tadi sambil kembali menemukan kenyataan bahwa; sekarang aku adalah seorang Mahasiswa Al-Azhar, tingkat dua Fakultas Syari’ah Islamiyah, dengan taroqum kenajahan yang sangat pas-pasan -yang entah orang-orang di Indonesia sering menyebut apa, namun kami disini hanya menyebutnya dalam kalimat; Mumtaz, Jayyid atau Jayyid Jiddan.

Yah, kembali aku menemukan kenyataan bahwasannya kelak saat tua nanti aku tidak akan disebut sebagai pensiunan Pesepakbola, atau Atlit Tae Kwon Do, dan entah bagaimana aku membayangkan kehidupanku di usia yang tidak berenergi itu lagi. Jika tanpa ilmu yang ada di dalam kepala ini ataupun keyakinan yang ada di dalam dada ini, akan jadi apa lagi ku nanti?

Teh yang dari tadi sengaja kusisakan setengah di atas meja mulai terasa dingin saat kusentuh kembali.  Begitu pula pertandingan yang sudah memasuki menit-menit akhir kini berjalan sedikit monoton dan mulai terasa kurang menarik, skor yang masih bertahan imbang hingga detik ini mulai menyertai jalan fikiranku yang juga ingin menyederhanakan sebuah lamunan yang tidak kutemui ujungnya itu.

Akhirnya kupastikan teh yang sudah dingin itu habis dalam tegukan ketigaku, bersamaan dengan peluit tanda selesainya pertandingan yang sedang ku tonton, aku mulai melangkahkan kakiku, namun aku masih bimbang dengan akhir lamunanku, aku masih terombang-ambing.

Hingga akhir hurufku ini, aku masih bingung untuk menyelesaikannya dengan kalimat apa?, semoga saja pertanyaan ini bisa mengakhiri malam dan obrolan kita. Semoga.


Shubuh, EmpatFebruari 2013

Senin, 04 Februari 2013

Fiennha

“emm,, rama kan?” tiba-tiba saja suara merdu itu menyebut namaku, aku yang dari tadi melamun menatap keluar lewat jendela  mobil Autobus dengan penasaran mencari sumber suara itu, ku dapati sesosok wanita yang wajahnya sudah tidak asing bagiku, ia memiliki mata yang indah seperti gemerlapan bintang di malam hari, wajahnya yang terlihat memerah di hadapanku mengingatkanku tentang pesona merah  mentari tatkala tenggelam di ufuk barat, begitu pula senyumnya yang menyerupai potongan rembulan yang menerangi malam membuatku merasa beruntung pernah bertemu dengannya.

Wanita yang duduk disampingku namanya Finha, tidak ada perubahan yang menonjol sejak aku bertemu dengannya pertama kali, dari sikapnya yang selalu berusaha tampil tenang hingga gaya berpakainnya yang tampil menawan. 

*****

Ketika itu, aku sedang melakukan kunjungan mingguan ke Perpustakaan Mahasiswa Indonesia di daerah Rab’ah, aku yang waktu itu terlalu bersemangat mencari buku di setiap rak yang ada tiba-tiba tak sengaja menyenggol dia, ya wanita yang memiliki setengah potongan rembulan di wajahnya itu, sehingga tumpukan buku yang sedang ia bawa di tangannya jatuh berhamburan.

Seketika aku menjadi gugup, dan berusaha langsung memungut buku-buku yang jatuh dari tangannya
“maaf ya dik.” Ucapku penuh sesal setelah menyerahkan buku-buku tersebut.

“emm, iya ngga’ apa-apa ko’ ka’, tadi aku lihat juga kaka’ lagi terburu-buru . aku aja yang kurang waspada pas kaka’ membalikkan badan.”balasnya dengan lembut, tak ada nada menyindir dalam kalimatnya.

Lalu aku lihat, seorang wanita yang baru datang menghampiri kami, aku rasa ia melihat kejadian ini dan ingin cepat menolong namun buku-buku sudah selesai kami susun kembali.

