My Movements Trip.

Minggu, 01 Juni 2014

Pemahaman itu Seperti Cinta

"Pemahaman itu seperti cinta,
tidak bisa dipaksakan."
-Fiki

Begitulah kawanku berkomentar ditengah diskusi membahas madah Ushul Fiqh yang saat itu akan segera diujikan, kami semua tersenyum dan tertawa oleh celetukannya yang ringan.

Lalu,
Ushul Fiqh selesai.

Bersyukur, meski pahit rasanya tidak bisa menjawab dengan baik, setidaknya usaha sudah maksimal, ya maksimal dalam kategori orang malas seperti saya sih. 

Berbicara tentang rasa malas, saya pun punya alasan untuk menjadi orang malas, setidaknya agar orang rajin terus eksis di dunia ini. Bisa kalian bayangkan kalau di dunia ini tidak ada orang malas seperti saya?

Begitu pula tentang cinta, orang malas seperti saya hanya bisa berandai tanpa berusaha, tentu jika usaha dalam meraih cinta diartikan dengan seperti ini; berjalan ke rumah calon mertua - lalu bertanya, "Boleh saya melamar anak bapak."

Tapi memang nasib bujang berkepala-dua, yang ada juga malah senior yang bertanya,

"Kapan nikah broh?"

"Gimana? calonnya masih mau nunggu ngga'?" dan yang lebih horor.

"Ngga' takut calonnya direbut orang?"

Namun kecerdasan memang sengaja Tuhan anugrahkan kepada saya, hidup dibelakang para pendahulu yang selalu diam ketika ditanya soal nikah, akhirnya saya tumbuh menjadi seorang lelaki yang jago berkilah,

"Dua tahun lagi, InsyaAllah."

Fiki, nama kawanku yang mengatakan "Pemahaman itu seperti cinta" memang bukan seorang yang sembarangan. Diantara kita yang masih bujang, beliau adalah sesosok laki-laki gagah yang sudah siap menikah, proposalnya pun sudah diterima oleh pihak sebelah.

Setidaknya materi Ushul Fiqh yang sedang kami pelajari makin menguatkan kata-kata Fiki, 'Adalatur Rawi adalah syarat mutlak dalam penyampaian Khabarul Wahidi.

'Adalatur Rawi adalah sifat yang mencerminkan keadilan dari seorang Rawi (penyampai berita), dan sebagian besar ulama berpendapat...........bla.bla..bla..

Intinya, berita yang disampaikan Fiki bisa kita terima, dan setidaknya secara kaidah Mafhum Mukholafah; kita mengetahui bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan seperti memahami pelajaran Ushul fiqh. (apalagi mencoba paham saat satu jam sebelum ujian dimulai)

Jadi, kamu yang duduk disana, tenang aja ya..


Darrasah, 6 Juni 2014.

Jumat, 30 Mei 2014

Catatan Sore, H-2 Ujian Ushul Fiqh.

Ajaib, ternyata waktu senggang telah melalaikanku. Sepuluh hari jeda waktu yang kami miliki mulai 22 Mei hingga 31 Mei; tidak dapat digunakan dengan semaksimal mungkin.

Waktu libur panjang yang kami dapati ini; disebabkan Pemilu Presiden yang sedang berlangsung di Mesir pada tanggal 25 dan 26 Mei. Hal ini memang memberikan waktu lebih untuk mempersiapkan pemahaman yang masih berantakan, lantaran kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung pada fase musim panas ini terhitung sangat sedikit, dan terlalu terburu-buru. Namun alhamdulillah, hal itu tidak menyurutkan semangat para penuntut ilmu.

Jangan khawatir kawan, keadaan yang tidak tenang pasca kudeta yang dilanjutkan pencalonan si komandan kejam tak terlalu mengganggu rutinitas belajar kami. Setidaknya kesadaran kami akan kondisi Mesir yang memang tidak stabil membuat kami lebih tangkas menyusun tugas.

