My Movements Trip.

Rabu, 15 Januari 2014

Gagal Move ON

Ada  sebuah sayatan luka di hati ini yang tak pernah disembuhkan oleh aliran waktu, rindu. Sebagian orang berkata bahwa obat rindu adalah meninggalkan masa lalu, tapi bagiku melupakannya tidak segampang itu.

Lalu orang-orang akan berkata, “hal seperti itu butuh waktu.” Namun tetap, ia tak pernah lepas dari pikiranku. Jika Setiap hati mempunyai pemiliknya, maka hati ini sudah terdaftar atas namanya. Dan diantara sekian ratus juta manusia, akulah satu orang yang jatuh merana dibuatnya.

Bahasa cinta bagiku sangat sederhana, ‘suka’, yup cukup itu saja, karena aku sudah tak bisa memikirkan kata yang lebih indah dari namanya, atau senyum yang lebih menggoda selain miliknya, ataupun kata yang lebih bijak melainkan kata-katanya, dan semua itu bermula saat cinta sudah menjadi sangat sederhana dibuatnya.

Sangat.. sangat.. sederhana, sehingga aku tak tau apa kabarmu disana?

Selasa, 14 Januari 2014

Pahatan Motivasi: Setengah jalan.

Fyuuh, alhamdulillah, selesai juga.

Selepas beres-beres tuk persiapan liburan, akhirnya aku bisa menuliskan beberapa momen-momen indah semasa ujian termin satu ini, namun dalam coretan ini, aku ingin meringkas beberapa kutipan motivasi yang berhasil aku pahat di dinding kamarku.

Motivasi bagiku adalah sebuah rekan perjuangan, ia menjelma bagaikan tangan-tangan yang menarik tubuh ini saat ia sering kali tersungkur di jurang kemalasan. Layak untuk diingat bahwa manusia merupakan makhluk social, khilaf sering terjadi, lupa adalah keniscayaan, walau bisa memiliki impian yang jauh tinggi menjulang, namun semua hal itu dibatasi dalam sebuah bentuk dan ruang, kadar kekuatan dan jumlah waktu yang seharinya dua puluh empat jam.

Jika tubuh manusia memiliki batasan gerak maksimal, maka seperti itu pulalah otak-nya bekerja, dan tatkala tubuh membutuhkan asupan gizi untuk menjaga kadar kekuatan, maka gizi-gizi dalam bentuk lain juga dibutuhkan oleh otak kita, maka kata-kata motivasi adalah salah satunya.

Namun masalah selera, setiap orang memiliki cita-rasa yang berbeda-beda, entah itu dalam segi asupan kepada tubuh atau pikiran. Namun sebagai mana yang telah disebutkan dari awal paragraph, saat ini aku hanya ingin menunjukkan motivasi-motivasi yang  berhasil kusalin dalam bentuk tulisan sebelum pahatan-pahatan itu berhasil kuratakan dari dinding kamarku.

Pahatan Pertama:
Mulai tidur jam 11.00 (malam)
Menjauhi mengkonsumsi makanan berat sejak jam 09.00 (malam)
Jaga tubuh agar tetap sehat

Tiga poin yang berbentuk peringatan ini mulai kupahat sejak awal oktober, atau sekita tiga bulan sebelum ujian dilangsungkan. Kesibukan di markaz nil, SINAI, kuliah dan sekaligus Having Fun memaksaku harus tetap fit.

Pahatan Kedua:
Bersungguh-sungguhlah ini tahun terakhirmu*
Sukses & Berprestasilah!

Sengaja kuberi tanda bintang diakhir paragraph, karena siapa tahu pada tahun depan aku sudah punya gandengan yang bisa kupanggil ‘ibu’ untuk calon anak-anakku.. ahahha
Siapa tahu..

Pahatan Ketiga:
What Don’t Kill You Makes You More Strong

Sebuah potongan lirik lagu yang diucapakan oleh Mike Shinoda dalam lagu yang berjudul  ‘A Light that Never Comes’ ini, memiliki makna yang sama dengan ucapan Presiden PKS, Ust. Anis Matta dalam salah satu kalimat motivasinya kepada kami, “Pukulan yang tidak membuatmu mati, menjadikan kamu lebih kuat.”

Pahatan Keempat:
Barang siapa yang tidak mampu bertahan dari lelahnya belajar, maka ia akan menderita karena kebodohan seumur hidupnya.

kata ini berhasil kupahat tepat diatas kata ‘What Don’t Kill You Makes You More Strong’-nya Mike Shinoda, sebuah ucapan hikmah dari Imam Sayfi’I ini menjadi motivasi yang mampu menambal semangat dan kepercayaan diriku yang mulai pudar di lima belas hari terakhir menjelang ujian.

Pahatan Kelima:
Bertahanlah lebih lama,
Lihatlah lebih focus,
& Berfikir lebih cerdas.
Maka badai akan terlewati & kesempatan untuk menang akan lebih besar.

meskipun dikerjakan pada waktu yang bersamaan dengan pahatan keempat, ukuran font kali ini jauh lebih besar, disebabkan tujuan dipahatnya kata-kata ini adalah agar saya selalu ingat metode belajar yang harus saya jalani untuk musim dingin ini.

Pahatan Keenam:
Kita memang tidak bisa memastikan kapan kemenangan itu akan datang, kapan bencana ini akan berakhir,
Akan tetapi kita bisa memastikan; bahwa perjuangan ini tidak akan pernah selesai hingga tuhan memutuskan suatu ketetapan,
"ليحق الحق و يبطل البطل ولو كره المجرمون"

Kata-kata ini berhasil kupahat satu hari sebelum ujian pertama dimulai, sebagai respon terhadap tragedy-tragedi yang terus berlangsung di mesir selama enam bulan paska-kudeta, dan dukunganku kepada mereka-mereka yang terus berjuang melawan kebathilan, sekaligus penyemangat bagi diri ini agar tidak pernah putus asa dari janji-janji Allah Swt.

Bukankah enam bulan atau bahkan satu tahun kedepan (bahkan 30 tahun lagi seperti masa Mubarak kalau memungkinakan) sejak dimulainya kudeta masih dalam kategori ‘sangat sebentar’, dibanding kemenangan-kemenangan dan keagungan yang kelak akan mereka raih?

Maka dari itu, teori ‘Bahwa Kemenangan Allah Begitu Dekat’ adalah teori yang sangat riil dan logis, karena nikmat menghapus penat dan keringat. Maka seperti itu pulalah keyakinan yang mesti kita yakini selama masa ujian ini.


"Jika surga sudah di depan mata, dan kemtian adalah tebusannya, memilih-nya pun tidak perlu dihitung sampai tiga."
Shubuh di Husain, 14 Januari 201(Rabiah). selepas imtihan term. 1

Sampah di Negeri Gonjang-ganjing

Malam ini ingin kulepas penat setelah 3 jam lamanya aku menjawab soal-soal ujian yang ternyata diluar perkiraanku, rasa sesak di kepala setelah mencoba berputar-putar mencari jawaban tak lagi tertahankan.

Tugas masak kuselesaikan, salat Isya tak ketinggalan, maka segera kutarik selimut mencoba untuk tidur-tiduran sebelum tidur beneran. Pikiranku pun terbang, melayang, memikirkan apa saja yang telah kulakukan sejak pagi menjelang. Kudapati sebuah kata dari seorang temanku sebelum masuk ruang ujian, “Tadi di Madrasah ada demo, dan juga ada suara tembakan.” Begitulah yang kuingat dari potongan-potongan memori obrolan tadi siang. Aku pun penasaran, namun temanku yang lain berkata, “udah ngga’ perlu dibahas, bentar lagi ujian.” Aku pun diam membenarkan.



Walau waktu masih terlalu siang untuk dikatakan tidur malam, Kudapati diriku dibalik selimut ini masih mencoba memejamkan mata, berharap rasa kantuk itu benar-benar nyata, namun tidak, kebiasaanku mampir ke warung internet selepas ujian membawa pikiran ini melayang lebih jauh.

Demonstrasi-demonstarsi yang berlangsung selama 6 bulan ini membuatku mulai terbiasa dengan kata-kata itu, aku bukan orang munafik yang mengatakan bahwasannya aku tidak terganggu dengan kondisi ini, tentu sebagian besar aktivitasku benar-benar terganggu akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini.

Empat bulan lamanya sejak akhir bulan juli aku terpaksa harus bulak-balik daerah Darrasah-Sabi’ untuk mengikuti kelas bahasa di Markaz Nil, dan lebih sering menggunakan tramco yang ongkosnya dua kali lipat dari bus-bus merah milik pemerintah, bahkan untuk pulang aku harus mengeluarkan ongkos empat kali lipat jika tidak ingin menunggu lebih lama.