“oh iya mas, kenalin namaku ririn, maafin kelakuan si finha ya mas, dia memang sering gugup kalo ketemu cowok ganteng.” Celoteh wanita yang mengaku namanya ririn itu.

Si finha yang baru aku ketahui namanya itu hanya bisa cemberut ke ririn, lalu sambil pamit meminta izin dariku  untuk kembali melakukan pekerjaannya, mereka pergi meninggalkanku yang masih berdiri kaku di depan rak-rak buku, aku hanya bisa bernapas lega setelah mereka menjauh.

“untung mereka tidak terlalu memperhatikan reaksiku tadi, haduh dasar..siapa tadi namanya.. finha, bahkan cemberutmu bikin gugup jantungku saja” batinku sambil senyum-senyum ke setiap buku yang sedang aku pilih untuk ku jadikan refrensi tugas organisasi.

Akhirnya buku yang kubutuhkan kutemukan, sambil mencari-cari loket penjaga perpustakaan aku membolak-balik isi buku itu, memastikan bahwa data mahasiswa yang ada di buku ini lengkap sehingga aku tak perlu kembali lagi untuk yang kedua kalinya hanya untuk mencari buku refrensi yang sama.

Sesampai di loket peminjaman buku, aku tak sengaja melihat data mahasiswi yang bernama lengkap “fina fini amanda”, yang mengingatkaknu kembali pada peritiwa barusan.

“jangan-jangan ini si Finha yang tadi..” ucapku lirih sambil terus memperhatikan data mahasiswi yang ada ditanganku ini, tanpa foto, alamat, dan nomor telepon, Aku jadi penasaran.

“ada yang bisa dibantu mas?” tiba-tiba saja penjaga loket peminjaman buku di perpustakaan ini bertanya kepadaku, mungkin karena melihat aku berdiri kebingungan di depannya dan sudah ada dua orang yang berdiri di belakakngku menunggu antrian untuk meminjam buku.

“mas, tadi akhwat yang bernama Finha dimana ya?” tanyaku cepat takut membuat gerah antrian yang sudah ada di belakangku ini.

“Akhwat yang memakai jilbab hijau cerah ya?”

“emm, iya”

“oh tadi sudah keluar mas, barusan aja.” Jawab si penjaga sambil menunjukkan jari telunjuknya kea rah pintu keluar.

“oh gitu ya mas, kalo gitu aku minjem buku ini aja deh.” Sambil menyodorkan buku dan catatan kecil bukti peminjaman khusus dan dengan cepat aku keluar dari perpustakaan mengejar Finha yang kurasa sudah jauh meninggalkanku.

*****

Aku sedikit berlari sambil memanggul harapan bisa bertemu dengan Si Finha, entah rasa rindu atau penasaran yang memaksaku agar lekas menghampirinya, namun aku dengan tegas memastikan di hati ini bahwa aku mengejarnya hanya untuk bertanya tentang data kemahasiswaan yang belum lengkap di catatan buku ini, dan membuang jauh-jauh perasaan yang lainnya.

“itu dia.” Ucapku bersemangat tatkala melihat siluet jilbab hijau yang ia kenakan di penghujung jalan.
“Finha, lagi nunggu bus untuk pulang ya?” sapaku sambil bertanya ketika aku sudah sampai tepat di belakangnya.

Finha yang baru menoleh, terlihat kaget tatkala ia melihat wajahku, tersirat sedikit rasa gugup di mukanya, dan Ririn yang berdiri tepat disamping finha ikut menoleh ke arahku.

“eh, kamu.. siapa nama kamu tadi?” Tanya Ririn memecahkan kebisuan setelah melihat Finha yang aku sapa dari tadi terlihat gugup diam seribu bahasa.

“rama.” Ucapku singkat sambil menyembunyikan nafasku yang tersengal-sengal takut ketahuan jika aku mengejar mereka.

“ada apa rama?” Tanya Ririn langsung.

