My Movements Trip.

Jumat, 05 Februari 2016

Selamat!

Oia, nggak mau lupa untuk hari ini.
"Kita masih punya mimpi itu kawan. jika bukan kita yang merasakan buah perjuangan ini, maka generasi setelah kita yang akan merasaknnya." Ucap bang Muttaqin.

Bersabar dengan sabar yang baik. :)
"Semoga kita bisa segera punya sekertariat."

Selamat buat gw yang udah jadi Demisioner.
Selamat buat saudara saya Salman Arif, Direktur SINAI. Semoga Allah Swt selalu menyertaimu.
Selamat buat Adik Miqdad, semoga bisa selalu menemani bang Salman.

Sinai @syathibi_Bawabat.. 5 Februari 2016
Dari jum'at Dua Puluh Tiga tahun silam hingga jum'at senja hari ini yang tak pernah lelah membisikkan kata cinta dikehidupanku.

Aku menyayangi kalian karena Allah. Inni uhibbukum fiLlah.

Resep Bahagianya Sudah Ditemukan

Kamu

Kamis, 04 Februari 2016

Saya Punya Masalah

Namun ternyata, orang lain punya masalah yang lebih besar dari saya.

Terima kasih bang Dayat atas nasihat malam ini.
"Jadi, masalah kita apa sih? Baper?" begitu ia menyindirku.

23. Semoga lebih baik.

Selasa, 02 Februari 2016

Lari dari Tanggung Jawab

Rasanya malu banget, dan nggak tau muka ini harus ditaruh di mana.
Yang lebih parah, diri ini masih saja mencari pembenaran. Dan ngerasa bener lagi. hadeh..

Bukan Waktu yang Sebentar

Akhirnya gw sadar, Dua tahun bukan waktu yang sebentar dan mudah untuk dilewati. Untuk mengejar Sembilan Target itu; pikiran harus jernih, usaha maksimal, dan manajemen waktu sebaik mungkin.

Terkait pikiran jernih... harus di landasi dengan jiwa yang kuat dan jauh dari kegalauan. 
Si Do'i cantik, pintar dan berkarakter.. tapi masih belum punya kamu. 

Fokus ke target, bukan si Do'i. 

Sabtu, 30 Januari 2016

Bertahan

Pagi ini aku masih memegang bara api itu, sumber kehidupanku, harapanku. Perih. Panasnya membakar kulit jemari. Ingin rasanya kusisihkan sebentar, tapi lagi-lagi rasa takut membuang jauh pikiran itu.

Ya, Takut adalah salah satu anugrah Tuhan.

“Ampunan-Mu Ya Allah.. ampunan-Mu Ya Allah.”

***

Sebagai pemuda pada umumnya, aku juga memiliki banyak keinginan. Terkadang ingin segera merealisasikan semua itu pada satu waktu, namun beberapa target sering berdesak-desakan.

Do’a. kini aku menggantungkan harapan itu pada do’a. Harusnya, sebagai seorang muslim yang beriman, aku percaya Tuhan tak akan pernah menelantarkan hamba-hambanya. Sehingga tidak perlu ada rasa gundah, resah, dan gelisah yang mengganggu kita untuk segera mengejar target-target dunia maupun akhirat.

Ah, cinta… akupun mencintaimu karena kurasa; kaulah yang mampu membantuku untuk terus bersabar dengan Bara Api ini. Tapi begitulah, manusia hanya bisa merasa.
Namun jangan lupa, ia (Manusia) juga punya do’a.

Jika Bara Api ini terlepas sebentar saja lalu ia hilang dan  aku tersesat ditengah rimba dunia ini, sungguh itu adalah sebuah kerugian yang akan sangat kusesali. Meski perih dan panasnya membakar kulit jemari, biarlah…

Wahai orang-orang yang kucintai, Umi, abi, adik2, rekan, kawan, sahabat, dan kamu yang namanya ada di masa depanku,

“Terimakasih atas motivasinya, dan jangan pernah bosan mendo’akan saya yang cengeng ini, huhuehue.”

#BIGHUG #BeginToSmartMove

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

30 Januari 2016

Kamis, 07 Januari 2016

Aksara kita adalah "Diam."

Dear, Umi.

Sudah lama kita tidak saling bertemu, dan sepertinya memang harus begitu. Kau menaruh sebuah cita besar dipundakku, yang harus dibayar dengan tumpukan rindu.

Dan kini, akhirnya kata romantis tentang cinta bisa sama-sama kita aksarakan dengan satu perbuatan; “Diam.”  

Kau tau aku begitu cengeng, anak ingusan yang selalu menangis jika ditinggal olehmu. Maka sejak kecil bocah yang suka usil dan membuat abi tak pernah istirahat ini dititipkan di rumah Paman, dididik agar tau aturan.

Seingatku kau dilarang datang menjenguk, katanya sih agar bocah cengeng ini tak terus-terusan menangis di pelukan sang ibu. Aku yang biasa dimanjakan olehmu pun tak pernah lepas dari tangan besi paman, tak segan-segan ia menjewer telinga jika aku menunjukkan gejala nakal.

Tak tau, didikan itu berlangsung berapa lama, tapi setidaknya usahamu untuk merubah anak ingusan ini tak pernah berhenti di situ. beberapa kali kau coba masukkan aku ke pondok tahfidz, ide iseng Abi dan dua kawannya yang ingin anak-anaknya menjadi para penghafal al-Qur’an. Dua kawanku berhasil, aku tidak. Well, katanya sih karena aku terus-terusan menangis dan tak pernah berhenti melafalkan namamu.

“Umii.. umi..” lalu ada isakan kecil dan kembali kuucap, “Umi.. umi..”

Dan hal itu terus berulang sepanjang malam.

Hingga kini banyak yang tak berubah, namun waktu tetaplah berlalu. Meski aku sering bercerita kepada abi, tapi hanya nasihatmu yang kupatuhi. “jangan lupa minum air, beli buah. konsumsi susu.”

Hanya itu saja. Ya, bagimu aku tetaplah bocah yang selalu menangis dalam pelukan ibunya. Kita tak pernah berbicara tentang hal-hal dewasa; kapan menikah? calonnya siapa? Bagaimana persiapannya? Betul, hal-hal itu biar lah menjadi pembicaranku dengan laki-lakimu.

Aku tahu kau tak siap membicarakan hal itu bersamaku, sebagaimana aku juga tak siap melihat kemungkinanan perpisahan yang lebih lama denganmu.

Tahun lalu, kau berkenan memperpanjang masa penantian. Dan dalam Diam aku berjanji untuk pulang pada akhir tahun ini; dengan Kabar Baik ataupun Kabar Buruk hasil ujian S2 Azhar nanti. Lalu kembali aku akan menangis di pelukanmu. Tangis bahagia? atau tangis sedih? Hal itu bergantung dengan hasil target tahun ini.

Apa yang terjadi nanti masih Rahasia, tapi ia adalah masa depan yang akan menyambut kita.. mau ataupun tak mau. Dalam diam, sunyi, dan sepi kita beraksara tentang cinta. Juga cita sejak dulu kala. Dan aku bahagia, kau begitu percaya kepada bocah cengeng ini.

***

Yup, percayakan padaku untuk mempersiapkan beberapa kemungkinan nanti.

“Successful people realize they cannot control everything, and anticipate mistake. Plan for mistake, and you will deal with them rationally and efeciently as they arise.”


Madinat Zahra, 7 Januari 2015.