Namun bukan pada masalah ongkos pikiranku pada malam ini tertuju, kawan.

Ternyata ada satu hal yang tidak aku ketahui setelah dua hari I Say No to Internet ini berlangsung, bahwasannya hari ini Sang Presiden Pemberani di Negeri penuh Gonjang-ganjing akan segera di adili. Sang Presiden Pemberani ini memiliki pengikut yang setia, siap mati dan siap diBully, terbukti saat penculikannya dari Istana sejak 3 Juli lalu jalan-jalan dipenuhi oleh para demonstran yang menuntut hak mereka untuk segera dikembalikan.



Kau tau kawan, hak itu adalah hak memiliki seorang presiden yang mereka pilih secara ‘Adil dan Bersih’.

Maka tak salah jika negeri ini dikatakan negeri yang dipenuhi sampah, selain kau dapat menemukan sampah di setiap pojok-pojok jalan atau rumah-rumah sewaan, kau juga akan menemukan bahwa suara dan hak pilih mereka termarginalkan di kotak-kotak sampah dan pembuangan. Jika hak-hak sudah terpinggirkan dan tak lagi diacuhkan, lalu apalagi gunanya pemilu-pemilu yang akan datang jika kaum islamis kembali menang??? Ditendang?

Ternyata, rasa takut membuatku mataku menolak untuk terpejam.
Ya, rasa takut itu timbul setelah aku menyadari bahwa teman-teman mahasiswaku mulai mirip seperti sampah di banding batangan emas yang masih bagus tersimpan.

Setelah kata kiyasan yang kusebutkan tadi, Jujur, sangat lama aku memikirkan untuk meneruskan kata-kata ini atau tidak, hati ini serasa tertusuk-tusuk, apakah masih pantas orang yang diam terhadap pembantaian di Mesir, Suriah, dan Palestina dikiyaskan seperti tadi?, ketika musim dingin ini berlangsung dan para pengungsi di perkemahan Yarmuk sana banyak yang mati. Oke, belum.
                                                                       
Tapi jika orang-orang yang diam itu mengatakan, “para demonstran (di Negeri Gonjang-ganjing) itu tembak mati aja siih.”* Aku kiyaskan dengan kata-kata tadi?. Ya, sebuah kata yang menggambarkan kekerdilan dan kehinaan yang menyandangnya. Aku rasa cukup untuk bisa dikatakan seperti itu.

Karena ketika kehormatan dan peran islam dicabik-cabik di Dustur Para Perampok Negeri Gonjang-ganjing ini, mereka diam dan mundur tak lagi mau memperhatikan, sama halnya ketika waktu-waktu pembantaian menjelang 17 Agustusan pada tahun silam (tepatnya 14 Agustus 2013, di Medan Rabi’ah Al-Adaweyah).

Lagi-lagi sebelum malam menjadi kelam, aku memutuskan untuk menyampaikan apa yang dari tadi aku risihkan. Karena dibalik selimutku yang hangat, mengalir sedu-sedan wanita-wanita yang kedinginan, dan anak-anak yang kelaparan di pojok kamp Yarmuk di negeri seberang.

Di samping rasa nyaman juga aku mendengar suara gemertak gigi para pejuang Gaza, siang maupun malam mereka berjaga-jaga, ditengah blockade dan tuduhan teroris se-dunia.

Akhirnya pada ketikan-ketikan tuts keyboard inilah kusampaikan kepada kalian keprihatinanku akan permasalahan yang sedang terjadi di dunia Islam, di dua negeri konflik Palestina & Suria yang sedang dilanda musim dingin dan susahnya pasokan pangan, hingga ada diantara pengungsi yang mati kelaparan, dan juga kejamnya pemerintahan Para Perampok Negeri Gonjang-ganjing terhadap para demonstran.

Karena Islam begitu menghargai sebuah nyawa, tolong jangan lagi mengatakan, “Bunuhi saja para demonstran.”

Meskipun anda tidak lagi peduli terhadap permasalahan umat ini, meskipun anda langsung pulang ke Indonesia setelah meraih Lc., meskipun anda tidak lagi mengimani bahwa ‘sesama muslim adalah saudara’ dan juga ‘sesungguhnya orang beriman itu sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain’.

Setidaknya jangan remehkan sebuah nyawa.