“emm, ini, ada yang ingin saya tanyakan ke Finha.” Jawabku sedikit grogi.

“oh, tuh Finh, ada yang mau ngasih bunga mawar ke kamu.” Goda Ririn pada kami berdua. Lalu ia langsung mengalihkan pandangan ke jalan raya, sembari melihat-lihat kalau ada bis yang mereka tunggu  sudah datang.
Finha yang makin grogi setelah di goda Ririn tiba-tiba langsung berbicara.

“iya nih, lagi nunggu bus untuk pulang.”

Aku seketika terdiam dan Ririn yang sudah menolehkan wajahnya terlihat menyembunyikan tawa di samping Finha. Finha yang dari tadi sudah memerah wajahnya kini makin menunduk, aku yang tidak ingin Finha makin tambah malu langsung menyodorkan buku referensi yang barusan aku pinjam.

 “Finha, kamu mahasiswa baru marhalah 2012 kan? Di data mahasiswa baru ini informasimu belum lengkap jadi..” belum selesai aku menjelaskan tiba-tiba Ririn menarik lengan Finha.

“ayo Finh, bus-nya udah datang. Oh iya rama, sampai jumpa lagi ya.” Ucap Ririn kepada kami berdua seirama dengan langkahnya yang menaiki tangga bus.

Finha yang dari tadi di tarik-tarik oleh Ririn akhirnya ikut naik ke dalam bus, terlihat di wajahnya kebingungan yang sangat dan keinginan untuk mengucapkan sesuatu kepadaku.

Bus mulai jalan perlahan-lahan dan mulai membuat jarak yang sangat lebar antara kami berdua, namun masih terlihat Finha ingin menyampaikan sesuatu kepadaku dengan isyarat gelengan kepalanya yang sampai saat itu tak kumnegerti apa maksudnya.

*****

Kini Finha duduk tepat di sebelahku di atas bus bernomor 65 jurusan Sayyidah ‘Aisyah, aku tidak bisa menyembunyikan keherananku tatkala ia menyapaku, sudah lebih dari dua bulansejak peristiwa itu kita belum pernah bertemu .

“mm, aku bukan fina yang waktu itu kamu maksud lho..” finha mulai menjelaskan kepadaku isyarat gelengan kepalanya waktu perpisahan kami dulu.

Dan aku hanya merespon dengan anggukan kepala, karena sehari setelah kejadian itu, aku langsung meng’crosscheck informasi yang kurang dari buku mahasiswa yang kupinjam tersebut, Dan kenyataan pahit yang kutemukan adalah foto dari nama yang terlampir bukanlah Finha yang kini duduk di sebelahku. 

“aku dulunya sekolah di pondok gontor, jawa timur. Dan sekarang Alhamdulillah sudah tingkat tiga, oh iya aku minta doa’nya ya semoga aku bisa cepat selesai.” Ungkap Finha panjang lebar.

Aku mengamininya dan dia juga berterima kasih atas do’aku, aku juga menjelaskan keselahanku tentang siapa fina yang ada di buku waktu itu, dia hanya bisa tertawa kecil setelah mendengar penjelasan dariku.
Seketika suasana sedikit mencair saat aku mendengar tawa kecilnya, obrolanpun berlanjut seputar kita, hingga ia bertanya tentang kuliahku, aku pun menjawab dengan malu-malu, sadar bahwa aku masih adik kelasnya.

“wah, aku baru tingkat dua finh, tadinya aku kira kamu yang jadi adik kelasku..”

“ahaha... aku juga kira kamu kaka’ kelas aku lho.” Komentar Finha.

“eh, rupanya kita ini saudara ya..” lanjut Finha “sama-sama dari nabi adam.”

“ahaha, iyalah finh, satu saudara yang diikat dengan tali ukhuwah juga.” Balasku.

“wah, jawaban anda tepat sekali, mau dikasih hadiah apa nih?” yang tadinya hanya bercanda kini Finha mulai menawarkan hadiah.

Sebenarnya dari tadi aku memperhatikan finha, tatkala ia menunduk, menoleh, bahkan saat tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan jilbab. Juga ketika wajahnya yang kian memerah setiap kali mata kami saling bertatapan membuat hatiku terombang-ambing tidak karuan.

Dan saat ia menawarkan hadiahnya kepadaku sebenarnya aku ingin memintanya menyimak sajak-sajak cinta yang tiba-tiba saja tercipta setiap kali aku memandangi senyumnya.

“bener nih ada hadiahnya?, kalo gitu aku minta senyum ananda aja deh.. “ pintaku

Tiba-tiba terdengar suara dengkuran keras dari bangku depanku, ternyata ada seorang kakek berkebangsaan mesir sedang tidur dengan nyenyaknya di tengah hari begini, aku dan finha pun tergelak, geleng-geleng tidak habis pikir tentang kelakuan kakek ini.

Mata kamipun tiba-tiba saling bertatapan, lalu kami terdiam dan saling memalingkan wajah. Suasana kembali hening, hanya bunyi klakson mobil di sekitar kami yang terdengar.

 Finha mengeluarkan secarika kertas dan pulpen, lalu menggambar emotikon senyuman sebanyak tiga kali lalu menyerahkannya padaku.

“ini hadiahmu yang tadi, aku tambah 3x lipat.” Ucap Finha sambil menyerahkan kertas yang sudah ia gambar.
Ia masih memalingkan wajahnya dariku, begitu pula aku ketika menerima hadiah darinya, namun aku merasakan getaran-getaran halus di ujung kertas yang ia serahkan padaku.

Kami masih saling memalingkan wajah,aku menatap keluar jendela sedangkan ia menunduk sibuk memperhatikan catatan-catatannya yang sempat ia keluarkan untuk menggambar emotikon senyum yang ia buat untukku.

Bus sudah melewati kuliyah Al-Azhar yang terletak di daerah Hay Sadis, seketika aku tersadar, bahwa pemberhentianku sebentar lagi dan aku juga sadar bahwa mungkin ini akan menjadi perpisahanku dengan Finha yang entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya.

Aku pun meminta izin pada Finha untk keluar dari tempat dudukku, Finha terlihat kaget dengan permintaanku namun ia tetap memberikan jalan untukku tanpa banyak bertanya dan setelah aku bisa berdiri di tengah koridor bus, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa memang dari tadi tidak ada mahasiswa Indonesia di dalam bus ini yang memperhatikan kami sehingga aku bisa leluasa mengucapkan sesuatu kepada Finha.

“finh.. aku turun duluan ya, aku ada janji dengan temanku di ma’rad. Oh iya, karena entah kapan lagi kita bisa bertemu..” aku berhenti untuk mendramatisir suasana “ aku punya kata-kata mutiara untukmu.”

“apa?”

“ Cinta itu rahasia Allah, misteri bagi semua hamba-Nya..”  ucapku sambil nyengir menahan malu yang tak kepalang.

Finha yang mendengar kata-kataku terlihat shock dan langsung berkomentar.

“kayaknya habis dari ma’rad kamu harus periksa ke dokter cinta deh..”

“kenapa?” tanyaku.

“soalnya kamu kaya ada gejala kena virus merah jambu gitu, habisnya ngomong ke aku tentang cinta-cintaan sih..hihi..” jawabnya sambil tertawa kecil.

Aku hanya bisa geleng-geleng mendengar komentarnya.

“oke, silahkan jalan, hati-hati ya, kapan-kapan disambung lagi” sambung Finha.

“InsyaAllah Finh, apa sih yang engga’ untuk mendapatkan hadiah senyummu lagi..?” godaku.

Tiba-tiba Finha kembali menggambar emotikon cinta di buku catatannya.

“nih, bonus untuk kamu Rama, gratis..” ucap Finha sambil menyerahkan gambarnya kepadaku. Kembali kurasakan getaran halus di ujung kertas yang ia berikan.

Di moment-moment terakhir itu kami saling membalas senyum, dan tiba-tiba mobil berhenti di bawah jembatan yang menandakan perpisahanku dengannya, tanpa nama lengkap, tanpa alamat rumah, dan tanpa nomor telpon. Yang bagiku tak ada cara untuk mempertemukanku dengan dirinya melainkan takdir tuhan. Aku pun turun dari bus yang memisahkan aku dengannya.

Bahkan di tengah kencangnya angin musim dingin di siang itu, aku tak takut untuk membuka mataku selebar-lebarnya untuk memperhatikan kepergian bus yang membawa Finha pergi dari sisiku tanpa takut kelilipan debu-debu yang ada di sekitar jembatan, karena aku sadar, bahwa mata ini kini sudah buta oleh kilauan cinta yang menerpaku sejak aku duduk berdua dengannya.

Tanpa sadar aku sudah berdiri setengah jam di tempat itu, memperhatikan jalan yang dilewati bus yang tadi aku naiki bersama Finha. Dan setelah memastikan bahwa gambar yang ia serahkan kepadaku memang benar-benar nyata, kini aku kembali menunggu takdir yang akan mempertemukanku dengannya lagi.


Malam di QosrEl-Chok, EmpatFebruari2013.
Cerpen pertamaku sejak tantangan satu tahun yang lalu... :)) ahha. selamat menikmati.


Minggu, 03 Februari 2013

Februari dua ribu tiga belas ku.

Malam kawan, hari ini saya sudah mulai merasakan detak-detak kehidupan dalam aktivitas harianku, setelah sekian minggu terlena dengan suasana liburan yang entah bagaimana saya bisa menggambarkannya; begadang sampai shubuh, jadwal makan berantakan dan terkadang saya hanya makan beberapa kotak ruz bil laban saja, sering melamun, dan masih banyak hal ngga’ jelas yang saya lakukan selama melewati masa-masa liburan ini.

Mungkin bisa disebut dengan ‘terlalu kaget’, yah, setelah sekitar dua bulan saya bergrilya membaca buku diktat kuliah, menerjemahkanya, dan ikut bimbingan belajar lalu merangkum, menghafal juga mengejar setoran al-qur’an lima kali dalam seminggu; yang dimana saya lakukan semua itu dengan benar-benar memaksa batas kemampuan dan keinginan saya. Dan Alhamdulillah, saya masih bisa menjalaninya walau sering bolong-bolong.. ahahaha

dan ketika ujian telah usai, saya mendapati suasana dimana badan saya bisa rehat seharian penuh, karena hitungan waktu masih menyisakan lima bulan lagi untuk memulai ujian termin dua di kuliah Al-Azhar ini. 

setelah menghadapi gempuran-gempuran soal ujian ketika itu, niat awal memang hanya ingin mengambil rehat dua sampai tiga hari untuk kembali ke kondisi prima; kembali memulai setoran al-qur’an dan menyibukkan diri dengan buku bacaan. Namun apa daya, rupanya akal sehat saya dua minggu belakang ini jeblok, otak saya terlalu alergi dengan aktivitas-aktivitas yang berorientasi berfikir jauh kedepan, tubuh saya hanya ingin ingin tidur, duduk, keluyuran, main ps dan begadang.

Dan yang paling saya syukuri adalah saya memiliki teman-teman yang bisa menerima saya dalam kondisi  saya kala itu.


Februari dan tahun dua ribu tiga belas.

Saya ingin menyebut awal februari ini dengan tahun baru dua ribu tiga belasku, karena di awal februari ini saya baru kembali menemukan semangat yang sempat menghilang dalam kabut-kabut kemalasan pasca liburan datang.

Secara teori memang saat ujian termin satu berlangsung (selesai tanggal 14 januari 2013), tahun dua ribu tiga belas ini sudah masuk hitungan kalender yang baru, tapi kala itu suasana imtihan masih mengatakan bahwa “hari ini masih dalam tahun 2012.”, 

dan begitulah saya mengatakan pada diri saya sendiri, bahwa tahun baru yang saya miliki adalah ketika saya kembali menemukan semangat baru untuk terus berkembang ke arah yang lebih mengharu biru.

