My Movements Trip.

Kamis, 04 Februari 2016

Saya Punya Masalah

Namun ternyata, orang lain punya masalah yang lebih besar dari saya.

Terima kasih bang Dayat atas nasihat malam ini.
"Jadi, masalah kita apa sih? Baper?" begitu ia menyindirku.

23. Semoga lebih baik.

Selasa, 02 Februari 2016

Lari dari Tanggung Jawab

Rasanya malu banget, dan nggak tau muka ini harus ditaruh di mana.
Yang lebih parah, diri ini masih saja mencari pembenaran. Dan ngerasa bener lagi. hadeh..

Bukan Waktu yang Sebentar

Akhirnya gw sadar, Dua tahun bukan waktu yang sebentar dan mudah untuk dilewati. Untuk mengejar Sembilan Target itu; pikiran harus jernih, usaha maksimal, dan manajemen waktu sebaik mungkin.

Terkait pikiran jernih... harus di landasi dengan jiwa yang kuat dan jauh dari kegalauan. 
Si Do'i cantik, pintar dan berkarakter.. tapi masih belum punya kamu. 

Fokus ke target, bukan si Do'i. 

Sabtu, 30 Januari 2016

Bertahan

Pagi ini aku masih memegang bara api itu, sumber kehidupanku, harapanku. Perih. Panasnya membakar kulit jemari. Ingin rasanya kusisihkan sebentar, tapi lagi-lagi rasa takut membuang jauh pikiran itu.

Ya, Takut adalah salah satu anugrah Tuhan.

“Ampunan-Mu Ya Allah.. ampunan-Mu Ya Allah.”

***

Sebagai pemuda pada umumnya, aku juga memiliki banyak keinginan. Terkadang ingin segera merealisasikan semua itu pada satu waktu, namun beberapa target sering berdesak-desakan.

Do’a. kini aku menggantungkan harapan itu pada do’a. Harusnya, sebagai seorang muslim yang beriman, aku percaya Tuhan tak akan pernah menelantarkan hamba-hambanya. Sehingga tidak perlu ada rasa gundah, resah, dan gelisah yang mengganggu kita untuk segera mengejar target-target dunia maupun akhirat.

Ah, cinta… akupun mencintaimu karena kurasa; kaulah yang mampu membantuku untuk terus bersabar dengan Bara Api ini. Tapi begitulah, manusia hanya bisa merasa.
Namun jangan lupa, ia (Manusia) juga punya do’a.

Jika Bara Api ini terlepas sebentar saja lalu ia hilang dan  aku tersesat ditengah rimba dunia ini, sungguh itu adalah sebuah kerugian yang akan sangat kusesali. Meski perih dan panasnya membakar kulit jemari, biarlah…

Wahai orang-orang yang kucintai, Umi, abi, adik2, rekan, kawan, sahabat, dan kamu yang namanya ada di masa depanku,

“Terimakasih atas motivasinya, dan jangan pernah bosan mendo’akan saya yang cengeng ini, huhuehue.”

#BIGHUG #BeginToSmartMove

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

30 Januari 2016

Kamis, 07 Januari 2016

Aksara kita adalah "Diam."

Dear, Umi.

Sudah lama kita tidak saling bertemu, dan sepertinya memang harus begitu. Kau menaruh sebuah cita besar dipundakku, yang harus dibayar dengan tumpukan rindu.

Dan kini, akhirnya kata romantis tentang cinta bisa sama-sama kita aksarakan dengan satu perbuatan; “Diam.”  

Kau tau aku begitu cengeng, anak ingusan yang selalu menangis jika ditinggal olehmu. Maka sejak kecil bocah yang suka usil dan membuat abi tak pernah istirahat ini dititipkan di rumah Paman, dididik agar tau aturan.

Seingatku kau dilarang datang menjenguk, katanya sih agar bocah cengeng ini tak terus-terusan menangis di pelukan sang ibu. Aku yang biasa dimanjakan olehmu pun tak pernah lepas dari tangan besi paman, tak segan-segan ia menjewer telinga jika aku menunjukkan gejala nakal.

Tak tau, didikan itu berlangsung berapa lama, tapi setidaknya usahamu untuk merubah anak ingusan ini tak pernah berhenti di situ. beberapa kali kau coba masukkan aku ke pondok tahfidz, ide iseng Abi dan dua kawannya yang ingin anak-anaknya menjadi para penghafal al-Qur’an. Dua kawanku berhasil, aku tidak. Well, katanya sih karena aku terus-terusan menangis dan tak pernah berhenti melafalkan namamu.

“Umii.. umi..” lalu ada isakan kecil dan kembali kuucap, “Umi.. umi..”

Dan hal itu terus berulang sepanjang malam.

Hingga kini banyak yang tak berubah, namun waktu tetaplah berlalu. Meski aku sering bercerita kepada abi, tapi hanya nasihatmu yang kupatuhi. “jangan lupa minum air, beli buah. konsumsi susu.”

Hanya itu saja. Ya, bagimu aku tetaplah bocah yang selalu menangis dalam pelukan ibunya. Kita tak pernah berbicara tentang hal-hal dewasa; kapan menikah? calonnya siapa? Bagaimana persiapannya? Betul, hal-hal itu biar lah menjadi pembicaranku dengan laki-lakimu.

Aku tahu kau tak siap membicarakan hal itu bersamaku, sebagaimana aku juga tak siap melihat kemungkinanan perpisahan yang lebih lama denganmu.

Tahun lalu, kau berkenan memperpanjang masa penantian. Dan dalam Diam aku berjanji untuk pulang pada akhir tahun ini; dengan Kabar Baik ataupun Kabar Buruk hasil ujian S2 Azhar nanti. Lalu kembali aku akan menangis di pelukanmu. Tangis bahagia? atau tangis sedih? Hal itu bergantung dengan hasil target tahun ini.

Apa yang terjadi nanti masih Rahasia, tapi ia adalah masa depan yang akan menyambut kita.. mau ataupun tak mau. Dalam diam, sunyi, dan sepi kita beraksara tentang cinta. Juga cita sejak dulu kala. Dan aku bahagia, kau begitu percaya kepada bocah cengeng ini.

***

Yup, percayakan padaku untuk mempersiapkan beberapa kemungkinan nanti.

“Successful people realize they cannot control everything, and anticipate mistake. Plan for mistake, and you will deal with them rationally and efeciently as they arise.”


Madinat Zahra, 7 Januari 2015.

Selasa, 22 Desember 2015

Sayur Kuah Kuning

“Umi, abang pingin makan sayur.” Pintaku penuh manja kepadanya di setiap liburan musim panas saat SMA dulu.

Pagi, siang, malam. Setiap aku teringat kalimat sayur hijau, Aku akan memintanya segera. Biasanya wanita yang kusayangi  itu hanya menjawab dengan senyuman, lalu aku akan pergi bermain meninggalkannya yang sibuk mengerjakan beberapa urusan.

Sepulang dari main, biasanya aku akan menemukan semangkuk sayur hijau terhidang di atas meja makan, lengkap dengan sambal dan lauk-pauk. Meski badan kotor dan bau keringat, aku langsung menyosor meja makan. Meski tak jarang ibu mengingatkanku untuk cuci tangan.

Namun terkadang, saat pulang tak kudapati sayur di atas meja,

“Umi.. kok sayurnya belum jadi?” tanyaku sedih.

“Nanti umi buatin.”

“buatin ya, Mi??”

“Iya, nanti dibuatin.”

“hehe, makasih umi.”

Sambil nyengir kuda, aku langsung lari ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Atau kalau malas, langsung tidur-tiduran di atas kasur. Dan wanita yang selalu kusapa dengan panggilan Umi akan mengingatkanku dari ruang tempatnya bekerja,

“Abang kalau naik kasur, cuci kaki dulu.”


******

Umi, aku tak pernah lupa kata-katamu bahwa sayur tidak bagus kalau sudah lewat sehari. Mungkin karena itu aku selalu memintamu memasakkannya untukku setiap waktu.

