My Movements Trip.

Minggu, 31 Juli 2016

Cerita Sebuah Keegoisan

Sudah satu minggu berlalu ya. Dalam waktu yang sama buku kuliyah yang seharusnya kubaca, kini bertumpuk tak beraturan di pojok kamar. Berdebu.

Saat ini aku makin tidak peduli. Mimpi-mimpi pada akhir kuliyah s1 dulu mulai tak berarti. Makna yang pernah kususun dalam ruang pojok hatiku, sekarang berantakan dan enggan untuk kurapikan.

Perasaan yang dulu tak pernah kuperhatikan, pada momen ini menjadi sahabat yang tak tergantikan. Siang,malam, pagi dan petang. Ia hadir minta ditemani, seperti pangeran kecil yang akan marah jika kau tiba-tiba pergi dari sisinya.

ini salahku. Ketidakpedulian di masa lalu, menjadikanku orang tak berbekal pada masa-masa sulit ini. Yah, informasi adalah modal utama untuk memulai petualangan panjang bukan?!

Kawan, kadang aku ingin segera meminta maaf kepadanya sudah bertindak begitu egois. Rencanaku untuk memintanya ikut berperan dalam "Tawaran Kekanak-kanakan" ini, sangat mungkin akan menyusahkannya, bahkan keluarganya.

Mungkin benar, egois.
Dan kurasa, aku tak perlu meminta maaf dan mundur.

Biarlah ini menjadi cerita.



Kairo,
Minggu, 31 Juli 2016

Jumat, 29 Juli 2016

Membaca Tulisanmu

Senang bisa membaca tulisanmu, mengetahui yang kau fikirkan, yang kau resahkan. Ingin ku bertanya, apa ada namaku dalam kata-katamu?

***

Tapi sebaiknya aku diam, menikmati kisahmu.
Merasakan cinta di setiap kalimatnya.

Tapi jika aku boleh bertanya,
"Apa ada namaku dalam kata-katamu?"
Lagi-lagi aku memilih diam, menikmati kisahmu.
Merasakan cinta di setiap sudut kalimatnya.




Rabu, 27 Juli 2016

"Bridge of Spies" dan Prinsip

Udah nonton film dengan judul “Bridge of Spies?”

Baru tadi pagi saya tonton. Ceritanya tentang pengacara Amerika, Mr. Donovan yang diperankan oleh Tom Hanks, menjadi sukarelawan untuk melindungi hak warga asing. Berbicara tentang konstitusi Amerika-Rusia, politic of interest, dan Prinsip.

Cerita yang dikemas dalam bentuk penangkapan agen rahasia antar dua Negara ini, semakin berkesan tatkala mata-mata Rusia, Rudolf Abel, teguh mempertahankan rahasia negaranya; dan di sisi lain Amerika sebagai Negara Konstitusional, tanpa diskriminasi menjalankan undang-undang.

Keyakinan Pengacara Donovan dengan asas keadilan yang ada di dalam konstitusi, mengingatkan warga Amerika dan para pengambil kebijakan agar tidak menyimpang dari prinsip Negara.

“Tidak seharusnya kah kita,..” tanya Donovan di depan para hakim Amerika, “dengan memberinya keuntungan penuh dari hak yang ditetapkan oleh pemerintahan kita,..”

“Menunjukkan pada orang ini jati diri kita?”

“Jati diri kita?” ulangnya menekankan.

Bukankah itu senjata terbaik yang kita miliki di perang dingin ini?

Apa kita mau kalah dalam mempertahankan prinsip..

Dibanding dirinya?

***

Akhir cerita, (tanpa banyak membocorkan cerita), Mr. Donovan tertolong dengan prinsip yang ia perjuangkan. Bahkan lebih. Terkhusus untuk dirinya, karir, lembaga-lembaga terkait, dan Negara.

***

Aku teringat bagaimana Presiden Turki, Pak Erdogan, mengutuk dengan keras Kudeta Mesir serta sikap munafik Amerika terhadap Demokrasi di wilayah Arab. Orang awam sepertiku hanya bisa nyengir kuda dan  berkomentar,

“Jangan keras-keras Pak Erdogan, nanti bisa kayak Khadafi di Libya.”

Hampir Tiga tahun beliau terus melakukan kritikan keras itu, dan pada rentang waktu yang sama aku menjadi pengecut, bersembunyi di balik semua omong-kosong tak berdasar itu.

Ya, ini Prinsip. Dan Prinsip yang kuat tersebut mengalir ke jiwa dan sanubari Rakyatnya.

Terjbukti saat kudeta di Turki terjadi.

Dengan satu pangilan via SKYPE oleh Erdogan, seluruh rakyat tumpah ke jalan, bandara, stasiun televisi, dan fasilitas lain yang digunakan para militer dalam melancarkan aksi kudeta mereka. Ingat, satu panggilan lewat media murah-SKYPE. Lalu, kudeta gagal!

