My Movements Trip.
Selasa, 03 Juni 2014
Senin, 02 Juni 2014
Minggu, 01 Juni 2014
Pemahaman itu Seperti Cinta
"Pemahaman itu seperti cinta,
tidak bisa dipaksakan."
-Fiki
Begitulah kawanku berkomentar ditengah diskusi membahas madah Ushul Fiqh yang saat itu akan segera diujikan, kami semua tersenyum dan tertawa oleh celetukannya yang ringan.
Lalu,
Ushul Fiqh selesai.
Bersyukur, meski pahit rasanya tidak bisa menjawab dengan baik, setidaknya usaha sudah maksimal, ya maksimal dalam kategori orang malas seperti saya sih.
Berbicara tentang rasa malas, saya pun punya alasan untuk menjadi orang malas, setidaknya agar orang rajin terus eksis di dunia ini. Bisa kalian bayangkan kalau di dunia ini tidak ada orang malas seperti saya?
Begitu pula tentang cinta, orang malas seperti saya hanya bisa berandai tanpa berusaha, tentu jika usaha dalam meraih cinta diartikan dengan seperti ini; berjalan ke rumah calon mertua - lalu bertanya, "Boleh saya melamar anak bapak."
Tapi memang nasib bujang berkepala-dua, yang ada juga malah senior yang bertanya,
"Kapan nikah broh?"
"Gimana? calonnya masih mau nunggu ngga'?" dan yang lebih horor.
"Ngga' takut calonnya direbut orang?"
Namun kecerdasan memang sengaja Tuhan anugrahkan kepada saya, hidup dibelakang para pendahulu yang selalu diam ketika ditanya soal nikah, akhirnya saya tumbuh menjadi seorang lelaki yang jago berkilah,
"Dua tahun lagi, InsyaAllah."
Fiki, nama kawanku yang mengatakan "Pemahaman itu seperti cinta" memang bukan seorang yang sembarangan. Diantara kita yang masih bujang, beliau adalah sesosok laki-laki gagah yang sudah siap menikah, proposalnya pun sudah diterima oleh pihak sebelah.
Setidaknya materi Ushul Fiqh yang sedang kami pelajari makin menguatkan kata-kata Fiki, 'Adalatur Rawi adalah syarat mutlak dalam penyampaian Khabarul Wahidi.
'Adalatur Rawi adalah sifat yang mencerminkan keadilan dari seorang Rawi (penyampai berita), dan sebagian besar ulama berpendapat...........bla.bla..bla..
Intinya, berita yang disampaikan Fiki bisa kita terima, dan setidaknya secara kaidah Mafhum Mukholafah; kita mengetahui bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan seperti memahami pelajaran Ushul fiqh. (apalagi mencoba paham saat satu jam sebelum ujian dimulai)
Jadi, kamu yang duduk disana, tenang aja ya..
Darrasah, 6 Juni 2014.
Jumat, 30 Mei 2014
Catatan Sore, H-2 Ujian Ushul Fiqh.
Ajaib, ternyata waktu senggang telah melalaikanku. Sepuluh hari jeda waktu yang kami miliki mulai 22 Mei hingga 31 Mei; tidak dapat digunakan dengan semaksimal mungkin.
Waktu libur panjang yang kami dapati ini; disebabkan Pemilu Presiden yang sedang berlangsung di Mesir pada tanggal 25 dan 26 Mei. Hal ini memang memberikan waktu lebih untuk mempersiapkan pemahaman yang masih berantakan, lantaran kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung pada fase musim panas ini terhitung sangat sedikit, dan terlalu terburu-buru. Namun alhamdulillah, hal itu tidak menyurutkan semangat para penuntut ilmu.
Jangan khawatir kawan, keadaan yang tidak tenang pasca kudeta yang dilanjutkan pencalonan si komandan kejam tak terlalu mengganggu rutinitas belajar kami. Setidaknya kesadaran kami akan kondisi Mesir yang memang tidak stabil membuat kami lebih tangkas menyusun tugas.
Saya yang notaben-nya belum pernah merasakan kondisi perkuliyahan di Indonesia, tidak bisa membandingkan perbedaan apa saja yang membuat tempat saya berkuliyah di Mesir ini terlihat keren di mata para pembaca, begitupula persamaan-persamaan yang mungkin bisa kita bahas untuk perbandingan dengan kalian.
Tapi setidaknya, musim panas yang sudah memasuki panas setinggi 40 derajat memaksa kami lebih sering memeluh keringat. meski harus berhadapan dengan soal-soal ujian super ketat, tapi kami diberi kelebihan waktu siang yang juga super panjang. meski tak ayal, waktu pagi yang sejuk sering menggoda kami untuk lebih sering terlentang di atas kasur bertumpuk.
Ujian kali ini insyaAllah akan terus berlangsung sampai 8 Juni, lalu dilanjutkan Ujian Lisan yang masih belum dipastikan waktunya.
Oia kawan, jangan sungkan-sungkan untuk memberi dukungan kepada kami ya, meski terkadang banyak mainnya, tidurnya, candanya. InsyaAllah tetap, kami akan terus berusaha untuk menjadi pemikul beban masa depan bangsa. Maka do'a kalian adalah sesuap harapan yang akan melangsungkan semangat kami untuk bisa cepat selesai di bangku perkuliahan ini.
Dan juga, Indonesia di ujung peralihan kepemimpinan.
Kami mohon pilihlah pemimpin yang baik, jujur, dan amanah, yang memiliki ketegasan dan kekuatan untuk membangun Indonesia kedepan. Dia yang tidak mengekor kepada pihak asing, apalagi menjadi boneka untuk melanjutkan permainan mereka.
Karena kami tidak ingin pulang hanya untuk dihinakan sebagaimana yang terjadi di Negeri tempat kami sedang menuai ilmu agama ini.