Ujian termin satu, semester tiga di Al-Azhar bagiku hanyalah salah satu fase tahunan yang sudah kumulai sejak bulan oktober yang lalu, dan tidak lain adalah satu dari sekian banyak fase yang telah kulewati. Termasuk fase yang telah kumulai ini, telah menjadi tahapan yang nyata yang harus aku jalani, mungkin aku akan menatap fase-fase yang telah kulewati namun itu sudah bukan pikiranku lagi, begitu pula fase yang akan kuhadapi nanti.

Dan fase februari di tahun 2013 ini adalah sebuah tahapan yang nyata, tahapan yang akan kujalani hingga akhir bulan juli mendatang, entah tulisan apa yang akan ku tulis dalam kertas putih di tahapan ini; namun yang pastinya, harapan-harapan akan sebuah tinta kebiakanlah yang ingin ku ulas, ku coret, dan ku gambar di dalamnya hingga Allah ridho aku menjadi hambaNya dan memasuki janah-Nya.

Cinta dan perjuangan

Rasanya tak afdhol bagi saya jika tidak menulis tentang sajak-sajak romantika yang ‘katanya’ tiada ujungnya ini, berbicara tentang hidup selalu terasa hampa jika cinta tidak menghiasi di setiap dimensi langkahnya.

Anggap saja malam tanpa bulan, atau pagi tanpa sapaan sang mentari, begitu hambar dan terasa hampa jika cinta tak mengiringi kehidupan kita, kata-kata menjadi kaku, dan mulut menjadi kelu, dan selalu begitu.

Mozaik cinta yang selama ini mendampingi wajah yang selalu menyimpan duka dan nestapa, kini kembali mencari; letak kotak Pandora yang menyimpan jawaban tentang tragedy cinta sang pujangga.

Ia berkelana dari satu negri ke negri yang lainya berharap tentang kabar kedatangan kekasihnya di negeri yang ia tapaki, namun nihil, tiupan-tiupan angin hanya mengantarkan debu-debu yang kian lama kian menumpuk di dahi dan saku sang pujangga, menahannya untuk kembali pergi alih-alih hanya berdiri atau berjalan mencari informasi untuk kembali.

Ia tertahan dan tak bisa kembali, dipaksa menikmati dunianya yang baru, dibalik tumpukan permata dan permadani yang menggunung dan hujan berlian yang tiada henti-hentinya bisa ia simpan dalam saku celana dan bajunya. Namun tidak di dalam hatinya, yang konon katanya, Tuhan telah sengaja memberikan ruang untuk sang kekasih yang selama ini ia nantikan kehadirannya.

Dan kini yang bisa ia lakukan hanya berjuang, berjuang dan berjuang menimbun harta dan permata-permata itu sembari menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan sang kekasih yang selama ini Tuhan janjikan padanya.

DuaFebruari2013

Rabu, 31 Oktober 2012

Akhirnya terkapar juga..

Yah, akhirnya badan saya ambruk juga. Kurang lebih dua minggu saya berkutat dengan aktivitas yang lumayan padat. Terhitung dari tanggal sepuluh oktober saya menulis jadwal sekunder yang harus disertai jadwal aktifitas primer. 

Mulai dari jadwal jilsah, kuliah dan “Sekolah Menulis Sinai” yang ketiganya menjadi prioritas, lalu dibarengi dengan jadwal sekunder, semacam talaqqi di masjid Azhar, berkunjung ke perpustakaan mahasiswa Indonesia dan olah raga di central Zahra bareng ikhwah-ikhwah yang ada di mesir, semuanya berjalan lancar sampai-sampai uang bulanan yang biasanya nyisa diakhir bulan harus habis di tengah jalan gara-gara terpakai untuk bayar ongkos bus yang udah mulai ga’ bersahabat dengan mahasiswa.

