My Movements Trip.

Selasa, 18 September 2012

Saya & Kepenulisan


    Tiga hari kebelakang merupakan hari yang melelahkan dan menguras otak saya, bermula dari pelatihan  kepenulisan yang di adakan oleh lembaga kajian “Study Informasi Alam Islami”, yang biasa kita sebut dengan SINAI. berkecimpung dalam dunia tulis-menulis memang bukanlah hal yang baru bagi diri saya , terlebih ketika dulu saya harus menjadi seorang pimpinan mading waktu di pondok ataupun menjadi pimpinan redaksi sebuah buletin kekeluargaan mahasiswa Lampung yang berdomisli di mesir.



    Dulu ketika saya masih di pondok, bermodalkan kemampuan menggambar yang bisa dibilang special dibanding teman-teman yang lain, saya berani megambil amanah untuk menjadi pimpinan mading waktu kelas 2 Madrasah ‘Aliyah, memang saat itu dunia tulis-menulis adalah sebuah hal yang baru bagi diri saya secara pribadi, meminta teman untuk mengisi beberapa kolom kepenulisan di mading tersebut dan saya hanya mengerjakan bagian dekorasi dan ilustrasi adalah hal yang biasa saya lakukan kala itu.

    Namun dengan mengenalnya dunia tulis-menulis tidak membuat saya langsung tertarik untuk berkecimpung di dalamnya, karena waktu saya masih remaja dulu, hal yang paling menarik minat dan bakat saya adalah kegiatan menggambar serta seni bela diri. Dan kebiasaan buang-buang nyoret-nyoret buku ketika “Kegiatan Belajar Mengajar” berlangsung di kelas adalah hal rutin yang mengganggu pencapaian nilai Raport saya ketika masa remaja dulu.. hahaha.



    Mau ataupun tidak, saya harus mengakui bahwa motivasi saya untuk menulis timbul karena pengaruh seorang teman- Rofi Uddarojat namanya, orangnya biasa-biasa saja menurut saya, ganteng engga’,, berkharisma juga engga’, namun yang membuat saya memberikan nilai positif padanya disebabkan oleh tindakannya yang mencerminkan seorang pelajar yang sejati, terlepas dari nilai ideology dan faham beliau yang sedikit liberalis.

    Beliau memberikan suatu hikmah kepada saya bahwasannya dengan menuangkan pemikiran kita dalam sebuah tulisan, kita bisa membawa orang lain untuk berdiri bersama dalam perjuangan yang sedang kita rintis. Saya berdo’a untuk kebaikan beliau, semoga kita bisa bersama-sama mendapat hidayah dari Allah SWT agar kita bisa ikhlas berjuang untuk agamaNya secara mutakamilah dan mutsyamilah- secara sempurna dan menyeluruh, tidak sebatas dalam Aqidah dan Ibadah di masjid saja, bahkan dari segi politik, berinterkasi sesama manusia, dan pendidikan juga harus sesuai dengan apa yang diinginkann oleh Allah dan RasulNya, amin.

    Sering kita dengar ; “Mimpi tanpa kerja nyata adalah nol.”, bisa disebut kata-kata bijak itulah yang menggambarkan saya kala itu. Ketika tahun terakhir saya di pondok, tulisan saya sering terlantar. Ketika saya sudah di mesir dan dekat dengan internet, saya malah keasikan dengan anime dan manga. Hingga sebuah jalan takdir mengubah jalan hidup saya… ciee..

    Lagi-lagi kala itu saya diamanahkan untuk memimpin penerbitan buletin Kekeluargaan Mahasiswa Lampung di mesir, padahal saat itu adalah tahun pertama saya masuk kuliah Al-Azhar.

“Tahun pertama kuliah di Al-Azhar sangatlah menentukan, jika antum Rosib (gagal) maka tahun-tahun selanjutnya akan sangat susah untuk antum jalani dan biasanya berefek malas berkelanjutan, membawa Madah (Mata pelajaran) juga akan memberatkan satu tahun kedepan, maka solusi yang tepat adalah mendapatkan nilai yang bagus. Husnul bidayah wa nihayah.. “

Nasihat seorang senior-ka’ Azzam As-Sidqi, dalam sebuah pengajian.


