My Movements Trip.

Senin, 24 Maret 2014

Rumah Tua



Ini adalah tulisan galauku, entah kenapa aku sudah sangat jarang lagi bercerita dalam blog ini. Ada kisah dimana hari-hariku dipenuhi dengan semangat bergerak, ada hari dimana kaki-kaki yang mulai kelelahan ini masih terus dipaksa berlari, dan ada hari dimana aku harus duduk termenung dipojok ruang kamarku, sambil menahan pilu, dan duka dari negeri yang terus diberondong peluru.

Namun kali ini, ini adalah cerita rasa galauku, rasa galau yang memuncak tatkala kenyataan telah menampar wajahku, rasa nyamanku, dan seluruh ketenangan yang sudah kutanam sejak 3 tahun aku menghuni ‘rumah tua’ ku. Ya, ini tentang perpindahan, sebuah rutinitas lama tatkala di pondok ku dulu. Pindah kelas, ruang tidur, hingga bertukar teman ranjang di bawah tempat tidur bertingkatku.

Aku ingin mengenang sebuah rumah yang menyimpan atsar-atsar perjuanganku saat di tingkat satu dulu, sebuah masa yang menjadi pertaruhan oke atau tidaknya aku kan terus melangkahkan kaki di Universitas tertua ini. Tak ada yang mudah di tahun pertama bagi mereka yang tidak bisa berbahasa dan menciptakan kata-kata seperti diriku, namun berkat karunia yang maha kuasa, akhirnya aku mampu melewati masa-masa itu melalui motivasi teman satu kamar waktu itu.

Rasa nyaman dan kenangan selalu terbayang dalam lamunan dan tidur siang, tak terkecuali harga sewa yang sesuai dengan dompet mahasiswa; membuat diri ini enggan untuk meninggalkan si ‘rumah tua’.

Namun kata perpisahan akan terus melekat bagi mereka yang telah mengalami pertemuan, maka biarkanlah perpisahan ini menjadi perpisahan yang kelak akan memotivasi daya juangku, semangat produktivitasku, dan menghembuskan angin-angin kemenangan di relung hatiku yang terdalam.

Selamat tinggal ‘Rumah Tua’

Hussain, 24 Maret 2014.

Senin, 03 Maret 2014

Menghindari Peperangan dengan Kepedulian.



Banyak, akan banyak hal menjadi percuma saat perang berkecamuk.

Kini militer Rusia pun sedang melakukan invasi di Republik Krimea, salah satu daerah otonom dari negara Ukraina. Padahal masalah pembantaian umat muslim di Afrika Tengah belum juga terselesaikan, Mesir masih penuh goncangan, Palestina kini di ujung perjanjian yang tak berimbang, Suriah terus berkecamuk, Turki terus ditekan dari berbagai medan.





Jika kita sempat membaca tulisan Anis Matta tentang gelombang ketiga, kita akan menyadari bahwa generasi muda kita, terutama di Indonesia, adalah generasi yang merasakan bahwa demokrasi adalah sebuah pemberian, tanpa merasakan bahwa pemberian ini mesti dilalui dengan sangat susah payah oleh generasi-generasi sebelumnya.

Sedikit kita bergeser tentang konsep gelombang ketiga ini, kita sebagai generasi muda terpaksa mengakui akan kepasifan kita dalam dunia pertempuran-bersenjata, antar negara yang satu dengan yang lainnya, kita terbiasa hidup dalam kedamaian, tanpa merasakan ancaman dari pihak luar.

Lalu datanglah media-media dengan idenya tentang musuh-musuh baru kita, mereka menanamkan pemikiran bahwa tetangga kita adalah ancaman kehidupan dan kesejahteraan kita, antara kelompok yang satu dengan yang lainnya membawa misi dan propoganda yang berbeda, sehingga satu dengan yang lainnya harus saling angkat senjata.

Dan hal-hal tersebut membuat kita tidak sadar, bahwa musuh sedang mengintai dengan senyum yang lebar. persatuan yang dulu kita elu-elukan dan dipertahankan sekuat tenaga, kini mulai rapuh dengan sendirinya, sehingga musuh tak perlu lagi mengangkat palu dan baja untuk kembali menjajah negeri kita.

Sejatinya, hal ini sudah banyak tertulis di buku-buku sejarah, termasuk sebuah pepatah yang mengatakan:

"Those who do not know history's mistakes are doomed to repeat them."
Mereka yang tidak tahu kesalahan dalam sejarah, ditakdirkan untuk mengulanginya.

Maka, ketidak-pedulian kita akan kejadian-kejadian diluar sana dan perselisihan yang terjadi di antara kita, kelak akan membimbing diri kita sendiri memasuki dunia yang penuh dengan kekacauan tersebut. Kenapa harus kepedulian?