----
“jika penuntut ilmu sudah tidak lagi menyukai sebuah kebenaran, lalu buat apa ia susah-susah datang ke pengajian?.”
Husain, 8 Januari 201(Rob’ah)

Jangan bilang hanya agar dapet Lc., atau bergelar Azhari..

Jumat, 20 September 2013

'Mimpi Langit' pada Hitam-Kuning R4BIA.



Sebuah tangan dengan empat jari, yang melambangkan perjuangan Rakyat  Mesir di Medan Rab’ah itu memiliki dua warna dasar; Kuning dan hitam. Setiap warna itu memiliki makna tersendiri, sebagaimana telah dijelaskan oleh kedua Perancang lambang R4BIA, Shalihah Irene dan Cihad Dulles.

“Warna kuning menunjuk kepada kota Al-Quds di Palestina, sedangkan warna hitam menunjuk kepada Ka’bah di Mekah-Saudi Arabia.”  Tutur mereka berdua. Cihad menjelaskan lebih dalam bahwa warna hitam menyatukan antara Ka’bah dengan kesedihan. Dan tentang warna kuning, Irene mengatakan bahwa warna itu sudah dilihatnya selama bertahun-tahun. Saat itu matahari sangat terik berada di atas masjid Kubah Shahrah di Al-Quds. Setiap kali umat Islam melakukan perlawanan terhadap kekejaman, aku selalu teringat dengan kuatnya warna kuning di masjid Kubah itu.AnnidaOnline

--------------------------------

“Mengagumkan” batinku, ditengah penindasan yang dilakukan junta militer, dan persengkongkolan Raja-raja Saudi terhadap mereka, namun pandangan mereka masih tegak ke arahMasjid Al-Aqsha, juga ke Baitullah. Mimpi mereka masih tinggi, menjulang melewati tembok-tembok pembatas Yahudi yang ada di Rafah, lebih kuat dari tank-tank yang haus darah, juga tak kalah tajam dari peluru yang mengincar orang-orang yang tak bersalah.

Siapakah ‘mereka-mereka’ itu?, mereka adalah orang-orang yang bertahan di Medan Rab’ah dan Bundaran Nahdah, bahkan sebelum Kudeta itu dilakukan, dilanjutkan dalam rentang waktu dua bulan setelah Mursi dijatuhkan. Mereka melakukan Shalat disana, tidur, Qiyamullail, bahkan Shoum di Bulan Ramadhan. “Kami adalah orang-orang yang siap mati mempertahankan Legimitasi Pemilu yang sah.” Begitulah Mimpi-mimpi itu terucap dari mulut-mulut mereka. Kebenaran yang mereka pertahankan, adalah kebebasan yang mereka yakini sejak tumbangnya Rezim Diktator 25 Januari Silam.

 
Image; Google.


‘Mimpi Langit’, jika boleh kunamakan demikian, mimpi yang melampaui kenyataan yang sedang terlentang didepan mata. sebagaimana mimpi yang dirasakan para Sahabat Nabi terkait terbukanya Bumi Syam, Persia dan Yaman dalam lingkup da’wah umat islam, padahal ketika itu mereka dihadapi dengan Pertempuran Khandak, sebuah pertempuran yang menentukan, karena jika mereka gagal, otomatis Kota Madinah-basis dan pusat perjuangan mereka akan dibumi ratakan.

Juga karena mimpi-mimpi ini datangnya dari langit, maka ‘tidak akan pernah’, ya tidak akan pernah orang yang meyakini hal ini disebut bodoh dan tak berakal, kecuali mereka-mereka sendirilah yang terlalu dungu dan sombong untuk tidak mengakui bahwa janji Allah itu adalah benar!.

Bukan, bukan karena aku merasa pintar, jenius dan sebagainya, namun ini hanyalah pelajaran yang bisa kita ambil tentang ‘Mimpi-mimpi Langit’ yang telah lalu. Sebagaimana Allah Swt telah memberikan kita nikmat berupa akal, maka menggunakannya dengan sebaik mungkin adalah bentuk syukur atasnya.

Diakui atau tidak, wawasan serta kadar ilmu seseorang mempengaruhi pandangan orang tersebut dalam menilai sesuatu.

