My Movements Trip.

Rabu, 19 Agustus 2015

Aku Benci Menjadi Dewasa

Aku tidak suka menjadi dewasa, terlalu banyak beban dan terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Dan entah mengapa semua beban dan pikiran itu hadir bersamaan saat hafalan muraja’ah mulai kulantunkan. Ia hadir dengan mesra, membawa seikat bunga dan rayuan masa muda. Terkadang ia datang dengan ancaman, menggenggam palu dan parang yang diarahkan tepat ke mukaku.

“Ah, aku rindu suatu masa ketika hal yang paling menakutkan hanyalah PR Matematika,” ejaku pada sebuah poster yang bertebaran di social media.

“Itu adalah dunia masa kecil,” batinku.

Selain PR Matematika, hal yang tidak kusukai adalah orang yang memiliki sifat dewasa. Yah, bukan sekedar sifatnya yang kubenci; orang yang bersifat dewasa pun aku tidak suka.

“Ah, aku benci menjadi dewasa,” aku terus mengeluh.

Kenapa aku harus mengorbankan waktu luang untuk belajar dan bekerja? Kenapa memendam cinta begitu menyakitkan?

Dulu ketika suka dengan sebuah mainan aku akan berkata kepada ibuku,

“Ibu, belikan aku satu.” Atau kepada ayahku “Yah, pagi ini abang akan bermain bola dengan kawan. Bersihin motornya lain waktu aja ya.”

Namun sekarang, banyak yang harus dipendam. Maka dari itu, aku benci menjadi dewasa dan aku benci diriku yang bersikap dewasa.

Minggu, 16 Agustus 2015

MERDEKA! (aku ingin bebas dari rasa malas)

Waw.. besok sudah 17 Agustus-an aja, dan sudah berapa cerita yang belum kusampaikan padamu. Sempat kucuri malam di antara malam-malam Syawal untuk menapakkan kaki di tebing Bukit Sinai. Ataupun kembali menyelam di pinggir Pantai, diDahab aku memperhatikan ikan-ikan bersembunyi di balik terumbu karang. Hingga Rapat MPA-BPA PPMI yang benar-benar mengejutkanku.

Dua bulan ini aku juga menyibukkan diri pulang-pergi ke kantor administrasi kuliyah. Meminta dan mengajukan berkas di sana banyak menguras isi dompetku, bahkan di tengah bulan ini aku mulai dihantui dengan beberapa lembar uang yang mungkin akan habis dalam dua-tiga hari ke depan. Besarnya biaya pendidikan mulai mencekik daftar mewah makanan yang kubuat.

Ditambah cuaca panas yang selalu menyengat kulit coklatku, yang dulu berharap bisa seputih dan sekeren artis Korea, kini kulitku malah makin mirip pemain bola Afrika, Ahahahha. Keputusan untuk tidak keluar rumah pada saat-saat seperti ini harus aku klarifikasi, terlebih deadline pengurusan dokumen untuk melanjutkan jenjang akademis di Magister Al-Azhar sangat mepet. Alhasil.. tak ada waktu buat ngerawat kulit coklatku yang mulai kemerah-merahan.

MERDEKA!

Rasa malas belakangan ini benar-benar memenjarakan tubuhku dari segala aktivitas positif. Alih-alih menjadi insan yang produktif, akhirnya aku terkapar di lantai masjid mengais-ngais hembusan kipas angin. Hadeeeeh

MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!

Saya benar-benar harus bebas dari segala macam rasa putus asa, menjauhi maksiat, dan sabar dalam menapaki tangga-tangga kesuksesan. Tak ada yang namanya jalan pintas, ladang yang lebat dengan sayur-mayur bermula dengan menanam benih. Satu persatu lahan digarap, melawan penat, memaksakan lelah, tanpa bosan menjaganya siang dan malam.

MERDEKA!

Aah, rasa kantuk ini harus terus kulawan. Sebentar lagi imtihan Qobul (Ujian Masuk) Al-Azhar, mohon do’anya kawan.



____
Madinat Zahro, 16 Agustus 2015

Kamis, 06 Agustus 2015

Agustus: Diawali dengan Hiburan.

Hai Agustus, berapa momen kehidupan lagi yang akan kau berikan kepadaku? Senang rasanya kau begitu baik mengajakku menapaki tangga-tangga batu di Bukit Sinai. Engkau juga begitu spesial, belum hilang dari ingatan kenangan manis ber-Snorkling ria di Hurghada, tiba-tiba kau sudah menyeretku di lautan terumbu karang pantai Dahab sana.

Rihlah kali ini begitu surprise, entah berapa kali aku melamun tentang perjalanan ke tempat wisata seorang diri. Mojok, bertafakur, menikmati musik, dan masa bodo dengan suasana sekitar; Tingkah-laku yang akan dianggap aneh jika berjalan dengan kawan yang kita kenal.

Dan kini, aku benar-benar pergi seorang diri. Maksudku, tak banyak kawan yang kukenal di rombongan perjalanan kali ini. Berangkat dengan Keluarga Mahasiswa Jambi (KMJ) di Kairo, orang yang ku kenal dan tau nama bisa dihitung dengan jari. Toh, akhirnya kesempatan untuk melakukan hal-hal aneh itu bisa dijalankan. Meski akhirnya kami semua saling memperkenalkan diri di akhir perjalanan, dan itu membuatku merasa sangat malu.

****

Bei De Wei, Agustus 2015 baru aja mulai. Tapi setelah liat-liat agenda yang dia (Agsutus) bawa, aku jadi gusar. Ck ck.. meski diawali dengan hiburan, sepertinya aku tak akan melewatinya dengan canda-tawa.

Well, saya nggak akan anggep remeh Imtihan Qobul Al-Azhar tahun ini. Mengingat lima tahun yang lalu (saat imtihan qobul S1 Al-Azhar), benar-benar menyayat hatiku. Semoga kegagalan Lima tahun lalu tidak terulang di tahun ini, karena aku ingin benar-benar lulus. Mohon do'a dari kawan semua.

Selasa, 07 Juli 2015

Sebelum Kau (Ramadhan) Pergi Meninggalkanku

Akhirnya sampai juga di Sepuluh hari terakhir bersama-Mu, siapa sangka kita harus berpisah secepat ini. Meski aku malu tak bisa memaksimalkan momen langka ini, tapi aku berharap satu-dua kebiasaan baik saat melayani kehadiran-Mu bisa bertahan lama

Tanda Kau akan meninggalkanku, juga menjadi peringatan bahwa waktu tak pernah berhenti mengalir menunggu kita barang sejenak. Setelah ini adalah masa depan. Harus dijalani dengan baik. Tekanan mulai datang, gairah masa muda, cinta, cita-cita, juga asa. Namun semua itu kini tertumpuk di atas kasur empukku. Makin malu aku, karena rasa malas ini benar-benar meneror semua impian itu.

Ah, air mata ini mulai tergenang di selaput kedua bola mataku, mengingat masa-masa tanpa beban, menghabiskan waktu dengan tawa dan canda. Aku bertanya-tanya apa aku akan kehilangan momen-momen itu? Memang benar aku memilih jalan yang sulit, harga diri dan ego coba kupertaruhkan dalam satu-dua tahun ini. Tapi apa benar aku akan kehilangan momen-momen itu??

Ramahdan, pernah Kau dengar ‘katanya’ belajar ilmu agama tak ada harapan untuk berkarir. Selain zaman yang tak ingin mendengar nasihat Tuhan, orang baik sering dipinggirkan. Jika agama isinya adalah kebaikan, kemungkinan besar agamawan sudah tak lagi dibutuhkan.

Negeri tempatku berasal carut-marut, presidennya tak mau berpikir.

Negeri tempatku belajar carut-marut, presidennya tak berprikemanusiaan.