Tak berbeda dengan Mr. Erdogan dan Donovan, seorang rekanku juga teguh mempertahankan prinsip keadilan saat kami dihadapkan dengan sidang terkait dua kelompok yang berseteru. salah satunya saat ia menolak mentah-mentah penambahan jumlah panitia yang kuusulkan.

“Dia asalnya dari kelompok A, kan?"

“Mm, ia sih.” Jawabku.

“Ga boleh. Titik.” Balasnya enteng.

Saat sidang selesai, pihak yang kalah mengajukan gugatan dengan alasan bahwa kami tidak adil dan professional dalam memimpin persidangan. Bersyukur dengan sikap rekanku tersebut. Kami dengan percaya diri menolak tuduhan itu.

Ya, ini tentang prinsip. Dan prinsip yang kuat tersebut kelak akan membantu kita, karena itulah yang diajarkan oleh Islam.


“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(Q.S. Al-Maidah: ayat 8)


***

Oiya, Taqwa sendiri dalam maknanya memiliki arti, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Terjaga.

Kalau yang menjagamu adalah Dzat yang menciptakan seluruh alam ini,
Maka apalagi yang perlu ditakuti?

Kairo,
Rabu 27 Juli 2016.

Selasa, 26 Juli 2016

Posisi

Apa makna posisi bagimu?

Kamu yang sibuk dengan dunia organisasi, sepak bola, atau bela diri? Ya, setiap bidang memiliki arenanya masing-masing. Di dalam struktur kepengurusan kah? Lapangan? Matras tempat bertanding?
Sepertinya keilmuan juga kan? Hha, untuk yang ini aku masih banyak belum paham.

Intinya, kemana kita akan bergerak. Harus bekerja dalam posisinya sebaik mungkin. Mengunakan tiap sudut arena yang ada, memberikan ruang dan peluang kepada kawan jika bekerja dalam tim. Dan tak malas segera melakukan rotasi jika diperlukan.
Penyerang mundur membantu pertahanan, yang di belakang maju membantu menekan.

Dan tak lupa, siapkan nafas yang panjang.

***

BeTeWe nih, Gan. Hari ini ane main futsal. Udah lama ga main. Nafas pendek. Langsung berat untuk ngejer bola yang ga berhenti keliling lapangan.

Terpaksa deh mainnya jalan. Maju tanggung, mundur tanggung. Gimana ga tanggung. Baru sampai di depan, bolanya udah muter ke belakang. Wkkwk

Yup, Posisi!

Bermain tidak terlalu maju, bertahan di tengah menutup aliran bola.
Yah, tetap kalah sih. But it's Worthy!


Kairo-NadiSalab.
Selasa, 26 Juli 2016.
*Kawan-kawan Masisir yang lain lagi asik jadi Delegasi PPMI untuk Simposium International. Dan saya cuma bisa denger kabar dari Facebook.  Haduuuh. 

Oke, ini tentang "Posisi"
Meski masih berusaha mencari "posisi"  tersebut sih. Hhe



















Minggu, 24 Juli 2016

Menunggu?

Beberapa waktu lalu aku menunggu tulisan di sebuah media komunikasi sosial.

Hari ini, 24 Juli setelah ujian Daur Awwal usai. Aku temukan ia kembali menulis.

Tentang Teori Menghafal Al Qur'an dan "Menunggu"

***

Aku jadi teringat pernah berkata kepada seorang kawan,

"Berbulan-bulan pun akan kutunggu."

Ujian & Memulai Komunikasi

Siang ini selesai ujian akhir di Daur Awwal Al Azhar, menemani kawan duduk mendengarkan seminar Simposium. Yah, kebetulan lokasi gedung acara berseberangan.

Kenapa harus ditemani?
Pertama, dia punya catatan ringkas materi ujian, harus mampir ke rumah beliau untuk foto kopi. Persiapan Ujian Daur Tsani.

Kedua, mungkin aku kangen sama senyum kamu kawan.
Tapi sayang ya. Setelah lama tengok kanan-kiri, cuma bisa manyun.

ga ketemu 

***

Oh, hei. Ujian Daur Tsani masih satu atau dua bulan lagi.
Sepertinya asik kalau ngobrolin masa depan dengan orang tua.

Sambil menyelam minum air,
Materi ujian sesuai dengan yg ingin diobrolkan.

Saya punya rencana dan proposal.
Dengan bermodal muka tebal dan tak tau rasa malu,
abduh harus segera melakukan penawaran.

"Intinya harus dikomunikasikan, bukan?"

Selasa, 12 Juli 2016

Inget Umi

Waktu itu, ada berapa jeda antara pesawatmu dan pesawatku hanya untuk sekedar bertemu dan mengucapkan kata perpisahan?

Hiburan di tengah ujian adalah mengingatmu.

Untuk ujian kali ini, aku ingin meminta maaf padamu sejak awal.

11 Juli 2016