Kalaupun kalian memilih bukan untuk kami, setidaknya pilihlah demi orang-orang yang kalian cintai, yang sedang kalian cintai saat ini, atau di saat yang akan datang nanti.
Oh iya, saya lagi persiapan ujian, pamit dulu ya kawan!
Saya sih pilih Pak Prabowo, kalo kamu?
Sore di Darrasah, 30 Mei 2014.
Minggu, 11 Mei 2014
(Aku Kira) Ini Salahmu
Aku kira, aku bisa saja melupakanmu..
namun tidak begitu, jika langit tetap saja biru,
atau jika diri ini tidak juga berhenti menggerutu,
aku kira semua ini salahmu.
ya, tak mungkin aku terus menyalahkan langit kan?
meski dalam naungannya ia terus menampakkan sileut wajahmu,
meski dalam pendar cahayanya ia mengingatkan kehangatan tawamu.
terkadang gerutu ku, juga ku arahkan kepada sang rembulan,
"payah, tak bisakah kau berhenti tersenyum mengejekku"
atau kepada desahan angin yang sering menerobos jendela kamarku,
"Oh.. berhenti kau sebut nama itu."
Jujur, ingin saja ku lupakan namamu,
hingga akhirnya suatu waktu aku duduk di hadapan ayahmu
mengucapkan lafadz, "Qobiltu"
tapi aaahhh...
lagi-lagi gerutu ku ingin kusampaikan kepada sang waktu,
"Kelamaan, kapan kau akan menghampiriku?"
--- Namun ku urungkan niatku, takut dijawab oleh sang waktu,
"Emang isi dompet lo berapa?"
Hussain, 5.11.14
namun tidak begitu, jika langit tetap saja biru,
atau jika diri ini tidak juga berhenti menggerutu,
aku kira semua ini salahmu.
ya, tak mungkin aku terus menyalahkan langit kan?
meski dalam naungannya ia terus menampakkan sileut wajahmu,
meski dalam pendar cahayanya ia mengingatkan kehangatan tawamu.
terkadang gerutu ku, juga ku arahkan kepada sang rembulan,
"payah, tak bisakah kau berhenti tersenyum mengejekku"
atau kepada desahan angin yang sering menerobos jendela kamarku,
"Oh.. berhenti kau sebut nama itu."
Jujur, ingin saja ku lupakan namamu,
hingga akhirnya suatu waktu aku duduk di hadapan ayahmu
mengucapkan lafadz, "Qobiltu"
tapi aaahhh...
lagi-lagi gerutu ku ingin kusampaikan kepada sang waktu,
"Kelamaan, kapan kau akan menghampiriku?"
--- Namun ku urungkan niatku, takut dijawab oleh sang waktu,
"Emang isi dompet lo berapa?"
Hussain, 5.11.14
Sabtu, 19 April 2014
Masih terbuka: Momentum untuk Merebut Kemenangan!
GebleeeK*!! Setelah sadar kondisi negara tempat belajar saya lagi ngga' aman, Sadar kemampuan belajar masih awut-awutan, sadar standar belajar ngga' bisa dipaksakan, sadar jika kesibukan bisa terpinggirkan hanya karena sebuah ajakan untuk bersenang-senang, SADAR SEBENTAR LAGI UJIAN AKAN DILANGSUNGKAN.
Akhirnya setelah kesadaran itu muncul, lalu diiringi dengan komitmen untuk fokus kepada tujuan yang utama,
"Akhirnya saya optimis, saya bisa melewati ujian tahun ini dengan senyum."
Karena apapun hasilnya, kelak tak kan ada kesombongan setelah kemenangan, dan tak ada jua kesedihan meski dihantam badai kekalahan.
Karena semua perhatian sudah difokuskan, manjemen waktu telah dimaksimalkan, kerja sama telah dilakukan, tugas telah sama-sama dibagi kepada tiap perorangan, bantuan pun telah datang.
Maka tak ada waktu untuk menyerah sebelum pertandingan, karena hari-hari pertempuran masih panjang. masih ada momentum untuk merebut kemenangan.!!!
OPTIMIS UNTUK TINGKAT EMPAT DI TAHUN AJARAN YANG AKAN DATANG!
Darrasah, 20 April 2014.
-----
*GebleeeK: Kalimta yang biasa kuucapkan ketika takjub. :D
Jumat, 11 April 2014
Tantangan Demokrasi
Tantangan yang kita hadapi dalam sistem Demokrasi ini adalah; tantangan untuk mencerdaskan seluruh elemen masyarakat Indonesia secara menyeluruh.
Pemeran dan aktor-aktor yang kapabel untuk terjun menghadapi tantangan ini haruslah memiliki sifat-sifat yang juga dimiliki oleh para da'i, langkah-langkahnya pun sama sebagaimana yang dilakukan oleh para Juru Dakwah.
Mereka disebut sebagai "Agen Perubahan", karena mereka menuntun masyarakat disekitar mereka dari kejahiliyahan (ketidak-tahuan) menuju Nur Islam (cahaya Islam) yang sering diibaratkan dengan pengetahuan.
Dan yang diharapkan dari pengetahuan tersebut; kita yang tadinya bergerak dalam sekala kelompok-kelompok kecil maupun individu, berubah menjadi gerakan yang bergerak dalam skala peradaban dan bangsa.
Itulah tantangan yang kita hadapi pada saat ini, pada generasi kita sekarang. Karena pada setiap generasi memiliki tantangan mereka sendiri-sendiri, dan memiliki agen perubahan mereka masing-masing.
Dan kata Anis: "Jangan Menanti, kita semua adalah pahlawan!."
Langganan:
Postingan (Atom)