    Ketika itu saya dilanda kebingungan, antara mengambil amanah itu atau fokus kuliah, karena yang saya tau membuat buletin itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, harus ada rapat dewan redaksi untuk menentukan apa isi dalam buletin itu nanti, lalu mencari penulis-penulis di setiap kolom, juga me-report sumber berita, dan kala itu yang tidak bisa saya temukan adalah seseorang yang bisa mengaplikasikan MS Publisher untuk menentukan tata letak tulisan dan gambar secara professional.

    Ditambah yang mau bekerja dalam tugas ini hanya ada tiga orang.. maka ke khawatiran saya terhadap tugas ini makin menjadi-jadi. Hingga seorang ustadz saya-Ustadz Irwanid Lc., menasehati saya dalam sebuah majlis.

“Amanah itu bukan untuk dikejar-kejar, namun tatkala antum diamanahi oleh seseorang maka ambillah, jika antum membutuhkan waktu lebih untuk menjalankan amanah itu, bukannya waktu belajar antum yang dikurangi, namun yang dikurangi adalah waktu tidur antum.”

    Alhamdulillah satu tahun telah berlalu, seiring berjalannya waktu amanah itu terselesaikan, dan kenyataannya memang tidak sekonyol seperti yang saya pikirkan dulu.  akhirnya jumlah orang yang mau berpartisipasi bertambah menjadi empat orang, bahkan saya begitu banyak mendapat kesempatan untuk belajar tentang dunia desain grafis saat itu. Dan yang tak kalah penting, saya mulai sedikit menemukan karakter kepenulisan saya ketika harus mengisi beberapa kolom yang tidak diisi oleh penulis yang diminta.

    Terselesaikannya sebuah amanah ini rupanya hanya menjadi sebagian kebahagiaan saya saat ini. impian untuk mendapatkan hasil yang bagus di tahun pertama saya kuliah di Al-Azhar rupanya terwujud, Bahkan secara mengejutkan nilai saya sedikit lebih baik dibanding sebagian teman saya yang tidak aktif di organisasi manapun. Dan kepada Allah-lah saya mencurahkan segala rasa syukur atas dikabulkannya segala do’a dan impian selama ini.



Kesimpulan:

    Kini yang saya sadari, menjadi seorang pribadi yang terus bergerak untuk kebaikan diri ini dan orang-orang disekitar kita adalah sebuah proses yang tidak ternilai harganya dan kelak akan membawa begitu banyak keberkahan. Namun tidak bisa dipungkiri, semakin banyak kita bergerak dan semakin banyak kita menulis pasti akan menemui kejenuhan dan jalan-jalan yang terlihat buntu.
Maka salah satu karakter yang harus dimiliki oleh para aktifis dan penulis muda islam adalah bertaqwa kepada Allah SWT. karena Allah SWT sudah memastikan jalan keluar dari begitu banyak kesusahan hanya dengan bertaqwa kepadaNya.

قال تعالى : و من يتق الله يجعلّه مخرج و يرزقه من حيث لا يحتسب

    Maka langkah saya mengikuti tes seleksi perekrutan kader dan sekolah menulis SINAI adalah langkah saya yang selanjutnya untuk terus memupuk kemampuan saya dalam dunia kepenulisan, serta menjadi sebuah pribadi yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang  lain dengan tulisan-tulisan saya. Apalagi saya sadar bahwa saya sangat minim pengetahuan tentang dunia tulis-menulis saat ikut seminar perekrutan kader SINAI.

    Dan satu hal lagi yang sangat saya syukuri, merespon saran dari Ustadz Muhammad Jamaluddin ketika seminar dalam acara tersebut, bahwasannya jika kita ingin memasuki sebuah organisasi, hal yang mesti kita lihat dulu dari organisasi tersebut adalah ideolodi, visi, serta misi mereka, apakah ideologinya bertentangan dengan ideology kita atau tidak?. karena dalam sebuah organisasi kita harus bisa menjadi diri kita sendiri tanpa harus bertentangan dengan ideology organisasi tersebut.

    Dan saya melihat bahwasannya lembaga Kajian Alam Islami ini adalah sebuah komunitas yang tepat untuk menempa diri saya kedepan. “Bersama Islam menuju masa depan gemilang..!!”

    Dan saya meminta bantuan do’a dari rekan-rekan yang membaca tulisan ini agar saya bisa lolos seleksi dan menjadi kru tetap kajian SINAI, yang dimana saat ini saya masih mengikuti tes seleksi dalam acara “Sekolah Menulis SINAI”.

Terima kasih dan semoga bermanfaat.. Hhe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar