Tiga hari
kebelakang merupakan hari yang melelahkan dan menguras otak saya, bermula dari
pelatihan kepenulisan yang di adakan
oleh lembaga kajian “Study Informasi Alam Islami”, yang biasa kita sebut dengan
SINAI. berkecimpung dalam dunia tulis-menulis memang bukanlah hal yang baru
bagi diri saya , terlebih ketika dulu saya harus menjadi seorang pimpinan mading
waktu di pondok ataupun menjadi pimpinan redaksi sebuah buletin kekeluargaan
mahasiswa Lampung yang berdomisli di mesir.
Dulu ketika saya
masih di pondok, bermodalkan kemampuan menggambar yang bisa dibilang special
dibanding teman-teman yang lain, saya berani megambil amanah untuk menjadi
pimpinan mading waktu kelas 2 Madrasah ‘Aliyah, memang saat itu dunia
tulis-menulis adalah sebuah hal yang baru bagi diri saya secara pribadi,
meminta teman untuk mengisi beberapa kolom kepenulisan di mading tersebut dan
saya hanya mengerjakan bagian dekorasi dan ilustrasi adalah hal yang biasa saya
lakukan kala itu.
Namun dengan
mengenalnya dunia tulis-menulis tidak membuat saya langsung tertarik untuk
berkecimpung di dalamnya, karena waktu saya masih remaja dulu, hal yang paling
menarik minat dan bakat saya adalah kegiatan menggambar serta seni bela diri.
Dan kebiasaan buang-buang nyoret-nyoret buku ketika “Kegiatan Belajar Mengajar” berlangsung
di kelas adalah hal rutin yang mengganggu pencapaian nilai Raport saya ketika masa
remaja dulu.. hahaha.
Mau ataupun
tidak, saya harus mengakui bahwa motivasi saya untuk menulis timbul karena
pengaruh seorang teman- Rofi Uddarojat namanya, orangnya biasa-biasa saja
menurut saya, ganteng engga’,, berkharisma juga engga’, namun yang membuat saya
memberikan nilai positif padanya disebabkan oleh tindakannya yang mencerminkan
seorang pelajar yang sejati, terlepas dari nilai ideology dan faham beliau yang
sedikit liberalis.
Beliau memberikan
suatu hikmah kepada saya bahwasannya dengan menuangkan pemikiran kita dalam
sebuah tulisan, kita bisa membawa orang lain untuk berdiri bersama dalam
perjuangan yang sedang kita rintis. Saya berdo’a untuk kebaikan beliau, semoga
kita bisa bersama-sama mendapat hidayah dari Allah SWT agar kita bisa ikhlas
berjuang untuk agamaNya secara mutakamilah dan mutsyamilah- secara sempurna dan
menyeluruh, tidak sebatas dalam Aqidah dan Ibadah di masjid saja, bahkan dari
segi politik, berinterkasi sesama manusia, dan pendidikan juga harus sesuai dengan
apa yang diinginkann oleh Allah dan RasulNya, amin.
Sering kita
dengar ; “Mimpi tanpa kerja nyata adalah nol.”, bisa disebut kata-kata bijak
itulah yang menggambarkan saya kala itu. Ketika tahun terakhir saya di pondok,
tulisan saya sering terlantar. Ketika saya sudah di mesir dan dekat dengan
internet, saya malah keasikan dengan anime dan manga. Hingga sebuah jalan
takdir mengubah jalan hidup saya… ciee..
Lagi-lagi kala
itu saya diamanahkan untuk memimpin penerbitan buletin Kekeluargaan Mahasiswa
Lampung di mesir, padahal saat itu adalah tahun pertama saya masuk kuliah
Al-Azhar.
“Tahun pertama kuliah di Al-Azhar sangatlah
menentukan, jika antum Rosib (gagal) maka tahun-tahun selanjutnya akan sangat
susah untuk antum jalani dan biasanya berefek malas berkelanjutan, membawa
Madah (Mata pelajaran) juga akan memberatkan satu tahun kedepan, maka solusi
yang tepat adalah mendapatkan nilai yang bagus. Husnul bidayah wa nihayah.. “
Nasihat seorang senior-ka’
Azzam As-Sidqi, dalam sebuah pengajian.
Ketika itu saya
dilanda kebingungan, antara mengambil amanah itu atau fokus kuliah, karena yang saya tau membuat buletin
itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, harus ada rapat dewan redaksi
untuk menentukan apa isi dalam buletin itu nanti, lalu mencari penulis-penulis
di setiap kolom, juga me-report sumber berita, dan kala itu yang tidak bisa
saya temukan adalah seseorang yang bisa mengaplikasikan MS Publisher untuk
menentukan tata letak tulisan dan gambar secara professional.
Ditambah yang mau
bekerja dalam tugas ini hanya ada tiga orang.. maka ke khawatiran saya terhadap
tugas ini makin menjadi-jadi. Hingga seorang ustadz saya-Ustadz Irwanid Lc.,
menasehati saya dalam sebuah majlis.
“Amanah itu bukan untuk dikejar-kejar, namun tatkala
antum diamanahi oleh seseorang maka ambillah, jika antum membutuhkan waktu
lebih untuk menjalankan amanah itu, bukannya waktu belajar antum yang dikurangi,
namun yang dikurangi adalah waktu tidur antum.”
Alhamdulillah
satu tahun telah berlalu, seiring berjalannya waktu amanah itu terselesaikan,
dan kenyataannya memang tidak sekonyol seperti yang saya pikirkan dulu. akhirnya jumlah orang yang mau berpartisipasi
bertambah menjadi empat orang, bahkan saya begitu banyak mendapat kesempatan
untuk belajar tentang dunia desain grafis saat itu. Dan yang tak kalah penting,
saya mulai sedikit menemukan karakter kepenulisan saya ketika harus mengisi
beberapa kolom yang tidak diisi oleh penulis yang diminta.
Terselesaikannya
sebuah amanah ini rupanya hanya menjadi sebagian kebahagiaan saya saat ini.
impian untuk mendapatkan hasil yang bagus di tahun pertama saya kuliah di
Al-Azhar rupanya terwujud, Bahkan secara mengejutkan nilai saya sedikit lebih
baik dibanding sebagian teman saya yang tidak aktif di organisasi manapun. Dan kepada
Allah-lah saya mencurahkan segala rasa syukur atas dikabulkannya segala do’a
dan impian selama ini.
Kesimpulan:
Kini yang saya
sadari, menjadi seorang pribadi yang terus bergerak untuk kebaikan diri ini dan
orang-orang disekitar kita adalah sebuah proses yang tidak ternilai harganya
dan kelak akan membawa begitu banyak keberkahan. Namun tidak bisa dipungkiri,
semakin banyak kita bergerak dan semakin banyak kita menulis pasti akan menemui
kejenuhan dan jalan-jalan yang terlihat buntu.
Maka salah satu
karakter yang harus dimiliki oleh para aktifis dan penulis muda islam adalah
bertaqwa kepada Allah SWT.
karena Allah SWT sudah memastikan jalan keluar dari begitu banyak kesusahan
hanya dengan bertaqwa kepadaNya.
قال تعالى : و من يتق الله يجعلّه مخرج و يرزقه من حيث لا
يحتسب
Maka langkah saya
mengikuti tes seleksi perekrutan kader dan sekolah menulis SINAI adalah langkah
saya yang selanjutnya untuk terus memupuk kemampuan saya dalam dunia
kepenulisan, serta menjadi sebuah pribadi yang lebih bermanfaat bagi diri
sendiri dan orang lain dengan
tulisan-tulisan saya. Apalagi saya sadar bahwa saya sangat minim pengetahuan
tentang dunia tulis-menulis saat ikut seminar perekrutan kader SINAI.
Dan satu hal lagi
yang sangat saya syukuri, merespon saran dari Ustadz Muhammad Jamaluddin ketika
seminar dalam acara tersebut, bahwasannya jika kita ingin memasuki sebuah
organisasi, hal yang mesti kita lihat dulu dari organisasi tersebut adalah
ideolodi, visi, serta misi mereka, apakah ideologinya bertentangan dengan
ideology kita atau tidak?. karena dalam sebuah organisasi kita harus bisa
menjadi diri kita sendiri tanpa harus bertentangan dengan ideology organisasi
tersebut.
Dan saya melihat
bahwasannya lembaga Kajian Alam Islami ini adalah sebuah komunitas yang tepat
untuk menempa diri saya kedepan. “Bersama Islam menuju masa depan gemilang..!!”
Dan saya meminta
bantuan do’a dari rekan-rekan yang membaca tulisan ini agar saya bisa lolos
seleksi dan menjadi kru tetap kajian SINAI, yang dimana saat ini saya masih
mengikuti tes seleksi dalam acara “Sekolah Menulis SINAI”.
Terima kasih dan
semoga bermanfaat.. Hhe.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar