My Movements Trip.

Senin, 15 Agustus 2016

Jawaban yang Selalu Sama

Kawan, kemarin aku bertanya padanya, dan lagi-lagi ia menjawab dengan cara yang selalu sama sejak pertama kali bertemu.

"Adakah yang mereka suka? Inikah? Itukah?"

"Ada. Yang ga ngerepotin yang ga nyusahin." Jawabnya singkat.

Seketika aku terdiam. Lama tak kutimpali. Kenangan singkat menyesaki kepala, dia tidak seperti kawan-kawan seusianya. Akan sangat wajar jika ia akan berkata hal-hal aneh. Namun tidak, ia tetap menjadi seseorang yang kukenal selama ini.

Namun entah kenapa, sikap santainya itu
membuatku sebal.

Dalam artian, rasa sebal itu menjadi alasan
aku ingin menjadi temannya.


***

teman yang pengertian itu harus dijaga,
Bukan begitu?


Kairo,
Senin, 15 Agustus 2016.

Minggu, 14 Agustus 2016

Usaha Adalah yang Utama

Kakak pembimbingku pagi ini mengirim pesan. Rentetan kalimat tanggapan dari seorang ibu wanita yang sedang kuperjuangkan.

Saat kubaca, bulu kudukku serentak berdiri.
Jantung berdegup kencang.
Nafas tertahan.
Rasa takut, pesimis, & cemas menyesaki dada.

Namun bibirku merekah, tersenyum.
dan berkata,

"Setidaknya, aku mulai menikmati hidup ini."


***

Kairo,
Minggu, 14 Agustus 2016.

"Selama kita berusaha,
Apapun hasilnya,  pasti itu yang terbaik."

~sekaligus mengenang,
Tiga tahun pembantaian Rab'ah~

Jumat, 12 Agustus 2016

Jakarta dan Desember

Sejak jum'at pagi ini, kedua kata darinya terus berputar-putar di kepalaku. Jakarta dan Desember. Jakarta dan Desember. Jakarta dan Desember.

Ah, pulang.
Aku harus segera terbang ke Indonesia.

Belajar menghadapi Ibu Kota, dan
berusaha membunuh waktu yg tak sebentar itu.

***

Kairo
Jum'at, 12 Agustus 2016


Selasa, 09 Agustus 2016

Jawaban Hidup

Kawan, malam ini aku mendapatkan jawaban darinya.

***

Tadi bertemu dengan seorang kakak pembimbing. Rencana awal ingin menitipkan piagam dan sebuah pesan. Berubah menjadi obrolan panjang. Dan pada waktu yang sama digunakan untuk menentukan waktu dan tempat sebuah pertemuan.

Seketika hati berdebar, mata terbelalak. deg. Sedikit grogi, deg, aku bertanya meyakinkan, "Artinya.. sudah.. hampir.. diterima.. ?" Bibirku bergetar.

kuulangi pertanyaan yang sama.
Sudah hampir diterima?

kulihat raut wajah kakak ku tersebut. Santai. Meyakinkan.

"Alhamdulillah." Ucapku cepat dan diiringi dengan senyum kuda.

***

Awalnya kupikir akan menunggu jawaban ini berbulan-bulan lama. Namun Tuhan begitu berbaik hati pada hambanya.

Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah. 

***

Langsung berjuang untuk proses selanjutnya.
Semangat, Abduh!



Kairo,
Selasa, 9 Agustus 2016









Sabtu, 06 Agustus 2016

Betah, dan Tidak Mau Pulang.

Waktu itu sempat mau ikut rihlah ke "Hurgada" bareng Syathibi.

Tapi karena suatu alasan, akhirnya ga ikut.

Tebak, siapa yang nyesel ga jadi berangkat?
Hhaha

Jum'at, 5 Agustus 2016

***

Btw, sabtu pagi ini, 6 Agustus, saya ng'baca tulisan adik kelas yang ikut rihlah. Dan, oh, kata-katanya cukup menyebalkan.

Dia bilang betah lama-lama tinggal di hotel, dan ga' mau pulang. 

Sambil tersenyum kecut, aku teringat rihlah ke Hurgada bareng Almamater Islah satu tahun lalu. Aku sangat setuju dengan kata-kata adik ku tersebut. Dan karena hal yang sama aku jadi jengkel.

Apalagi kalau bukan tentang langit dan lautan biru. Sengatan mentari yang menyengat di musim panas, diikuti dengan hembusan angin segar. Tak ketinggalan, suara desingan ombak dan udara segar pantai.

Dan jika kau lelah, kasur empuk dan Air Conditioner yang dingin menusuk sudah menunggu di kamar Hotel. Lalu tidur sambil selimutan.


Ayolah, kamu setuju kan kalau adik kelas ku itu benar-benar menyebalkan?







Kamis, 04 Agustus 2016

P U L A N G

Enam Kardus Buku



Kardus buku yang akan dikirim ke Indonesia berjumlah Enam kotak. Harga pengiriman Kargo Al Kiram untuk pulau Jawa sebanyak 28 US Dolar setiap satuannya. Ke Sumatra, 55  US Dolar.

Lalu saya bingung. Lebih baik dikirim ke Lampung atau rumah kawan yang ada di Jakarta?

Namun dalam beberapa waktu ini saya masih menunggu. Entah kenapa saya harus menunggu untuk memastikan kardus-kardus buku itu akan dikirim ke mana. Ya, saya menunggu sebuah pertemuan. Hanya Feeling.

Tapi toh, tak ada salahnya menunggu sebentar.
Lalu setelah semua urusan dokumen selesai.
Kardus buku kita kirimkan.
Barulah beli tiket pulang.

Kawan-kawan sering menyebut dengan kata,

"'Ala thuul"

Lurus terus kedepan,
dan tidak berputar ke belakang.

Pergi dan tak kembali lagi.

***

hei, aku masih menunggu sebuah jawaban.
Tapi tak apa. Jika tidak di Mesir,
mungkin di Indonesia.
Atau di tempat lain yang aku pun tak tau di mana.

"Berbulan-bulan pun akan kutunggu."

Tapi setidaknya, jasad ini akan berpindah ke Indonesia.
InsyaAllah. Segera.