My Movements Trip.

Rabu, 24 Juni 2015

Hore, Ramadhan!

Horee Ramadhan! yang terbayang di benak saya adalah ayam, daging, nutrisari, dan sayur buata Umi. tapi memang nasib anak rantau, bisa makan sup daging buatan kawan aja sudah bersyukur. Yups, tidak semua nasib anak rantau memilukan. ada yang beruntung seperti saya, makan pempek dari kawan, dimasakin ayam kecap... oleh kawan, berbuka dengan semangka merah ranum.. bersama kawan.

Sahur tiga hari berturut-turut dengan mie goreng, bagi saya sebuah kenikmatan. Setelah mengesampingkan enak-tidaknya sebuah makanan, akhirnya dunia ini menjadi tenang. Hidup terlihat begitu normal tanpa ada desakan untuk mencari bungkusan nasi untuk berbuka, atau lauk untuk sahur.

Ibadah pun mulai menjadi kebutuhan setelah hidayah datang. Karena cinta yang Ia berikan, kita mulai memahami pentingnya menyiapkan bekal di akhirat, hal yang tak jauh berbeda saat menyiapkan hafalan ketika ujian universitas dilangsungkan.

Terkadang kita lalai memenuhi kebutuhan kita sendiri.

Seperti makan untuk kelangsungan hidup, begitu pula menjalankan kewajiban kita sebagai seorang hamba. Meski sudah menjadi kebutuhan, rasa lalai itu tetap ada. Maka yang kita butuhkan adalah motivasi, kita mengisi perut untuk apa? beribadah untuk apa?

Jangan sampai terbalik! misalnya, "Hidup untuk makan." tentu orientasi seperti ini akan cepat menimbulkan rasa bosan. karena hanya ada dua kata dalam rentetan aktivtas panjang kita;

"perut terisi.. perut terisi.. perut terisi.. perut terisi.." dan itu akan terus berlangsung selama kita hidup. bosen? saya pun lelah mengetiknya berulang-ulang.

Begitu pula ibadah, nggak cukup orientasinya Surga dan Neraka tok! apa perlu saya mengulang kata Surga dan Neraka dalam tulisan ini berkali-kali lagi? tidak.

Oleh karena itu, banyak kita temukan ayat Al Qur'an dan hadits Nabi yang menyebutkan tentang maqom-maqom para salihin, para muttaqin. Tak sedikit pula nas syar'i membuka peluang bagi kita untuk bersaing dengan berbagai aktivitas yang beragam pahalanya.

Ada sedekah yang dilipat-gandakan hingga 700 kali, juga sholat berjama'ah 24 kali lebih baik dari sendiri-sendiri, bahkan berbakti kepada kedua orang tua dianggap lebih utama dari berpeluh dan bercucuran darah di medan perang.

Lalu Allah memberi kita motivasi lebih, "Ramadhan." semua yang sudah berlipat-lipat kembali dilipat-gandakan lagi. ngiler ngga' lu? Para salafus solihin sejak zaman Nabi saja langsung bergerak cepat. Dua bulan, DUA BULAN sebelum Ramadhan datang mereka sudah melakukan pemanasan.

Dari sanalah, doa yang paling masyhur dan langsung dilantunkan dua bulan sebelum Ramadhan datang adalah,

"اللهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان"
Artinya: Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.

Motivasi yang mereka pupuk tidak sekedar berorientasi pada surga dan menghindari api neraka. mereka ingin lebih, jika surga bertingkat-tingkat, mereka ingin yang di atap.

Jadi, motivasi apa yang menghindarkan kamu dari lalainya memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan akhirat? Semoga kita bisa menemukan motivasi-motivasi itu dengan mengisi kursi-kursi kosong di pengajian ilmu, dan sesekali membaca artikelku. muhahahaha

Salam semangat memaksimalkan Ramadhan, Guys!



Ummu Agrha-@Hurghada

------
Madinat Zahro, 24 Juni 2015/ 7 Ramadhan

Sabtu, 28 Maret 2015

Berlari Menuju Kelas Musim Panasku!

Musim panas perdanaku,

08.05

Aku hanya bisa senyum-senyum kebingungan, bagaimana tidak? Ketika mata terbuka, kulihat jam telah menunjukkan pukul 8 pagi! Berkah pagi kelewat, padahal semalam aku sudah tidur lebih cepat dari biasanya. Langsung kusikat peralatan mandi dan tergopoh-gopoh ke dapur ke kamar mandi. aku tahu kalau kuliyah pasti akan terlambat.

Di lorong menuju kamar mandi keajaiban terjadi, kehangatan musim semi mencubit leher, punggung dan dadaku yang masih terlilit pakaian musim dingin. Panas! segera kuberlari memastikan adegan keterlambatanku di kamar mandi segera selesai.

08.30
Kacau! makanan yang kusimpan semalam basi.. argh, buku hari ini! belum kumasukkan dalam tas.  setelah mendapatkan seonggok snack sisa semalam, segera kulahap dalam beberapa hentakan. Tangan yang lain sibuk menyiapkan buku pelajaran. Selesai segala urusan, aku kembali berlari

08.45
Lima menit kutunggu bus, tak banyak pilih, kuambil bus yang karcisnya lebih mahal dari angkutan yang biasa digunakan. Kosong. Sambil menghitung estimasi waktu yang akan kuhabiskan dalam perjalanan, aku mencari bangku di pojok.

Sholat Subuh! alhamdulillah udah. Hhe

09.27
Aku turun dari bus di perempatan jalan yang masih sekitar 300 meter dari daerah kuliyah. Matahari pagi menelisik ke dalam kulit-kulit coklatku. Anginnya berhembus sambil membisikkan,

"Selamat datang, pemalas!"

Lari. Aku berlari menuju kelas musim panasku.

-------

@Madinet_Zahro, 29 Maret 2015

Minggu, 01 Maret 2015

Sekedar Kabar di Awal Maret

Hai Maret, masih sibuk aja niup-niup angin Musim Semi. Tau ngga? gara-gara lo gw kudu ngebungkus diri dengan empat sweeter. Empat lapis!! dan ingus mulai ngebanjiri muka saya. eeuuuuwhhh..

Kemana aja gw? Di asrama mahasiswa. Ngapain aja? Main game, baca buku, berangkat kuliyah, tidur, makan. Udah ngga main bola lagi? Pret, kan udah dibilang, gw sakit. Kok lama ngga ada kabar? Yah, udah jauh dari internet. Alesan gw banyak ya?! Ialah, di kuliah gw diajarin buat ngejawab.. ya jawab aja kalo ditanya.

Oke, kembali lagi dengan gw.. dan.. ups, sekarang gw tigkat 4 di Kuliyah Syariah Islamiyah, tanggung jawab makin banyak. Yah, semoga Allah mempermudah urusan kita kawan.

see U. :)

Rabu, 26 November 2014

Gara-gara 'Kicauanmu'

Pagi ini kulihat Abduh sedang sibuk melamun, lenggangnya waktu kosong menunggu kuliyah benar-benar digunakan untuk diam. Diam, mata tajam tertunduk ke meja, mulut terkatup rapat, rahang tertekan kuat, kedua tangan tegang saling mengikat.

Ah, selain pusing membaca diktat karena ujian semakin dekat, mungkin ia sibuk memikirkan proses pindah rumah yang tak bisa ditunda sampai akhir bulan. Oh poor Abduh.. belum lima bulan berseteru dengan lingkungan barunya, kini ia dipaksa pindah. Kudengar rumahnya sudah tidak aman, dan waw, ujian satu bulan lagi kawan!

Ehem, terlalu sering memerhatikan pemuda itu membuatku suntuk. Tak tahan dengan rasa bosan, akhirnya kukeluarkan hape yang dari tadi tersembunyi dalam bagian tas terdalam, tentu tanpa sepengetahuan Abduh. Karena jika ia tahu, barang kecil ini akan disita dan dengan sinisnya ia akan berkata, "Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah."

Kubuka Opera Mini, lalu kupilih situs socmed yang biasa kuikuti perkembangan 'mu' dan yeah, kau menulis kata-kata penyemangat, "Do not give up. Beginning is always the hardest."