Saya, anda, teman-teman terdekat kita bahkan seorang professor sekalipun seringkali melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan itu adalah yang bertaubat. Maka untuk mengakhiri kalimat ini, saya memohon maaf jika ada kesalahan kata, data, serta kelancangan dalam berucap. (berusaha jadi orang baik itu; ‘baik’)

Dan untuk kalian para pemimpi dimanapun kalian berada, saya memiliki kalimat nasihat yang disampaikan oleh guru saya beberapa hari lalu;

“Hendaknya antum selalu berorientasi pada akhirat, karena akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”


Dan karena mimpi adalah sebuah ‘Orientasi’. sebuah pandangan, peninjauan, perhatian dan dasar pemikiran untuk menentukan langkah-langkah kedepan. Maka mari kita berharap bahwa nasihat itu bisa bernas dalam diri kita. Allahumma Amin.


Dipenghujung belaian udara shubuh.
Musallas, 21 September 2013.

Jumat, 13 September 2013

Gerah.

aku sedang gerah. ya gerah,, ketika guru-guruku terciprat kalimat-kalimat yang tak pantas mengenai diri mereka.

apapun kondisinya, aku adalah seorang murid. maka guruku berhak mendapat tutur kata dan prilaku yang baik pula dariku, sejauh apapun perbedaan pendapat yang kami pegang, karena posisi diantara kami adalah antara guru dan murid, antara sesama muslim, dan antara manusia yang sama-sama memiliki hati.

aku tak ingin para musuh-musuh itu tertawa melihat olokan-olokan kami terhadap ulama-ulama kami. jika ada yang salah, cukup katakan itu salah.

ya Allah tunujukkanlah yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah yang salah itu salah dan bantulah kami untuk menjauhinya. amin.

Brontosaurus Menulis



Menulis

Musim panas, dan sekelumit waktu-waktu yang terbuang dengan percuma. ya percuma, jika tolak ukurnya adalah kerja, kerja dan kerja. Atau belajar, belajar, dan belajar. Tapi entah kenapa kebiasaan lama menjalar begitu saja, menjadi nonton, nonton, dan nonton Sehingga tidak ada tempat untuk kata 'kerja' dan 'belajar' disana.

Dalam tulisan ini penulis sangat menyesalkan atas kemandekan yang terjadi terhadap blog ini, tentu banyak teori dan alasan yang bisa penulis paparkan kepada pembaca terkait hal tersebut, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membela diri.

Bagaimana kalau kita langsung meloncat ke ucapan Lebaran yang sangat kadaluarsa untuk disampaikan, atau rasa prihatin terhadap rentetan tragedy berdarah yang terjadi di negeri para nabi. Memang,  kerinduan akan kampung halaman yang bertumpuk tiga tahun disertai kebencian atas segala kedzoliman membuat lidah ini kelu, betapa tidak, karena untuk menghapus kedua perasaan itu kita membutuhkan satu rasa yang lain, rasa sabar. Dan saya lihat orang-orang sabar itu sering membisu, mukanya kaku dan matanya, oh matanya, indah bagi mereka yang memiliki mata yang indah, kalau jelek sih jelek aja, ngga ada yang berubah.. :P

Lalu bagaimana aku bisa kembali menulis? Simpel, aku hanya perlu menaruh jari-jariku yang kasar diatas tuts keyboard sambil membuka program MS Word. hal yang tak pernah kembali kulakukan sejak kebisuan melanda mulut, jiwa, dan pikiran-ku. Jadi, untuk beberapa hari kedepan kita bisa mencoba mengganti salah satu kata dari kebiasaan lama itu dengan menulis, mungkin bisa diucapkan seperti ini; nonton, nonton, dan menulis!

Oke, Mohon maaf lahir dan batin, semoga amalan ibadah puasa kita diterima Oleh-Nya dan juga untuk kebaikan Mesir; semoga Allah Swt memberikan kemenangan kepada orang-orang yang berjihad untuk kebaikan agamnya serta melaknat orang-orang dzolim.

Lionel Messi

Oh ayolah, mungkin bukan dalam tulisan ini saya akan bercerita. Kagum? Tentu, sama hal-nya ketika aku memandang foto Presiden Moursi yang dipegang para demonstran, hanya saja kekaguman ini dalam aspek berbeda dan memberikan pelajaran dari sudut yang berbeda pula. Yah, mungkin lain kali. Karena diperlukan beberapa kejutan lagi dari atas lapangan hijau untuk terus mengagumi keteguhan dan keseriusan dari laki-laki mungil tersebut, dimana kata ‘sihir’ sering di komparasikan dengan tindak-tanduknya ketika menggiring si kulit bundar.