Lalu kenapa kita memilih belajar di Negara carut-marut, bertujuan untuk kembali mengabdi di Negara yang carut-marut pula?? Sulit memang menjawabnya, namun aku berharap Allah Swt memberikan kita Hati dengannya kita bisa merasakan penderitaan orang lain, Telinga dengannya kita mendengar keluh-kesah kaum dhuafa, dan Mata yang dengannya kita menemukan jalan keluar atas segala kesulitan tersebut.

Ohiya Ramadhan, sebelum kau benar-benar pergi meninggalkanku tahun ini. Aku ingin berdo’a di samping-Mu kepada Tuhan yang menciptakan kita, semoga segala keceriaan dan kebaikan yang Allah berikan pada waktu lalu kembali terulang dan menjadi penghibur di hari-hari yang akan datang.

----

7 Juli 2015, Madinat Zahro




Keluarga 13, ISLAH Mesir


Rihlah ke Hurghada Bersama ISLAH Mesir



Bersama Keluarga Baru Islah Mesir 2014. @Gami'-Madinat Nasr


Keluarga Asrama Sifara Hidaya. @Zahra- MadinatNasr


Keluarga SINAI Mesir, Kelompok Kajian Kru 2014


Keluarga Besar Syariah Jozz!!

Rabu, 24 Juni 2015

Hore, Ramadhan!

Horee Ramadhan! yang terbayang di benak saya adalah ayam, daging, nutrisari, dan sayur buata Umi. tapi memang nasib anak rantau, bisa makan sup daging buatan kawan aja sudah bersyukur. Yups, tidak semua nasib anak rantau memilukan. ada yang beruntung seperti saya, makan pempek dari kawan, dimasakin ayam kecap... oleh kawan, berbuka dengan semangka merah ranum.. bersama kawan.

Sahur tiga hari berturut-turut dengan mie goreng, bagi saya sebuah kenikmatan. Setelah mengesampingkan enak-tidaknya sebuah makanan, akhirnya dunia ini menjadi tenang. Hidup terlihat begitu normal tanpa ada desakan untuk mencari bungkusan nasi untuk berbuka, atau lauk untuk sahur.

Ibadah pun mulai menjadi kebutuhan setelah hidayah datang. Karena cinta yang Ia berikan, kita mulai memahami pentingnya menyiapkan bekal di akhirat, hal yang tak jauh berbeda saat menyiapkan hafalan ketika ujian universitas dilangsungkan.

Terkadang kita lalai memenuhi kebutuhan kita sendiri.

Seperti makan untuk kelangsungan hidup, begitu pula menjalankan kewajiban kita sebagai seorang hamba. Meski sudah menjadi kebutuhan, rasa lalai itu tetap ada. Maka yang kita butuhkan adalah motivasi, kita mengisi perut untuk apa? beribadah untuk apa?

Jangan sampai terbalik! misalnya, "Hidup untuk makan." tentu orientasi seperti ini akan cepat menimbulkan rasa bosan. karena hanya ada dua kata dalam rentetan aktivtas panjang kita;

"perut terisi.. perut terisi.. perut terisi.. perut terisi.." dan itu akan terus berlangsung selama kita hidup. bosen? saya pun lelah mengetiknya berulang-ulang.

Begitu pula ibadah, nggak cukup orientasinya Surga dan Neraka tok! apa perlu saya mengulang kata Surga dan Neraka dalam tulisan ini berkali-kali lagi? tidak.

Oleh karena itu, banyak kita temukan ayat Al Qur'an dan hadits Nabi yang menyebutkan tentang maqom-maqom para salihin, para muttaqin. Tak sedikit pula nas syar'i membuka peluang bagi kita untuk bersaing dengan berbagai aktivitas yang beragam pahalanya.

Ada sedekah yang dilipat-gandakan hingga 700 kali, juga sholat berjama'ah 24 kali lebih baik dari sendiri-sendiri, bahkan berbakti kepada kedua orang tua dianggap lebih utama dari berpeluh dan bercucuran darah di medan perang.

Lalu Allah memberi kita motivasi lebih, "Ramadhan." semua yang sudah berlipat-lipat kembali dilipat-gandakan lagi. ngiler ngga' lu? Para salafus solihin sejak zaman Nabi saja langsung bergerak cepat. Dua bulan, DUA BULAN sebelum Ramadhan datang mereka sudah melakukan pemanasan.

Dari sanalah, doa yang paling masyhur dan langsung dilantunkan dua bulan sebelum Ramadhan datang adalah,

"اللهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان"
Artinya: Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.

Motivasi yang mereka pupuk tidak sekedar berorientasi pada surga dan menghindari api neraka. mereka ingin lebih, jika surga bertingkat-tingkat, mereka ingin yang di atap.

Jadi, motivasi apa yang menghindarkan kamu dari lalainya memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan akhirat? Semoga kita bisa menemukan motivasi-motivasi itu dengan mengisi kursi-kursi kosong di pengajian ilmu, dan sesekali membaca artikelku. muhahahaha

Salam semangat memaksimalkan Ramadhan, Guys!



Ummu Agrha-@Hurghada

------
Madinat Zahro, 24 Juni 2015/ 7 Ramadhan

Sabtu, 28 Maret 2015

Berlari Menuju Kelas Musim Panasku!

Musim panas perdanaku,

08.05

Aku hanya bisa senyum-senyum kebingungan, bagaimana tidak? Ketika mata terbuka, kulihat jam telah menunjukkan pukul 8 pagi! Berkah pagi kelewat, padahal semalam aku sudah tidur lebih cepat dari biasanya. Langsung kusikat peralatan mandi dan tergopoh-gopoh ke dapur ke kamar mandi. aku tahu kalau kuliyah pasti akan terlambat.

Di lorong menuju kamar mandi keajaiban terjadi, kehangatan musim semi mencubit leher, punggung dan dadaku yang masih terlilit pakaian musim dingin. Panas! segera kuberlari memastikan adegan keterlambatanku di kamar mandi segera selesai.

08.30
Kacau! makanan yang kusimpan semalam basi.. argh, buku hari ini! belum kumasukkan dalam tas.  setelah mendapatkan seonggok snack sisa semalam, segera kulahap dalam beberapa hentakan. Tangan yang lain sibuk menyiapkan buku pelajaran. Selesai segala urusan, aku kembali berlari

08.45
Lima menit kutunggu bus, tak banyak pilih, kuambil bus yang karcisnya lebih mahal dari angkutan yang biasa digunakan. Kosong. Sambil menghitung estimasi waktu yang akan kuhabiskan dalam perjalanan, aku mencari bangku di pojok.

Sholat Subuh! alhamdulillah udah. Hhe

09.27
Aku turun dari bus di perempatan jalan yang masih sekitar 300 meter dari daerah kuliyah. Matahari pagi menelisik ke dalam kulit-kulit coklatku. Anginnya berhembus sambil membisikkan,

"Selamat datang, pemalas!"

Lari. Aku berlari menuju kelas musim panasku.

-------

@Madinet_Zahro, 29 Maret 2015

Minggu, 01 Maret 2015

Sekedar Kabar di Awal Maret

Hai Maret, masih sibuk aja niup-niup angin Musim Semi. Tau ngga? gara-gara lo gw kudu ngebungkus diri dengan empat sweeter. Empat lapis!! dan ingus mulai ngebanjiri muka saya. eeuuuuwhhh..

Kemana aja gw? Di asrama mahasiswa. Ngapain aja? Main game, baca buku, berangkat kuliyah, tidur, makan. Udah ngga main bola lagi? Pret, kan udah dibilang, gw sakit. Kok lama ngga ada kabar? Yah, udah jauh dari internet. Alesan gw banyak ya?! Ialah, di kuliah gw diajarin buat ngejawab.. ya jawab aja kalo ditanya.

Oke, kembali lagi dengan gw.. dan.. ups, sekarang gw tigkat 4 di Kuliyah Syariah Islamiyah, tanggung jawab makin banyak. Yah, semoga Allah mempermudah urusan kita kawan.

see U. :)