Saya yang notaben-nya belum pernah merasakan kondisi perkuliyahan di Indonesia, tidak bisa membandingkan perbedaan apa saja yang membuat tempat saya berkuliyah di Mesir ini terlihat keren di mata para pembaca, begitupula persamaan-persamaan yang mungkin bisa kita bahas untuk perbandingan dengan kalian.

Tapi setidaknya, musim panas yang sudah memasuki panas setinggi 40 derajat memaksa kami lebih sering memeluh keringat. meski harus berhadapan dengan soal-soal ujian super ketat, tapi kami diberi kelebihan waktu siang yang juga super panjang. meski tak ayal, waktu pagi yang sejuk sering menggoda kami untuk lebih sering terlentang di atas kasur bertumpuk.

Ujian kali ini insyaAllah akan terus berlangsung sampai 8 Juni, lalu dilanjutkan Ujian Lisan yang masih belum dipastikan waktunya.

Oia kawan, jangan sungkan-sungkan untuk memberi dukungan kepada kami ya, meski terkadang banyak mainnya, tidurnya, candanya. InsyaAllah tetap, kami akan terus berusaha untuk menjadi pemikul beban masa depan bangsa. Maka do'a kalian adalah sesuap harapan yang akan melangsungkan semangat kami untuk bisa cepat selesai di bangku perkuliahan ini.

Dan juga, Indonesia di ujung peralihan kepemimpinan.

Kami mohon pilihlah pemimpin yang baik, jujur, dan amanah, yang memiliki ketegasan dan kekuatan untuk membangun Indonesia kedepan. Dia yang tidak mengekor kepada pihak asing, apalagi menjadi boneka untuk melanjutkan permainan mereka.

Karena kami tidak ingin pulang hanya untuk dihinakan sebagaimana yang terjadi di Negeri tempat kami sedang menuai ilmu agama ini.

Kalaupun kalian memilih bukan untuk kami, setidaknya pilihlah demi orang-orang yang kalian cintai, yang sedang kalian cintai saat ini, atau di saat yang akan datang nanti.



Oh iya, saya lagi persiapan ujian, pamit dulu ya kawan!
Saya sih pilih Pak Prabowo, kalo kamu?

Sore di Darrasah, 30 Mei 2014.

Minggu, 11 Mei 2014

(Aku Kira) Ini Salahmu

Aku kira, aku bisa saja melupakanmu..
namun tidak begitu, jika langit tetap saja biru,
atau jika diri ini tidak juga berhenti menggerutu,
aku kira semua ini salahmu.

ya, tak mungkin aku terus menyalahkan langit kan?
meski dalam naungannya ia terus menampakkan sileut wajahmu,
meski dalam pendar cahayanya ia mengingatkan kehangatan tawamu.

terkadang gerutu ku, juga ku arahkan kepada sang rembulan,
"payah, tak bisakah kau berhenti tersenyum mengejekku"

atau kepada desahan angin yang sering menerobos jendela kamarku,
"Oh.. berhenti kau sebut nama itu."

Jujur, ingin saja ku lupakan namamu,

hingga akhirnya suatu waktu aku duduk di hadapan ayahmu
mengucapkan lafadz, "Qobiltu"

tapi aaahhh...
lagi-lagi gerutu ku ingin kusampaikan kepada sang waktu,
"Kelamaan, kapan kau akan menghampiriku?"

--- Namun ku urungkan niatku, takut dijawab oleh sang waktu,
 "Emang isi dompet lo berapa?"

Hussain, 5.11.14

Sabtu, 19 April 2014

Masih terbuka: Momentum untuk Merebut Kemenangan!

GebleeeK*!! Setelah sadar kondisi negara tempat belajar saya lagi ngga' aman, Sadar kemampuan belajar masih awut-awutan, sadar standar belajar ngga' bisa dipaksakan, sadar jika kesibukan bisa terpinggirkan hanya karena sebuah ajakan untuk bersenang-senang, SADAR SEBENTAR LAGI UJIAN AKAN DILANGSUNGKAN.

Akhirnya setelah kesadaran itu muncul, lalu diiringi dengan komitmen untuk fokus kepada tujuan yang utama,

"Akhirnya saya optimis, saya bisa melewati ujian tahun ini dengan senyum."

Karena apapun hasilnya, kelak tak kan ada kesombongan setelah kemenangan, dan tak ada jua kesedihan meski dihantam badai kekalahan.

Karena semua perhatian sudah difokuskan, manjemen waktu telah dimaksimalkan, kerja sama telah dilakukan, tugas telah sama-sama dibagi kepada tiap perorangan, bantuan pun telah datang.

Maka tak ada waktu untuk menyerah sebelum pertandingan, karena hari-hari pertempuran masih panjang. masih ada momentum untuk merebut kemenangan.!!!

OPTIMIS UNTUK TINGKAT EMPAT DI TAHUN AJARAN YANG AKAN DATANG!



Darrasah, 20 April 2014.

-----

*GebleeeK: Kalimta yang biasa kuucapkan ketika takjub. :D

Jumat, 11 April 2014

Tantangan Demokrasi

Tantangan yang kita hadapi dalam sistem Demokrasi ini adalah; tantangan untuk mencerdaskan seluruh elemen masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

Pemeran dan aktor-aktor yang kapabel untuk terjun menghadapi tantangan ini haruslah memiliki sifat-sifat yang juga dimiliki oleh para da'i, langkah-langkahnya pun sama sebagaimana yang dilakukan oleh para Juru Dakwah.

Mereka disebut sebagai "Agen Perubahan", karena mereka menuntun masyarakat disekitar mereka dari kejahiliyahan (ketidak-tahuan) menuju Nur Islam (cahaya Islam) yang sering diibaratkan dengan pengetahuan.

Dan yang diharapkan dari pengetahuan tersebut; kita yang tadinya bergerak dalam sekala kelompok-kelompok kecil maupun individu, berubah menjadi gerakan yang bergerak dalam skala peradaban dan bangsa.

Itulah tantangan yang kita hadapi pada saat ini, pada generasi kita sekarang. Karena pada setiap generasi memiliki tantangan mereka sendiri-sendiri, dan memiliki agen perubahan mereka masing-masing.

Dan kata Anis: "Jangan Menanti, kita semua adalah pahlawan!."

Senin, 24 Maret 2014

Rumah Tua



Ini adalah tulisan galauku, entah kenapa aku sudah sangat jarang lagi bercerita dalam blog ini. Ada kisah dimana hari-hariku dipenuhi dengan semangat bergerak, ada hari dimana kaki-kaki yang mulai kelelahan ini masih terus dipaksa berlari, dan ada hari dimana aku harus duduk termenung dipojok ruang kamarku, sambil menahan pilu, dan duka dari negeri yang terus diberondong peluru.

Namun kali ini, ini adalah cerita rasa galauku, rasa galau yang memuncak tatkala kenyataan telah menampar wajahku, rasa nyamanku, dan seluruh ketenangan yang sudah kutanam sejak 3 tahun aku menghuni ‘rumah tua’ ku. Ya, ini tentang perpindahan, sebuah rutinitas lama tatkala di pondok ku dulu. Pindah kelas, ruang tidur, hingga bertukar teman ranjang di bawah tempat tidur bertingkatku.

Aku ingin mengenang sebuah rumah yang menyimpan atsar-atsar perjuanganku saat di tingkat satu dulu, sebuah masa yang menjadi pertaruhan oke atau tidaknya aku kan terus melangkahkan kaki di Universitas tertua ini. Tak ada yang mudah di tahun pertama bagi mereka yang tidak bisa berbahasa dan menciptakan kata-kata seperti diriku, namun berkat karunia yang maha kuasa, akhirnya aku mampu melewati masa-masa itu melalui motivasi teman satu kamar waktu itu.

Rasa nyaman dan kenangan selalu terbayang dalam lamunan dan tidur siang, tak terkecuali harga sewa yang sesuai dengan dompet mahasiswa; membuat diri ini enggan untuk meninggalkan si ‘rumah tua’.