Cinta Brontosaurus
  
Tentu bagi yang mengenal Raditya Dika, kata tersebut tidak asing, selain telah diterbitkan dalam bentuk buku, kini judul tersebut sudah tayang dalam dunia perfilman Indonesia. Selain masih muda, ia punya sentuhan yang berbeda dibanding penulis-penulis muda yang lain. Bahkan sentuhan tersebut mampu ia tampilkan dalam film yang ia garap. Muda dan berbakat, begitulah orang-orang seperti dia dipuji.

Dan jika seseorang menonton film dari pagi sampai pagi lagi bisa disebut gila, maka sebutlah kebiasaan saya ini dengan sebuah ‘kegilaan’. memang bukan terus-terusan tanpa diselingi dengan hal yang lainnya, namun setelah seharian menonton film, lalu dilanjutkan dengan penantian livestream sepak bola hingga shubuh, maka hal itu sudah saya sebut dengan menonton ‘dari pagi sampai pagi’.

Katakanlah ‘Tidak Produktif’ kalau memang perlu, toh akhirnya film ‘Cinta Brontosaurus’-lah yang kembali menyadarkanku. Dan hal-hal seperti inilah yang terkadang membuatku tersenyum-bingung, bagaimana tidak, untuk kembali menulis saja harus ‘menonton’ film seperti ini. Maka dimana ‘Lionel Messi’ dan ‘Pak Moursi’?

Diakui atau tidak, gairah perjuangan yang dilakukan Kelompok Islamis di Mesir mampu menimbulkan begitu banyak ide inspiratif untuk ditulis, begitu pula kesenanganku dalam melihat aksi-aksi para olahragawan di atas rumput hijau. Namun munculnya ide dengan menyegerakan untuk menulis itu adalah suatu hal yang berbeda. Dan setiap saya memikirkan tentang perbedaan ini, saya selalu ingat dengan nasihat Ka’ Rois; “segera Tulis!.” Perintah dia, namun sekali lagi; itu tetaplah hal yang berbeda, dan bagaimanapun hal itu, aku tidak bisa menjelaskannya disini.

Thanks Radit, entah kenapa gw lebih suka ngeliat karya lo dibanding muka lo, ups.



 Qosr El-Suq, 13 September 2013.

Senin, 08 Juli 2013

Jadilah Orang yang Menyadari Bentuk Sebuah Pengorbanan

Banyak orang yang meyadari bahwa, "kesuksesan itu butuh sebuah pengorbanan."

Tapi sayangnya, hanya sedikit orang yang bisa menyadari bentuk pengorbanan itu, dan mereka yang belum menyadari terus bertanya; "ngapain sih lo cape-cape demo, berlelah-lelah lari kesana-kemari, panas-panasan dijalan? sampe pasrah banget tubuhmu jadi sarang muntahan peluru-peluru yang bisu itu, dari kepalamu mengalir cairan kental, mulutmu mengering, tatapanmu merabun, wajahmu.. oh iya wajahmu.. sudah tak bisa kukenali lagi, menghitam karena asap-asap yang terus kau lawan ditengah pembakaran mayat-mayat para demonstran."

Padahal saat kesuksesan itu datang, dengan wajah penuh ceria ia menggandeng istri dan buah hatinya, menikmati suasana damai ditengah alun-alun kota sambil berkata "oh, ini toh yang namanya perjuangan."

Ya, sering kali kita hidup diatas pengorbanan orang lain, sedangkan orang-orang yang berkorban itu hidup diatas cita-cita mereka. sungguh mulia.. ya sungguh mulia, dan itulah kenapa pahlawan itu akan selalu ada, selalu eksis mengisi lorong-lorong kehidupan yang terus membentang hingga masa tua anak-cucu kita, hingga kubur kita tertutup oleh tumpukan mayat mereka, hingga mayat-mayat itu menuntut balas atas jasa-jasa mereka.

Dan sedikit fakta yang menarik, "kesuksesan yang menentramkan jiwa" adalah hasil dari perjuangan kita melawan antek-antek kebathilan, dimana kebathilan-kebathilan itu bisa berbentuk; kemalasan saat belajar, ketakutan dikala mengatakan kebenaran, kemunafikan ditengah-tengah dua pertarungan, kedengkian ketika teman lebih baik dari dirinya saat berjuang, dan kediktatoran (tirani) dimana semua orang ingin menghirup udara kebebasan.






Man Haraki
Mutsalats, 8 Juali 2013.