Artinya, pada hari itu engkau ada di sisiku dan aku memakan sayur buatanmu. Tak ada jarak yang memisahkan kita yang perlu ditempuh berhari-hari. Di samping itu, aku juga bisa menikmati makan sepiring berdua dengan Abi. Biasanya ia akan mencampur kuah sayur dengan sambal buatanmu. Sayur bayam, sayur kangkung. Dan yang paling favorit adalah sayur kuah kuning dengan ikan teri.

Umi, hari ini adalah hari ibu.. dan abang kangen masakanmu. :’)


Selasa, 22 Desember 2015, di Kairo yang terlalu jauh untuk bisa kau kirim sayur hangat itu.

Jumat, 11 Desember 2015

Long time no see


Setahun lebih sudah aktivitas mingguan baca Manga Naruto berhenti. It’s been a long time without to not to see you, Naruto-Kun. Kadang ketika mengingat masa remaja dulu, Cuma bisa senyum-senyum. Kadang senyumnya manis, kadang kecut.

Okey. Yang manis adalah ketika inget waktu kongkow bareng sama anak-anak seni, pecinta manga, dan gamer waktu di pondok pesantren dulu. Dunia gw waktu itu gak jauh dari ketiga hal tadi. Suram? Nanti dulu, sekarang kita pingin cerita yang manis-manis aja.

Setiap hari jum’at, waktu lari pagi biasanya sempet nyelinep ke warnet, baca manga terupdate. Kadang kalau saya yang paling pertama baca, bakal langsung pamer ke kawan-kawan yang belum. Ngeliat muka mereka berubah penasaran menjadi kebanggan tersendiri ketika itu.

Ah, cerita di atas adalah ketika SMA dan sudah kenal dengan dunia internet. Kalau SMP, paling cepet sebulan sekali, bahkan satpam penjaga gerbang pun nggak pernah tau kalau saya pulang dari toko buku membawa setumpuk komik. Sesampai di kamar, hal paling menyenangkan nggak pernah berubah, pamer ke anak-anak.

Bisa dibilang, manga-manga Jepang semacam Naruto, One Piece, dan Rave adalah inspirasi gw waktu remaja dulu. Hampir tiap waktu dihabiskan buat ng’gambar, bikin komik, ngayal alur cerita dan berbagai macam hal yang berkaitan dengan kertas, pena, dan pensil warna.

Dalam beberapa kesempatan, hobi tersebut memberi kebanggan. Puncaknya adalah tawaran masuk salah satu fakultas di IPB tanpa test. Well, meski saya juga lupa sebab jasad ini akhirnya terdampar di salah satu fakultas Islam tertua di Kairo.

Kembali ke senyum-senyum saat inget masa remaja. Kecutnya adalah…

Setiap waktu sore main basket dan futsal di lapangan, sesekali saya melihat beberapa kawan menghabiskan waktu kosong mereka dengan menghafal qur’an di pojok-pojok masjid.

Beberapa kali latihan TaeKwonDo dilaksanakan di masjid Pondok. Latihan yang tak jarang berakhir ketika azan berkumandang membuatku sering melirik para santri yang sudah sibuk dengan buku dan dzikir petang mereka.

Waktu bidang kesenian ngerjain background acara, waktu cabut dari pondok buat ng’game sehari-semalam, waktu di mana malam-malam yang seharusnya digunakan untuk qiyam dan bermunajat selalu terlewat dengan hal yang tak bermanfaat.

Dan ketika pagi hari terlambat masuk kelas, dari pada ketawan guru pembina, kamipun sering berputar-putar mencari tempat persembunyian. Masjid paling favorit, namun di sana tempat anak-anak tahfidz. dari sanalah rasa penyesalan yang ada saat ini hadir.

Penyesalan selalu datang belakangan, dan kali ini berbuah senyum kecut.
Kecut? yah, tetap berusaha positif, bahagia dan terus evualuasi. Apalagi setelah ketemu orang-orang keren dengan situasi yang nggak kalah keren. jadi termotivasi euy.