Ya, karena orang tua kita pada zaman dahulu berhasil menghentikan perang berlandaskan kepedulian mereka dalam menghormati sebuah nyawa, mereka sadar bahwa peperangan hanya membawa kepada kesengsaraan, entah itu di pihak yang kalah ataupun yang menang.

Dan rasa sadar itu timbul setelah mereka merasakan, merasakan pahitnya ditinggal oleh orang-orang yang mereka sayangi dan cintai. Tak ada pesta bagi negara yang tertindas ataupun yang menindas, yang ada hanyalah upacara duka mengiringi kepergian saudara-saudara yang telah pergi ke alam baka.

Namun, cukuplah kepedulian dan kesadaran itu muncul tanpa harus merasakan segala kepahitan itu secara langsung, melainkan dengan mempelajari sejarahnya, lalu menjauhi segala kesalahan-kesalahan yang menjerumuskan kita kepada lubang yang sama.

Maka marilah kita jaga terus persatuan kita, dan kita jaga orang lain yang ingin hidup dalam kedamaian bersama kita.

Wallahu a’lam.

Rabu, 26 Februari 2014

Merah atau Kuning?





Suatu ketika, seekor Keledai yang sering di ganggu oleh Harimau mendatangi Singa, lalu ia bertanya kepada nya,
 
“Bukankah engkau Sang Raja di hutan ini?”
 
“Tentu, apa yang terjadi?” jawab Sang Singa sambil melemparkan pertanyaan kembali.
 
Keledai itu berkata, “Seekor Harimau memukul tepat di wajahku setiap kali ia bertanya ‘Kenapa kau tidak menggunakan topi?’, kenapa ia memukulku? lalu topi apakah yang harus aku pakai?”
 
Maka Sang Singa menjawab, “Biarkan aku mengurus masalah ini...”
 
Dan ketika Sang Singa bertemu Si Harimau, bertanyalah Singa tersebut terkait masalah topi yang sedang diributkan, Maka Si Harimau Menjawab,
 
“Hanya sebagai alasan agar aku memukul dia.”
 
Maka Sang Singa berkata,”Carilah sebab yang jelas, misalnya mintalah ia untuk mendatangkan sebuah apel, jika ia memberikan apel berwarna kuning, maka pukullah dia katakan kepadanya kenapa kau tidak mengambil apel merah?, dan jika ia memberikan apel merah, pukullah dia dan katakan kepadanya kenapa tidak mengambil apel kuning?...”
 
“Alasan yang bagus...” timpal Si Harimau.
 
Dan di hari berikutnya, Si Harimau  meminta kepada Si Keledai untuk mengambilkan sebuah apel. Tiba-tiba Si Keledai teringat sesuatu hal lalu bertanya,
 
“Kamu menginginkan yang berwarna merah atau kuning?”
 
Seketeika Si Harimau berkomat-kamit dan berkata, “Merah, atau kuning, merah atau kuning..?”
 
Langsung saja ia memukul Si Keledai, lalu bertanya,
 
“Kenapa kamu tidak memakai topi!?”
 
****
Orang zalim itu; tidak membutuhkan sebab agar ia berlaku zalim...

terjemahan dari sini

Selasa, 25 Februari 2014

Al-Aqsha Kembali Diserang

 25 Februari 2014


Setelah satu jam keberangkatanku menuju lapangan Kotameya (tempat dimana diselenggarakannya acara Sumatra Cup tahun ini) pagi tadi, ternyata masjid Al-Aqsha kembali diserang oleh kelompok Zionis-Israel.

Dada ini kembali bergemuruh, ternyata pembantaian yang terjadi di Afrika Tengah beberapa waktu yang lalu tidak membuat orang-orang dzolim itu berpuas diri.

Kekejian itu terus berlangsung, penistaan itu tak kenal waktu dan tempat, namun target mereka tetap, umat Islam.

Itulah mengapa kita, umat Islam, begitu mengkeramatkan sebuah nyawa, bahkan darah seorang muslim itu lebih mulia dari tempat suci-Ka'bah sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.

Jangan sampai lupa di benak kita, sebuah pepatah arab yang berbunyi;

Berkata banteng Merah kepada dirinya sendiri tatkala ia sendirian berhadapan melawan singa, "Aku dimakan sejak dimakannya banteng putih."

Ya, tepatnya waktu itu ia terpedaya oleh si Singa tatkala ia membiarkan si Singa memakan kawan-kawannya, banteng putih dan banteng hitam. hingga tak ada lagi teman yang dulu dengan merekalah ia menjaga diri dari si Singa.