Abduh!

Segera saja kudekati pemuda itu dan kutunjukkan kicauanmu kepadanya, berharap ia bisa kembali tersenyum seperti dulu kala.

Sedikit kaget, ia lalu memerhatikan layar hape Samsung S Duos milikku, setelah terdiam sebentar akhirnya Abduh menyunggingkan sebuah senyuman yang membuatku sadar dan menyesal.

"Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah." Ucap pemuda itu datar dan segera saja handphone baruku sudah berada di list barang sitaannya.

Walaupun dengan sinis, setidaknya itu adalah senyuman yang kutunggu. do you?



***
Istana Peradaban, 26 November 2014

Jumat, 21 November 2014

Aku Menyesal Setelah Itu

"Apa lagi yang ingin kau tangisi kawan?" Tanyaku

Beberapa hari ini Abduh terlihat sangat muram, matanya sering jatuh tertunduk meratapi tanah, senyumannya buram, desahan nafas tarik-menarik tak beraturan.

Ah, kawan apa yang terjadi padamu? Dihibur kau enggan tertawa,  kubertanya kau memilih untuk bungkam, dalam diammu aku tak tahu harus bertindak apa. Maka jawablah sedikit dari ribuan pertanyaan yang kukirimkan kepadamu melalui lisan, tulisan, dan isyarat antar belahan jiwamu.

"Aku benci dengan teman perjalananku.." ucap Abduh spontan, menunggu respon dariku sebentar lalu ia kembali menghilang dalam tumpukan selimut musim dingin.

Aku terhenyak, mulutku kaku tidak menyangka akan mendapat pengakuan seperti itu. Dari sekian banyak masalah yang menimpa para pejuang dalam ekspedisi panjang, ternyata pemuda itu disibukkan dengan pertarungan antar pasukan dalam barisannya sendiri.

Di dasari keingintahuan yang begitu tinggi, akhirnya saya beranikan diri membuka selimut tebalnya dan bertanya, "Apa yang mengganggumu?"

Meski terlihat risih, ia tetap berbaik hati memberikan jawaban atas pertanyaanku tadi, "Aku tidak diterima disini, aku tahu menjadi orang baru dan masuk dilingkungan baru butuh penyesuaian."

Seketika ia terdiam dan terlihat bingung mau melanjutkan ceritanya dari mana.

"Yah, memang sejatinya segala hal yang baru butuh waktu untuk bisa diterima." Aku mencoba mencairkan suasana.

Abduh sedikit sibuk membenarkan posisi duduknya, setelah terdiam beberapa saat ia kembali bercerita, "Ternyata ketidaksepahamanku dalam bergerak membuat risih dan friksi antar teman dibarisanku. Ia ingin aku maju kedepan disaat keputusanku untuk bertahan telah bulat. Bahkan aturan main kami berbeda, waktu yang kita miliki juga berbeda, saat aku istirahat ia bekerja dan saat aku bekerja ia istirahat.

dan yang membuat aku paling tidak tahan adalah; gaya bicaranya yang seolah-olah ingin aku layani ia dalam duel fisik. Hey, aku tidak ingin membuang-buang tenagaku untuk hal tidak berguna semacam itu. Anak kecil seperti dia mana tahu kalau aktivitas kita banyak. Bahkan untuk sekedar marah dan adu argumen sambil teriak-teriak akan membuat lelah otak dan fisik, padahal masih banyak tugas yang mesti diselesaikan."

"Dan akhirnya kau layani provokasi temanmu?"

"Ya, dan aku menyesal setelah itu."

"Lalu." aku kembali bertanya

"Aku ingin menangis."

Abduh pun mulai menangis, lalu kami duduk dalam diam.



****
Istana Peradaban, 21 November 2014.

Jumat, 17 Oktober 2014

Lam Akun Syai'an Madzkuron

Aku berhenti, 
dalam sunyi aku berhenti.
Kata-kataku mati,
tanganku mati.

Duduk diam tak ada kata,
duduk diam tangan seperti tak ada.