Sedikit informasi, saat ini saya tinggal di daerah hussain, dekat dengan masjid Al-Azhar, dan harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh untuk bisa ikut beraktifitas dalam dinamika yang ada di masisir. Sedangkan pusat aktifitas di sini terdapat didaerah ‘asyir. :P

By the way, saya mulai sering pulang malam karena disibukkan beberapa agenda, mulai dari rapat panitia acara “ORMABA anak-anak ISLAH yang baru datang” hingga berlangsungnya acara, terkadang saya harus ngorbanin waktu kuliah buat nyiapin ni acara. Cape, pegel, yah namanya juga amanah.

Belum selesai  acara ormaba,, eh, tiba-tiba dapet amanah buat ikut serta ngadain acara Open House, rapat lagi.. rapat lagi.. bukan Cuma satu, tapi TIGA acara Open House di tempat yang berbeda. Yah, berhubung saat itu udah mau Idhul Adha, dan ini udah lazhim di kalangan Masisir. “agar silaturrahmi makin erat dan tetap terjaga.” Begtu mereka berkeyakinan.

Jika esok hari saya ga’ ada kerjaan di daerah a’asyir, saya lebih memilih pulang malam ke daerah hussain dari pada harus pulang ketika pagi hari, jika dihitung-hitung, saya bisa tidur sampai jam delapan diatas kasur yang empuk dari pada harus berdesak-desakan dengan para mahasiswa di bus 80 coret. Mungkin karena terlalu sering terkena angin malam tubuh saya perlahan mulai terasa lelah.
Beruntung saya memiliki sahabat-sahabat uniq yang tinggal di daerah musallas, terkadang setelah nunggu bus malem-malem dan tak kunjung datang bus-nya, saya hanya bisa pasrah dan kembali ke rumah mereka. Walau terkadang saya sering cari-cari alasan untuk nginep disana, mengulang tawa, ejek-ejekan, ng’gosip, nonton film atau main PES 2011 juga PES 2012 dan yang sekarang PES 2013. Yah seperti dulu ketika masih di pondok, ga’ jauh beda kalo udah ngumpul sama mereka.. ahaha.

Ah, akhirnya semua amanah itu selesai juga, seperti perkiraan saya, saya akan ambruk setelah acara-acara itu selesai, beruntung acara-acara tersebut berjalan ketika kuliah lagi libur, walau beberapa jadwal kuliah sebelumnya terpaksa saya tinggalkan gara-gara harus ikut rapat.

Dan seandainya setelah ini semua saya memiliki waktu luang untuk kembali focus belajar, saya akan sangat senag untuk mendapatkan waktu luang tersebut. Namun, terkadang amanah-amanah baru sering bermunculan, karena seandainya saya hanya hidup untuk diri sendiri, tentu memiliki waktu luang adalah hal yang mudah, akan tetapi bukankah kita semestinya hidup untuk orang lain juga??, sebagaimana kita telah hidup dan bisa terus berjalan menapaki puncak prestasi berkat pengorbanan orang lain juga.

Sungguh berkesan nasihat ustadz saya ketika saya mengeluh kepadanya tentang begitu banyak amanah yang saya pikul, beliau berkata “Amanah itu bukan untuk ditolak, dan jika kamu harus meluangkan waktu utnuk menjalankan amanah tersebut bukan waktu belajar yang kamu korbankan akan tetapi waktu tidurmulah yang harus kamu kurangi.”

Di  lain kesempatan senior saya yang lain yang sudah berpengalaman di dunia organisasi memberi nasihat kepada saya tatkala kita harus berhadapan dengan amanah yang terkadang tidak bisa kita jalani atau tatkala kita jalani akan  berdampak buruk bagi kita, “berani katakana ‘TIDAK’.” Nasihat beliau. Dan Alhamdulillah,, semua nasihat itu selalu menginspirasi saya di setiap langkah yang hendak saya tapaki.

Tolong do’anya ya agar saya bisa kembali beraktifitas di negeri seribu menara ini.. salam.. :)