Dan tidak menutup kemungkinan, pembantaian-pembantian itu akan terus mendekati selimut-selimut hangat kita ini, Na'udzubillah min dzalik.

Maka dari itu, mulai kita menjaga diri kita dengan menjaga orang-orang di sekitar kita!

 ‪#‎AlAqshaUnderAttack‬  ‪#‎SavePalestine‬

foto Facebook

Senin, 17 Februari 2014

Muslim Sebagai Tuan Bagi Kaumnya

[Teruntuk mereka yang mengatakan bahwa politik itu busuk]

Ya, politik itu memang busuk, jika kita menyerahkan kepada mereka yang tidak berpegang teguh dan mengamalkan ajaran agama ini, serta mereka yang menyimpan rasa dengki dan hasad terhadap umat muslim.

Maka seharusnyalah seorang muslim itu menjadi pemimpin bagi kaumnya, mengurusi kebutuhan mereka, dan menjaga mereka dari rasa takut.

Hasbunallah wa ni'mal wakil, video ini hanya sebagian kecil dari pembantaian-pembantian yang terjadi akibat kita mengacuhkan pentingnya kekuasaan, karena kita lihat; tentara-tentara di negara tersebut pun ikut melakukan penyiksaan.

Mari kita jaga diri kita, orang tua kita, saudara-saudara kita, istri-istri kita, serta anak-cucu kita, dengan menjaga hak-hak orang lain, dan menjaga hak-hak orang lain tidak bisa tidak kecuali hanya dengan kekuasaan; yang berarti ikut serta dalam memilih pemimpin-pemimpin yang jujur, amanah, dan terpercaya serta mau bekerja untuk kebaikan umat dan bangsa.

Kalau bukan kita yang memilih pemimpin-pemimpin tersebut, siapa lagi?

Jangan sampai harta, jabatan,  anak-istri dan setumpuk kenikmatan dunia lainnya membuat kita cuek dengan penderitaan orang-orang di sekitar kita.

klik link di bawah ini untuk melihat video pembantaian umat muslim di Afrika Tengah.

Minggu, 16 Februari 2014

Agar Kita Tidak Merugi

Ada yang belajar, ada yang bekerja, namun yang belajar tetap memberikan sedikit waktunya untuk bekerja, dan yang bekerja juga meluangkan waktunya untuk belajar.

Jika kita perhatikan, sejatinya dunia ini terlalu kompleks untuk ditangani dengan satu ilmu saja, ataupun satu amalan saja, bagaimana kalau kita sama-sama bergandengan tangan. ya bergandengan tangan, bahu-membahu mewujudkan dunia yang kita impikan.

Dengan ilmu kita masing-masing dan amalan kita masing-masing, dalam ruang lingkup ukhuwah islamiyah. tak masalah seragam yang kita gunakan apa, sebagai mahasiswa, juru dakwah, pejabat pemerintah, pengacara, pengusaha, petani, atau supir bus sekalipun.

Ingat!, di sisi lain meskipun kita sudah beriman dan beramal saleh, tatkala kita sudah tidak mau lagi saling bertukar nasihat dalam kebenaran dan kesabaran, maka kita tetaplah menjadi orang yang merugi. Na'udzubillah min dzalik.

 1. Demi masa.
 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al 'Ashr: 1-3)

Semoga Allah tidak menjauhkan kita dari nasihat-nasihat yang menguatkan kita agar kita terus berpegang teguh dalam agama ini, Amin.

Salam 3 Besar. Cinta, Kerja, dan Harmoni.

Hussain-Kairo, 16 Februari 2014.

Senin, 10 Februari 2014

Harapan Itu Masih Ada

Orang sukses itu optimis, salah satu bentuk optimis adalah berani mengambil keputusan, jika ia salah, segera ia berbenah diri, dan tidak berkabung secara terus-menerus di dalam lubang keputus-asaan. Sedangkan sikap anti politik yang terlahir karena melihat ada sebagian oknum melakukan korupsi; adalah salah satu bentuk keputus asaan.

Karena itulah kita selalu berkata "Harapan itu masih ada", karena kita optimis, bahwa diri kitalah yang akan melakukan perubahan. Dan jika perubahan berskala besar tidak bisa dilakukan hanya oleh segelintir orang, maka gotong-royong menjadi sebuah kewajiban untuk meraih perubahan tersebut. Dengan seragam kita masing-masing, pilihan kita masing-masing, keahlian kita masing-masing, dilandasi dengan keprcayaan dan ukhuwah islamiyah mari kita ubah Indonesia menjadi ‘Sepenggal Firdaus’ di pojok Asia sana.

Menyongsong pembebasan Palestina & #TRW_PKSMesir