My Movements Trip.

Sabtu, 28 Mei 2016

Masih di Sebuah Kafe

Alhamdulillah, masih dikasih kesempatan untuk nonton dua final klub-klub spanyol di masa ujian ini.
.
di antara Dua Puluh Tiga orang yang berlari-lari di tengah lapangan dan gemuruh suara suporter, aku bertanya,
.
"di mana diriku saat ini?"
.
dari layar lebar televisi terlihat jelas olehku mereka yang berpeluh keringat, menahan dan menarik nafas. menangis bahagia, sedih, namun ada juga yang tertawa.
.
aku sedang duduk di sebuah kafe bersama kolega.
.
.
"ah, iya. target baca muqoror masih sering molor." batinku menghibur setelah melihat Ronaldo selebrasi goal kemenangan.
.
aku pun pergi meninggaalkan Kafe .
.
28 Mei 2016

Rabu, 11 Mei 2016

Aku Melihatnya

"Hai, Abduh.. apa kau melihat senyumnya?"

"Ya," jawabku bahagia. "Man, apa ia selalu bercahaya (pen-bersemangat) seperti itu?"

"Kamu juga merasakannya, Du? Seperti itulah. Jika kamu berharap suatu saat bisa kembali bertemu dengannya..
Fokus ujian, ya." Bisik Maman di akhir kalimatnya.

"Ya, semoga peluang itu sudi mampir ke tempatku" Jawabku kembali dengan bahagia dan penuh harap.

"Hei, bukankah kau yang mesti menghampirinya?"

Ah, iya. Itu maksudku. Namun, target-target lain harus segera kuselesaikan.
agar Allah ridho.


***
11.5.2016
Satu Bulan lagi ujian. Bismillah!






Jumat, 29 April 2016

Sampai Kapan?

"Sampai kapan, Man?" Abduh bertanya datar.

Namun sayang sekali, orang yang ditanya terlihat tak mau memberikan jawaban. Suasana kembali sunyi. Terdiam.

Kini tiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

***

Mohon maaf atas segala khilaf,
Saling mendo'akan.
Saya izin untuk persiapan ujian.

"Oiya, do'anya langsung saya kirim ke Tuhan ya." :senyum:

Rabu, 27 April 2016

Menghormatinya dan Bertanggung jawab Pada Diri Sendiri

“Abduh, udah donk main hape nya. Come here, gimme your hand please!”

Orang yang diminta tak menjawab. Bisu?

“Abduh.. ohh.. pantas.”

Maman yang dari tadi sibuk mencoret-coret kertas tugas, seketika muncul dari balik punggung Abduh. Orang yang dibuat kaget itu seketika mematikan layar hape dan menyembunyikannya dibalik bantal.

“Musim panas gini masih selimutan. Ng’galauin apaan sih? Masih dengan akhwat itu?”
Terus digoda, Si Abduh semakin membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.

“Wanita itu ga cuma dia seorang.  Lagian ngapain kamu terus-terusan mantengin semua akun socmed dia? Watsap, tumblr, facebook, twitter, Line?! Ga disapa lagi. Hadeuh.. lah dikira dia makhluk halus, bisa ngerti tanpa komunikasi?!” Maman terus berceloteh menggurui.

“Hei, inget, masih banyak..”

Mendadak Abduh mengeluarkan segenggam tangan beserta jari tengah dari balik selimutnya. Bukan urusan lo!

“Ini yang disebut cinta buta, nak.” Pemuda yang mendadak jadi orang bijak mulai berfatwa tentang cinta.

Hening. Namun Abduh masih menunjukkan jari tengahnya kea rah Ustadz dadakan itu. Tetep bukan urusan lo!

“Oke. Tapi inget ya,” Maman mulai pasrah, “itu hape sengaja dikeluarin buat nyari referensi. Dan selesai tugas ini bakal kita kembali sembunyikan untuk waktu yang taaak ditentukan.”

Jari tengah berubah jadi Jempol. OKE!

***

Dalam hati Si Abduh,

“Setidaknya, aku hanya ingin memastikan senyumnya terus merekah sampai hape ini disita oleh Si Maman.”

***

Dalam hati Maman,

“Abduh, sebenernya gw juga punya perasaan yang sama kayak lo. Cuma fokus belajar  adalah satu-satunya kita menghormati wanita tersebut, dan bertanggung jawab pada diri sendiri.”

***

Abduh mulai mengeluarkan kepalanya dari balik selimut. Ia lihat Maman tersenyum simpul  di hadapan kertas-kertas tugasnya.

Pemuda galau itu pun ikut tersenyum.


Rabu Pagi Kairo, 27.4.2016

Selasa, 26 April 2016

Refleksi Gagal Deadline

Hari ini saya membaca tulisan seorang rekan yang rindu dengan kawan-kawan dirumahnya.
Belajar sampai pindah rumah. Mengagumkan cara belajarnya. Terlebih dia seorang wanita.


ohiya, aku juga sedang persiapan ujian.
Did i? 

***
mimpi itu kini mulai berkabut tebal.
Ghufronak Ya Allah.

Selasa.26.4.2016

Ashamed Abduh

قال الرسول:
 "و كيف أخالف كتاب الله و به هداني؟!"

Keluh kesah? manusia diciptakan dengan sifat alaminya yang suka berkeluh-kesah. Sebelum, saat, dan setelah melakukan segala sesuatu aku suka mengeluh. Korbannya adalah rekan-rekanku. Tak jarang aku menyalahkan mereka. ini dan itu.

"Abduh, cukup. ini sudah berlebihan." Si Rahman mengingatkan.

Aku meliriknya. menelanjangi setiap sudut dari kaki hingga kepala. tampilannya begitu mengenaskan. Aku tak habis pikir, bagaimana ia masih mau bersabar dengan kondisinya yang sekarang??

"Kau MALU dibilang 'pecundang' bukan?" Rahman menelontarkan pertanyaannya.

Bukan. Itu sindiran.

Aku masih membisu. Pura-pura sibuk dengan game yang ada di layar hape.

Tiba-tiba ia mendekat. duduk di samping dan langsung mengacak-ngacak rambutku.

"Hai, pecundang." ia berbisik di telingaku, "apa kamu masih punya IMAN?"


***
26.4.2016