Namun kata perpisahan akan terus melekat bagi mereka yang telah mengalami pertemuan, maka biarkanlah perpisahan ini menjadi perpisahan yang kelak akan memotivasi daya juangku, semangat produktivitasku, dan menghembuskan angin-angin kemenangan di relung hatiku yang terdalam.

Selamat tinggal ‘Rumah Tua’

Hussain, 24 Maret 2014.

Senin, 03 Maret 2014

Menghindari Peperangan dengan Kepedulian.



Banyak, akan banyak hal menjadi percuma saat perang berkecamuk.

Kini militer Rusia pun sedang melakukan invasi di Republik Krimea, salah satu daerah otonom dari negara Ukraina. Padahal masalah pembantaian umat muslim di Afrika Tengah belum juga terselesaikan, Mesir masih penuh goncangan, Palestina kini di ujung perjanjian yang tak berimbang, Suriah terus berkecamuk, Turki terus ditekan dari berbagai medan.





Jika kita sempat membaca tulisan Anis Matta tentang gelombang ketiga, kita akan menyadari bahwa generasi muda kita, terutama di Indonesia, adalah generasi yang merasakan bahwa demokrasi adalah sebuah pemberian, tanpa merasakan bahwa pemberian ini mesti dilalui dengan sangat susah payah oleh generasi-generasi sebelumnya.

Sedikit kita bergeser tentang konsep gelombang ketiga ini, kita sebagai generasi muda terpaksa mengakui akan kepasifan kita dalam dunia pertempuran-bersenjata, antar negara yang satu dengan yang lainnya, kita terbiasa hidup dalam kedamaian, tanpa merasakan ancaman dari pihak luar.

Lalu datanglah media-media dengan idenya tentang musuh-musuh baru kita, mereka menanamkan pemikiran bahwa tetangga kita adalah ancaman kehidupan dan kesejahteraan kita, antara kelompok yang satu dengan yang lainnya membawa misi dan propoganda yang berbeda, sehingga satu dengan yang lainnya harus saling angkat senjata.

Dan hal-hal tersebut membuat kita tidak sadar, bahwa musuh sedang mengintai dengan senyum yang lebar. persatuan yang dulu kita elu-elukan dan dipertahankan sekuat tenaga, kini mulai rapuh dengan sendirinya, sehingga musuh tak perlu lagi mengangkat palu dan baja untuk kembali menjajah negeri kita.

Sejatinya, hal ini sudah banyak tertulis di buku-buku sejarah, termasuk sebuah pepatah yang mengatakan:

"Those who do not know history's mistakes are doomed to repeat them."
Mereka yang tidak tahu kesalahan dalam sejarah, ditakdirkan untuk mengulanginya.

Maka, ketidak-pedulian kita akan kejadian-kejadian diluar sana dan perselisihan yang terjadi di antara kita, kelak akan membimbing diri kita sendiri memasuki dunia yang penuh dengan kekacauan tersebut. Kenapa harus kepedulian?

Ya, karena orang tua kita pada zaman dahulu berhasil menghentikan perang berlandaskan kepedulian mereka dalam menghormati sebuah nyawa, mereka sadar bahwa peperangan hanya membawa kepada kesengsaraan, entah itu di pihak yang kalah ataupun yang menang.

Dan rasa sadar itu timbul setelah mereka merasakan, merasakan pahitnya ditinggal oleh orang-orang yang mereka sayangi dan cintai. Tak ada pesta bagi negara yang tertindas ataupun yang menindas, yang ada hanyalah upacara duka mengiringi kepergian saudara-saudara yang telah pergi ke alam baka.

Namun, cukuplah kepedulian dan kesadaran itu muncul tanpa harus merasakan segala kepahitan itu secara langsung, melainkan dengan mempelajari sejarahnya, lalu menjauhi segala kesalahan-kesalahan yang menjerumuskan kita kepada lubang yang sama.

Maka marilah kita jaga terus persatuan kita, dan kita jaga orang lain yang ingin hidup dalam kedamaian bersama kita.

Wallahu a’lam.