My Movements Trip.
Selasa, 05 Juli 2016
Senin, 04 Juli 2016
Kau ingat "Janji" itu kawan?
"Lembaga ini bubar?" Tanyaku bernada mengejek.
Sedikit geram, aku berkata di depan muka bang Aril, "Saya janji bakal lanjut S2 di sini. Dan saya yang bertanggungjawab agar Lembaga ini tetap aktif."
Pak Direktur, bersama Muhajir ketika itu kau menyaksikan kata-kataku bukan? Yap, di tengah tensi diskusi yang tak menemukan jalan temu, janji itu pun terucap.
Dipikirkan? Sepertinya.
Pembahasan itu sudah berlarut, dan mengerucut pada satu titik, "Siapa yang siap melanjutkan estafet nanti?"
Saat itu akhir bulan November, tahun 2014.
kita semua sedang mempersiapkan ujian.
Informasi yang kita terima valid.
tapi entah kenapa, menjadi Dua konklusi yang berbeda.
menetap, atau pergi.
Perintah saat itu pergi.Penilaianku sama, sekarang atau nanti, kita pasti akan pergi. Maka aku memilih bersegera, langsung setelah perintah itu datang. Terutama waktu itu kita sudah mendekati fase ujian. Tidak mungkin kita harus merugi dalam dua hal sekaligus bukan?
Menetap adalah pilihan idealis. Pemberani.
Tapi berani dalam posisi yang salah, aku artikan sebagai kebodohan.
Maaf, kata-kataku terlalu kasar.
Setelah janji itu, tak ada diskusi lagi.
Kita artikan sebagai peraetujuan.
dan momen paling romantis di mulai sejak itu.
Tiga hari kita menyusun buku yang ada di ruang tamu sekertariat. Awalnya aku tidak peduli buku-buku itu dimasukkan kardus sembarangan. Tapi akhirnya aku setuju dengan usulmu. toh, kamu satu-satunya kawan yang ikut. Lalu semua buku dikategorikan menurut pemilik, arsip dan file lembaga, pembahasan Palestina, serta judul umum lainnya.
Berdebu! Yup, ini adalah buku warisan, bahkan sebelum kang Habiburrohman el-Shirazy ikut nyempil di markaz kita. Hhe
Tiga hari kita mengkategorikan, menyusun, membersihkan, dan memasukkan satu-persatu buku itu ke dalam kardus. Lalu kita beri nama; punya ustadz ini, punya abang ini, Palestina, Kajian, dsb. sehabis pulang kuliah sampai malam. Namun sekali saya bolos karena udah deadline ketika itu.
Hanya berdua.
Dua Puluh Lima kardus. Kita saling pandang dan senyum. Bagaimana caranya kita menyelamatkan buku-buku ini? Mengangkat dari lantai 6? Ditaruh rumah siapa?
Lalu Satu tahun lebih berlalu.
Kau dengan terpaksa menjadi Direktur, berkorban untuk kebaikanku.
Saya yang berjanji, saya pula yang mengingkari.
Dengan alasan yang sama kuusampaikan kepada adikku, Yusuf.
"Kakak akan lanjut S2, kamu aja yang jadi ketua. InsyaAllah bakal saya support antum dari belakang. "
Lalu ingkar lagi.
Saya benar-benar pasif kontribusi pada kalian.
Kawan, kini aku makin merasa bersalah karena tidak bisa belajar dengan baik. Pesimis, tak ada semangat untuk sukses. Apa mungkin aku akan berkata hal yang sama tahun depan? Kembali ingkar janji?
Di Bpa Ppmi aku juga merasakan hal yang sama. Bahkan lebih buruk.
Saya sungguh meminta maaf.
Semoga pada kesempatan lain, pada kesempatan aku bekerja bersama kalian lagi, aku bisa lebih banyak membantu. Semoga.
Wallahu musta'an. Semoga Allah Swt selalu membantu usaha kita.
***
Hhe. Senyum dulu ah,
*nyengir kuda
Senin, 4 Juli 2016.
Kairo.
Sedikit geram, aku berkata di depan muka bang Aril, "Saya janji bakal lanjut S2 di sini. Dan saya yang bertanggungjawab agar Lembaga ini tetap aktif."
Pak Direktur, bersama Muhajir ketika itu kau menyaksikan kata-kataku bukan? Yap, di tengah tensi diskusi yang tak menemukan jalan temu, janji itu pun terucap.
Dipikirkan? Sepertinya.
Pembahasan itu sudah berlarut, dan mengerucut pada satu titik, "Siapa yang siap melanjutkan estafet nanti?"
Saat itu akhir bulan November, tahun 2014.
kita semua sedang mempersiapkan ujian.
Informasi yang kita terima valid.
tapi entah kenapa, menjadi Dua konklusi yang berbeda.
menetap, atau pergi.
Perintah saat itu pergi.Penilaianku sama, sekarang atau nanti, kita pasti akan pergi. Maka aku memilih bersegera, langsung setelah perintah itu datang. Terutama waktu itu kita sudah mendekati fase ujian. Tidak mungkin kita harus merugi dalam dua hal sekaligus bukan?
Menetap adalah pilihan idealis. Pemberani.
Tapi berani dalam posisi yang salah, aku artikan sebagai kebodohan.
Maaf, kata-kataku terlalu kasar.
Setelah janji itu, tak ada diskusi lagi.
Kita artikan sebagai peraetujuan.
dan momen paling romantis di mulai sejak itu.
Tiga hari kita menyusun buku yang ada di ruang tamu sekertariat. Awalnya aku tidak peduli buku-buku itu dimasukkan kardus sembarangan. Tapi akhirnya aku setuju dengan usulmu. toh, kamu satu-satunya kawan yang ikut. Lalu semua buku dikategorikan menurut pemilik, arsip dan file lembaga, pembahasan Palestina, serta judul umum lainnya.
Berdebu! Yup, ini adalah buku warisan, bahkan sebelum kang Habiburrohman el-Shirazy ikut nyempil di markaz kita. Hhe
Tiga hari kita mengkategorikan, menyusun, membersihkan, dan memasukkan satu-persatu buku itu ke dalam kardus. Lalu kita beri nama; punya ustadz ini, punya abang ini, Palestina, Kajian, dsb. sehabis pulang kuliah sampai malam. Namun sekali saya bolos karena udah deadline ketika itu.
Hanya berdua.
Dua Puluh Lima kardus. Kita saling pandang dan senyum. Bagaimana caranya kita menyelamatkan buku-buku ini? Mengangkat dari lantai 6? Ditaruh rumah siapa?
Lalu Satu tahun lebih berlalu.
Kau dengan terpaksa menjadi Direktur, berkorban untuk kebaikanku.
Saya yang berjanji, saya pula yang mengingkari.
Dengan alasan yang sama kuusampaikan kepada adikku, Yusuf.
"Kakak akan lanjut S2, kamu aja yang jadi ketua. InsyaAllah bakal saya support antum dari belakang. "
Lalu ingkar lagi.
Saya benar-benar pasif kontribusi pada kalian.
Kawan, kini aku makin merasa bersalah karena tidak bisa belajar dengan baik. Pesimis, tak ada semangat untuk sukses. Apa mungkin aku akan berkata hal yang sama tahun depan? Kembali ingkar janji?
Di Bpa Ppmi aku juga merasakan hal yang sama. Bahkan lebih buruk.
Saya sungguh meminta maaf.
Semoga pada kesempatan lain, pada kesempatan aku bekerja bersama kalian lagi, aku bisa lebih banyak membantu. Semoga.
Wallahu musta'an. Semoga Allah Swt selalu membantu usaha kita.
***
Hhe. Senyum dulu ah,
*nyengir kuda
Senin, 4 Juli 2016.
Kairo.
Minggu, 03 Juli 2016
Sabtu, 02 Juli 2016
Alasan untuk Positif
Meninggalkan amanah, tidak peduli, pelit.
terlalu banyak hal negatif untuk ambisi kecil tahun ini, ya.
beberapa hari lagi ujian,
Bagaiamana persiapannya, Abduh?
Ah?!
***
Sore ini ada undangan sarasehan aktivis.
Seperti undangan lainnya, sudah kutolak.
Dan bertambahlah satu poin negatif.
Meski sudah diizinkan tidak ikut kegiatan apapun oleh Mr,
rasa bersalah itu tetap ada. Menjadi beban.
Wajar sih. Sudah masuk terlalu dalam.
Ini amanah, kawan.
A M A N A H
***
Ibu Pimpinan pasti sibuk banget sekarang.
Dari Empat rekan yang menemani, Tiga pergi.
Pada akhir masa jabatan, tugas menumpuk.
Dan aku adalah orang paling pertama yang meninggalkannya.
Bisa kau bayangkan,
"Laki-laki meninggalkan seorang wanita untuk mengerjakan tugasnya."
How shame I am?!
***
Lalu aku berharap menikahi seorang wanita salehah?
Yang anggun dengan jilbab kuning,
dan manis dengan sweeter merahnya.
Ya.
