My Movements Trip.

Kamis, 30 Juli 2020

Sampai Kapan Kau Tertawan di Taman ini?



"Menikah bagiku adalah sebuah keharusan."

Awalnya aku merasa 'harus' menikah dengan orang yang kucintai.
Namun Tuhan memberiku karunia; akal fikiran, di mana pada akhirnya aku lebih mengedepankan logika daripada perasaan. Pastinya diiringi nasihat para senior,

"Cinta itu dipupuk, bukan tumbuh dengan sendirinya." 

Tentu aku ingin taman yang dihiasi oleh bunga yang indah, bukan rumput liar yang tiba-tiba muncul ditempat antah berantah.

Aku tak mengira ini membutuhkan waktu!

Siapa sangka, aku yang masih kekanak-kanakan ini, harus tau bagaimana mencangkul, mengalirkan air, memberi pupuk, dan menjaga agar hewan liar tidak mengganggu tamanku. Yah, aku perlu beberapa waktu agar terbiasa dengan rutinitas baru.

Betulan deh, siapa sangka anak kecil yang punya cita-cita membuka pintu gerbang Masjid Al-Quds ini harus berhenti sebentar hanya untuk menyelesaikan pendidikan Magister selama 4 tahun?!

Tapi karena menikah baginya adalah keharusan, dia tidak boleh terlalu lama berhenti di zona nyamannya..

"Udah donk jangan terlalu lama menatap bunga-bunga yang mulai indah bermekaran, toh di ujung perjuangan sana ada bunga-bunga indah lain yang telah Tuhan siapkan untukmu wahai pejuang. Hhe." Celetuk anak tersebut dalam hati.

***

Back to back persiapan Khutbah Idul Adha,
lagi dan lagi tentang perjalanan Nabi Ibrahim dari satu tempat ke tempat lainnya.
Beliau melakukan perjalan itu tidak sendiri, namun selalu bersama keluarganya.

Jadi kamu paham kenapa aku punya keyakinan seperti itu?

Menikah itu harus, kakak! meski bukan dengan orang yang kau cintai..
toh cinta itu dibina, bukan berdiri dengan sendirinya.

Rabu, 29 Juli 2020

ZONA NYAMAN? Something is Off?!

"Setiap orang selalu menciptakan zona bagi kehidupan mereka masing-masing, termasuk diriku. sempat terdampar di kos-kosan samping masjid Al-Azhar, aku dipaksa menjauh dari pusat peradaban ilmu ke tempat sekertariat komunitas literasi bergengsi yang hendak mati, SINAI!."

Beberapa tahun sebelum kedatanganku, SINAI adalah eksistensi terhormat di kalangan mahasiswa Indonesia Al-Azhar; dengan majalah yang berisi berita dan analisa isu-isu dunia islam. meski datang pada zaman di mana koran cetak tergantikan dengan kuota internet, SINAI tetap dinobatan  sebagai sumber berita online terbaik di kalangan mahasiswa indonesia kala itu. ah, aku sebagai anggota yang baru bergabung sangat bangga.

Berada dekat dengan kampus, adalah zona nyaman terbaikku. ada tidak ada uang, aku masih bisa belajar dengan riang. namun itu tidak berjalan begitu lama sampai ada kabar kurang enak menyapaku..

Organisasi-organisasi kemahasiswaan hampir mati!
ada Dinamika baru seiring bergesernya generasi,
Mereka (mahasiswa) lebih condong di bangku kuliah dan akademi..
komunitas literasi, event organizer, dan reportase mulai sepi.

Saya yang kala itu begitu lugu, tidak paham tentang perubahan zaman; hanya tahu dongeng dan hikayat yang diceritakan kakak senior yang hebat pada masanya.

"Siap, Bang"
"insya allah, kak"

Begitu jawabku tatkala diminta untuk menyelamatkan organisasi yang hampir mati. tidak ada analisa, juga tanpa membaca prospek kedepan.

"Sami'na wa atho'na" tekadku dalam hati.

dan itulah awal-mula sepotong kisah lompatan hidup hingga harus sesekali makan nasi putih pakai minyak dan garam. ah, begitu lugunya aku.. apakah hidup ini akan selalu indah jika hanya menjadi si kecil lugu?!

apakah ini sebab aku sering menjadi si kepala batu bagi ibunya Aca.

***

mungkin kamu bertanya, kenapa nasi putih tidak dengan kecap saja? kecap di mesir adalah pengalaman terburukku dalam hal kuliner!

...

Abduh, malam di Rejomulyo 29/7/2020

Rabu, 11 Oktober 2017

(kembali) Menulis Mimpi (setelah) Sepuluh Bulan

malam ini aku ditemani setumpuk tugas
ah, ada baiknya.. pasti ada baiknya.

kawan, apa kau ingat mimpi-mimpi itu?
tatkala kita menari dan berkejar-kejaran,
menulis, bercerita, dan mengeja  kata.

aku tidak ingin lupa,
tentang lusinan majalah yang tak laku dijual
deretan buku yang hampir tak dibaca
dan setumpuk debu yang mengotori balkon rumah kita.

dan tidak ingin lupa,
jum'at kita pergi ke lapangan futsal
berlari, bertegur sapa, berteriak, dan mengejar bola
ditutup dengan segelas 'ashob atau shobiya.

kawan, mimpi kita itu dirajut perlahan
dengan jarum ikhtiar dan benang tawakkal
berjama'ah untuk saling menasehati.
bersabar, dan bersiap-siagalah...

***

Mencari ridho Allah, yuk!

Sabtu, 31 Desember 2016

Mengawal Tahun "Baru"

Tahun baru ini diawali oleh "Satu Januari"

Bismillah. Lillah.

Ciamis, 31 Desember 2016

Selasa, 13 Desember 2016

Mimpi Seorang Muslim

"Ini mimpi," pikirku masih tak percaya.

Mulai dari bandara,
Bertemu kerabat-kerabatnya,
dan nasihat tegas Abi,
Hingga pertanyaan-pertanyaan kita
terkait ini dan itu.

Maka tak salah jika aku berprinsip bahwa,
"Hidup itu adalah yang dijalani," membuatku yakin bahwa semua itu berawal dari Mimpi..

..dari Do'a.

***

Maka dari sini aku terus berdo'a..
Terus bermimpi,
Agar ikatan ini bermula atas ketakwaan kepada-Mu ya Allah,
Bertujuan untuk menegakkan agama-Mu,
dan berakhir dalam keridhoan-Mu.

Maka Ya Allah,
Saksikanlah bahwa kami termasuk golongan muslimin..
Yaitu orang-orang yang berserah diri kepada-Mu.

***

Mengenang,
Minggu-Senin, 11-12 Desember 2016

Minggu, 04 Desember 2016

Momen Besar Setelah Aksi Bela Islam III

Menghafal surat Al-Anfal.

Senin, 5 Desember 2016

***

Jadi teringat saat hari Jum'at di jalan,
setiap peserta aksi saling memberi motivasi,

"Udah lelah? masa kalah sama yang jalan dari Ciamis.."