Di depan tuts keyboard hampir tak ada yang bisa kukatakan, mulai dari rasa sebal yang entah sejak kapan mulai menggerogoti kesabaran yang sempat dibangun di setiap petak hatiku, hingga rasa hampa karena tak bisa merespon segala bentuk pelecehan yang kuterima belakangan ini.

Kekesalan ini berulang, dan tumbuhlah benih angkara di kedua belah tanganku yang mulai jauh dari aksi-aksi kebaikan. Kaki yang mulai tenggelam di kubangan lumpur dendam, kini tak lagi bisa dilangkahkan ke rumah-rumah yang membutuhkan aksi kepahlawanan.

Di satu tempat aku meminta, "Hai kawan, buatlah karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."

Di lain tempat kembali kupinta, "Bagaimana kawan? esok telah bergantung pada karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."


Ah, tai lah?! dulu kita sama-sama berikrar untuk jatuh bangun membela kebenaran. Bukan, bukan karena aku merasa enek ditinggal sendirian. Tapi memang kesendirian itulah yang memperkosa segala harapan yang dulu sempat kita tanam bersama.

Aku cukup terhenyak dengan segala kesibukan kalian, tingginya jabatan kalian, dan kagumnya para akhwat dengan aktivitas kalian. Duh, apalah saya ini dihadapan kalian, setitik noktah yang bisa dicuci dengan ditergen seharga satu potong bakwan.

Angkatlah dagu kalian selama mungkin, selama jabatan kalian masih tinggi di hadapan para manusia, selama kesibukan kalian terus dikagumi oleh para akhwat se-jagad. Selama, selama Lam Akun Syai'an Madzkuron.


***
17 Oktober 2014

Kamis, 16 Oktober 2014

Menunggu dalam Dingin, Gelap dan Sunyi

Di pojok tersembunyi sebuah rumah kos-an, aku mendengar sayup-sayup seorang kawanku berbisik kepada handphone yang sibuk ia genggam setengah jam lamanya, "Mau bagaimana lagi, aku memang mencintaimu."

Deg, aku tak sengaja mendengar kata-kata itu, tak berniat menguping karena kebetulan ia berada di balkon rumah sedangkan aku berada di ruangan sebelahnya. Kata-kata kawanku barusan membuat aku merenung sebentar, sebuah renungan tentang arti menunggu, karena sejatinya kawanku yang sibuk dengan kekasihnya yang ada di handphone itu sedang menunggu dan ditunggu.

Menunggu dan ditunggu, mungkin aku juga sedang seperti itu.


***
"Tapi, benarkah aku sedang menunggu?" batinku bertanya-tanya,


Dalam lautan permasalahan yang sering menenggelamkan pikiranku, arus yang paling kuat menyeretku ke dasar jurang paling dalam adalah cinta. Jika kita berbicara tentang cinta yang yang tak terlihat ujungnya, maka ia memiliki sifat yang dingin, gelap, dan sunyi.

Dalam karakteristik kehidupan, cinta itu seperti bunga, namun karena bunga cinta ini tak akan bisa dicabut dalam waktu dekat, maka biarlah ia melayu untuk beberapa saat, tak perlu lagi aku siram ia dengan harapan dan kupupuki ia dengan janji-janji manis pasangan yang sok romantis.

Cinta, aku memang takut tidak bisa memilikimu, melihatmu di setiap pagi cerahku, mencium harum segar dari kelopak indah bungamu.


***
Ah, akhirnya aku sadar betapa egoisnya diriku, ternyata aku lebih mementingkan cita-citaku dari pada bersegera memperjuangkanmu dan menjaga keagunganmu.

Ternyata dan dari sekian banyak kenyataan buruk milikku, aku tak tau, aku tak tau apa mungkin kau akan tahan dengan sikapku ini. Mungkin kau akan muak dan ingin mencari kebun yang akan merawat keindahan dari setiap helai kelopak cintamu, tidak menungguku dalam rentang waktu yang tak juga menentu. Mungkin juga kau akan menunggu dengan rasa was-was dan ragu.

Penantian yang tak menentu itu seperti arus yang menyeretmu ke kedalaman lautan yang dingin, gelap, dan sunyi. Apakah pantas aku ditunggu di tempat seperti itu?