Meski saat ini ia sedang kesal setengah mati dan mengutuk namaku.
aku lebih senang ia begitu.
Bukankah diingat selalu lebih baik daripada dilupakan?
***
Lalu bagaimana dengan si Kecil Palestina?
Bukankah kuning keemasan kubah Al Aqsha adalah alasan utamamu memilih wanita salehah itu? Berjanji dengan para aktivis yang akan buka bersama sore ini?
***
Alhamdulillah, pada akhir tulisan saya menemukan kembali alasan-alasan penolakan tersebut. Meski publik tidak bisa menerima, setidaknya ini adalah keyakinan yang saya miliki.
Tentunya dalam zona "Diizinkan" oleh pihak terkait.
Memang sangat disayangkan, saya sangat buruk dalam belajar.
Semoga tahun depan bisa lebih baik, dan pundak sedikit lebih kuat.
Bertahap, kita akan memperjuangkan si Kecil.
***
Senang, keluarga di rumah mendukungku.
Energi positif mereka sangat kubuthkan.
Mr, teman satu lingkaran, kawan seperjuangan di kuliyah.
apa kamu mau menjadi bagian dari energi positif itu?
Ah, tak perlu.
dengan sikap kesalmu, jengkel sambil manyun sebel..
Bukankah itu selalu lebih baik daripada dilupakan?
***
Kairo,
Sabtu, 2 Juli 2016.
*Maaf, persiapan ujian saat ini benar2 kacau. aiihh hhe
terlalu banyak hal negatif untuk ambisi kecil tahun ini, ya.
beberapa hari lagi ujian,
Bagaiamana persiapannya, Abduh?
Ah?!
***
Sore ini ada undangan sarasehan aktivis.
Seperti undangan lainnya, sudah kutolak.
Dan bertambahlah satu poin negatif.
Meski sudah diizinkan tidak ikut kegiatan apapun oleh Mr,
rasa bersalah itu tetap ada. Menjadi beban.
Wajar sih. Sudah masuk terlalu dalam.
Ini amanah, kawan.
A M A N A H
***
Ibu Pimpinan pasti sibuk banget sekarang.
Dari Empat rekan yang menemani, Tiga pergi.
Pada akhir masa jabatan, tugas menumpuk.
Dan aku adalah orang paling pertama yang meninggalkannya.
Bisa kau bayangkan,
"Laki-laki meninggalkan seorang wanita untuk mengerjakan tugasnya."
How shame I am?!
***
Lalu aku berharap menikahi seorang wanita salehah?
Yang anggun dengan jilbab kuning,
dan manis dengan sweeter merahnya.
Ya.
Meski saat ini ia sedang kesal setengah mati dan mengutuk namaku.
aku lebih senang ia begitu.
Bukankah diingat selalu lebih baik daripada dilupakan?
***
Lalu bagaimana dengan si Kecil Palestina?
Bukankah kuning keemasan kubah Al Aqsha adalah alasan utamamu memilih wanita salehah itu? Berjanji dengan para aktivis yang akan buka bersama sore ini?
***
Alhamdulillah, pada akhir tulisan saya menemukan kembali alasan-alasan penolakan tersebut. Meski publik tidak bisa menerima, setidaknya ini adalah keyakinan yang saya miliki.
Tentunya dalam zona "Diizinkan" oleh pihak terkait.
Memang sangat disayangkan, saya sangat buruk dalam belajar.
Semoga tahun depan bisa lebih baik, dan pundak sedikit lebih kuat.
Bertahap, kita akan memperjuangkan si Kecil.
***
Senang, keluarga di rumah mendukungku.
Energi positif mereka sangat kubuthkan.
Mr, teman satu lingkaran, kawan seperjuangan di kuliyah.
apa kamu mau menjadi bagian dari energi positif itu?
Ah, tak perlu.
dengan sikap kesalmu, jengkel sambil manyun sebel..
Bukankah itu selalu lebih baik daripada dilupakan?
***
Kairo,
Sabtu, 2 Juli 2016.
*Maaf, persiapan ujian saat ini benar2 kacau. aiihh hhe
Jumat, 01 Juli 2016
Prasangka
Terkadang, aku menyangka orang lain suka memberikan pesan melalui status yang mereka buat, foto profil yang digunakan, senyum ketika bertemu, atau bahkan diam.
Hanya berani menyangka, tak lebih. Aku suka bertanya secara langsung, selain itu yang diajarkan oleh Islam, memang sudah menjadi tabiat umum bahwa prasangka selalu berbeda tergantung kondisi pelaku.
tiap orang memiliki informasi berbeda di kepala mereka. Baik itu sekedar wawasan, ilmu terapan, ataupun kebohongan yang ia anggap nyata.
Suka, bukan berarti aku akan bertanya terus kenapa kamu begini? Kenapa ia begitu? Karena tak semua hal mesti kita ketahui kebenarannya. Lebih tepatnya kita tak memiliki banyak waktu untuk itu.
Karena itulah, hukum ditegakkan berdasarkan apa yang nampak saja. Sedangkan hati, biarkan ia dan Tuhannya yang tau.
Saat ini saya merasa ditinggalkan. Kesempatan yang telah diharapkan dari dulu seolah hilang dari genggaman.
"Itu hanya prasangka." Begitu sisi lain dari hati ini terus meyakinkan.
ya, rasa dan sangkaan negatif itu selalu saja bermunculan. Takut yang berkepanjangan, sedih, marah, dan kecewa. Semua hal itu selalu meminta untuk ditabayun.
Kadang malu masih bersifat kekanak-kanakan seperti ini.
kadang? Ya, di sisi lain menjadi bodoh itu terasa ringan, tak ada beban.
***
Belajar dari senior, kawan-kawan, bahkan adik yang lebih muda dari ku.
"Baiklah. Itu semua hanya prasangka. Masa depan akan kutentukan oleh tanganku sendiri." Tekadku sambil menatap langit. Di sana ada Tuhan yang maha kuasa.
Diterima atau ditolak proposalnya, itu urusan setelah lamaran diajukan. Yah, saat ini beberapa kriteria harus segera dipenuhi bukan?
Hanya berani menyangka, tak lebih. Aku suka bertanya secara langsung, selain itu yang diajarkan oleh Islam, memang sudah menjadi tabiat umum bahwa prasangka selalu berbeda tergantung kondisi pelaku.
tiap orang memiliki informasi berbeda di kepala mereka. Baik itu sekedar wawasan, ilmu terapan, ataupun kebohongan yang ia anggap nyata.
Suka, bukan berarti aku akan bertanya terus kenapa kamu begini? Kenapa ia begitu? Karena tak semua hal mesti kita ketahui kebenarannya. Lebih tepatnya kita tak memiliki banyak waktu untuk itu.
Karena itulah, hukum ditegakkan berdasarkan apa yang nampak saja. Sedangkan hati, biarkan ia dan Tuhannya yang tau.
Saat ini saya merasa ditinggalkan. Kesempatan yang telah diharapkan dari dulu seolah hilang dari genggaman.
"Itu hanya prasangka." Begitu sisi lain dari hati ini terus meyakinkan.
ya, rasa dan sangkaan negatif itu selalu saja bermunculan. Takut yang berkepanjangan, sedih, marah, dan kecewa. Semua hal itu selalu meminta untuk ditabayun.
Kadang malu masih bersifat kekanak-kanakan seperti ini.
kadang? Ya, di sisi lain menjadi bodoh itu terasa ringan, tak ada beban.
***
Belajar dari senior, kawan-kawan, bahkan adik yang lebih muda dari ku.
"Baiklah. Itu semua hanya prasangka. Masa depan akan kutentukan oleh tanganku sendiri." Tekadku sambil menatap langit. Di sana ada Tuhan yang maha kuasa.
Diterima atau ditolak proposalnya, itu urusan setelah lamaran diajukan. Yah, saat ini beberapa kriteria harus segera dipenuhi bukan?
Kamis, 30 Juni 2016
Fokus fokus fokus!
Hari pertama muraja'ah Al Qur'an.
30 Juni 2016
*hei, Abduh.. fokus dong.
manyunnya tetep cantik ko'
30 Juni 2016
*hei, Abduh.. fokus dong.
manyunnya tetep cantik ko'
Selasa, 21 Juni 2016
No Pain, No Gain
15 Ramadhan dipaksa istirahat panjang. Well, intinya jangan terlalu berambisi sampai lupa memberikan hak dan melaksanakan kewajiban. Semoga hari ini bisa jadi pelajaran.
meskipun, terkadang kita harus terluka. Tapi bukan dengan melukai diri sendiri.
selasa, 21 Juni 2016.
*buku pertama yg di muraja'ah masih meminta haknya. :)
Yah, hari ujian semakin kencang berlari ke arahku.
meskipun, terkadang kita harus terluka. Tapi bukan dengan melukai diri sendiri.
selasa, 21 Juni 2016.
*buku pertama yg di muraja'ah masih meminta haknya. :)
Yah, hari ujian semakin kencang berlari ke arahku.
Langganan:
Postingan (Atom)

